Chapter 001: Awal dari mimpi buruk
Matahari nyaris tak menyentuh sudut kota ini. Bangku taman berkarat itu berderit pelan, menahan tubuh kurus Sunny. Jemarinya menggenggam secangkir kopi—bukan cairan sintetis yang biasa ia teguk di lorong-lorong kumuh. Ini kopi asli. Mahal. Hampir seluruh tabungannya ludes.
Tapi hari ini, ia memutuskan untuk memanjakan diri.
Hidupnya tinggal menghitung jam.
Ia menyesap pelan. Wajahnya langsung mengerut.
“Pahit. Kenapa semahal ini rasanya begini?” gumamnya, menatap cangkir dengan kecewa.
Hangatnya tetap ia nikmati. Aroma tanah dan biji-bijian asing memenuhi hidung. Seteguk lagi. Lidahnya kembali memberontak. Tapi ia tetap meneguknya sampai habis.
“Seenggaknya aku bisa melek. Buang-buang duit saja.”
Pandangannya mengabur. Rasa kantuk menekan dari belakang mata. Ditamparnya pipi sendiri. Keras. Cukup untuk membuat seorang pejalan kaki menoleh aneh. Sunny meringis, lalu melempar cangkir kosong ke tong sampah.
Meleset.
Cangkir itu menggelinding di trotoar. Sunny mendengus. Dengan langkah gontai, ia memungutnya dan membuangnya benar. Kemudian menyeberang jalan.
Kantor polisi berbau logam dan keringat. Seorang petugas di balik meja menatapnya dengan jijik tak disembunyikan.
“Tersesat, bocah?” suara itu datar, nyaris menghina.
Sunny malah sibuk mengamati senapan otomatis yang menggantung nyaris tak terlihat di langit-langit. Baru kemudian ia menoleh.
“Tidak. Saya ke sini… menyerahkan diri.”
Alis petugas itu terangkat. “Menyerahkan diri?”
Sunny menggaruk tengkuk. “Arahan Khusus Ketiga. Saya pembawa Nightmare Spell.”
Sekejap, wajah petugas itu memucat. Tangannya menekan tombol di terminal. “Kode Hitam di lobi! Kode Hitam!”
---
Beberapa dekade lalu, Spell muncul tanpa aba-aba. Dunia belum selesai menjilat luka perang sumber daya. Lalu jutaan orang mengeluh lelah dan kantuk. Pemerintah baru panik saat mereka tak bangun lagi.
Mayat-mayat berubah menjadi monster. Pasukan militer runtuh semalam. Kekacauan melahap segalanya.
Tak ada yang mengerti Spell. Kecuali, mereka yang selamat melewati ujian pertamanya. Mereka disebut Awakened. Mereka membangun kembali tatanan semu.
Tapi bagi Sunny, semua itu hanya cerita di layar. Sampai seminggu lalu, saat matanya mulai berat menahan tidur.
Di balik borgol yang menjepit pergelangan tangannya, Sunny dibawa ke ruang bawah tanah. Kursi logam mencekik tubuhnya. Seperti ranjang penyiksaan. Dinding baja tebal, pintu mirip brankas raksasa. Beberapa polisi berdiri sejajar, menggenggam senapan erat.
Sunny hanya ingin tidur. Kelopak matanya seperti diisi timah.
Pintu brankas terbuka. Seorang polisi berambut abu-abu melangkah masuk. Keriput di wajahnya menceritakan terlalu banyak kengerian. Ia memeriksa ikatan Sunny, lalu menatap arloji.
“Nama?”
“Sunless.”
“Sunless? Nama yang aneh.”
Sunny ingin mengangkat bahu, tapi tubuhnya tak bergerak. “Lahir saat gerhana. Ibuku suka puisi.”
Polisi itu mendengus. “Mau kuhubungi keluarga?”
“Tak ada yang tersisa.”
Hening sejenak. Sorot mata polisi itu berubah suram, lalu kembali tajam. “Berapa lama kau bisa menahan kantuk?”
“Tidak lama.”
“Baik. Kita tak punya banyak waktu. Dengarkan aku.”
Sunny mengangguk pelan.
“Begitu kau tertidur, kau akan dipindahkan. Nightmare Pertamamu. Ujian yang dibuat Spell. Di sana, kau akan bertemu monster. Dan juga manusia. Tapi ingat—mereka bukan orang sungguhan. Ilusi. Jangan ragu.”
“Bagaimana kau yakin mereka ilusi?” tanya Sunny, suaranya mulai parau.
“Karena kau mungkin harus membunuh mereka.”
“Ah.”
Polisi tua itu melanjutkan. “Keberuntungan sangat menentukan di Nightmare Pertama. Seharusnya ujian ini tidak mustahil. Situasi, alat, makhluk yang harus kau kalahkan… biasanya masih dalam batas wajar. Tapi kau… yah, kau kurang beruntung soal fisik.”
Sunny nyaris tersenyum pahit.
“Tapi anak-anak pinggiran itu tangguh. Jangan menyerah dulu.”
Ruangan mulai berputar. Suara polisi terdengar seperti dari ujung terowongan.
“Begitu masuk, cek Atribut dan Aspekmu. Kalau kau dapat Aspek tempur—Swordsman, Archer—hidupmu lebih mudah. Jika tidak, jangan panik. Semua Aspek punya guna. Hanya sedikit yang benar-benar tak berguna.”
Sunny berjuang membuka mata. Bayangan polisi itu bergoyang.
“Bertahanlah. Kalau kau hidup, kau setengah jalan jadi Awakened. Kalau kau mati… pintu gerbang makhluk itu terbuka. Kami yang harus menghadapinya. Jadi… jangan mati, Sunless.”
Nada suara itu terdengar jujur. Sunless nyaris tersentuh.
“Atau setidaknya jangan mati terlalu cepat. Awakened terdekat baru tiba dalam beberapa jam. Kami tidak ingin bertarung sendiri.”
Sunny ingin tertawa. Tapi kelopak matanya sudah menutup.
Gelap.
Dalam keheningan, sebuah suara berbisik—asing dan dekat sekaligus.
“Aspirant! Selamat datang dalam Nightmare Spell. Bersiaplah untuk Ujian Pertamamu…”