Chapter 009: Harapan yang Tak Realistis
Jalannya hilang.
Sunny berdiri di bibir jurang, memandang ke bawah. Tidak ada apa-apa. Hanya udara kosong dan sisa-sisa batu yang runtuh entah kapan—mungkin berbulan lalu, mungkin kemarin. Longsoran itu memakan seluruh bagian jalan, menyisakan tepian sempit yang bahkan seekor kambing pun akan menolak melewatinya.
Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa.
“Sekarang gimana?”
Suara Cendekiawan teredam kerah mantel. Budak Licik di belakangnya menggeram, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya mendarat di Sunny.
“Gue tau apa yang harus kita lakuin!”
Dia menuding sepatu kulit Sunny. Bagus. Bersih. Bukan milik budak.
“Buang beban mati itu.”
Kepalanya menoleh ke Pahlawan. “Tuanku, anak ini cuma lemah. Ngelambatin kita doang. Dan dia… ada yang aneh.” Suaranya turun. “Nggak bikin bulu kuduk lo berdiri?”
Pahlawan mengerutkan kening.
Budak Licik belum selesai.
“Tuh liat. Liat cara dia natap gue. Gue bersumpah, sejak dia ikut karavan, semuanya hancur. Mungkin si kakek bener—anak ini kena kutuk Dewa Bayangan.”
Sunny menahan matanya biar nggak muter. Dia sial, iya. Tapi urutannya terbalik. Bukan kehadirannya yang bikin karavan binasa—karavan ini udah ditakdirkan binasa makanya dia nyangkut di sini.
Cendekiawan berdeham. “Tapi aku nggak—”
“Peduli amat!” Budak Licik melangkah setengah ke depan. “Mendingan kita buang dia sekarang. Lagian dia juga nggak bakal tahan lama.”
Sunny menangkap sesuatu di mata Cendekiawan. Dingin. Matang. Seperti menghitung sesuatu.
Lalu lelaki tua itu menggeleng.
“Jangan buru-buru, temanku. Bocah ini mungkin masih berguna.”
“Tapi—”
“Kita nggak bakal ninggalin siapa pun.”
Suara Pahlawan datar, tapi memotong seperti kapak. Matanya tidak menatap Budak Licik, tapi menusuk ke titik di antara alisnya. “Soal berapa lama dia tahan—mikir aja soal diri lo sendiri.”
Rahang Budak Licik mengeras. Tangannya melambai, membatalkan argumen.
“Terserah. Terus sekarang?”
Mereka memandang lagi ke jalan yang tinggal serpihan. Menuruni lereng? Bunuh diri. Tebing yang terbelah longsoran? Mungkin ada cara.
Cendekiawan mendongak.
“Dulu ada jalur peziarah. Ke puncak. Pihak Imperial memperlebar sebagian, bikin jalan yang layak—tapi itu sebelum jalannya dibelokin ke celah, bukan ke puncak.”
Jarinya menunjuk ke atas.
“Sisa jalur lama masih ada. Kalau kita bisa nyampe sana…”
Sunny mengikuti arah jarinya. Tebing curam, batu lepas, kemiringan yang bikin lutut ngilu duluan.
Budak Licik angkat suara duluan. “Manjat itu?! Lo gila?!”
Cendekiawan mengangkat bahu. “Ada ide lebih baik?”
Tidak ada jawaban.
Mereka mulai mendaki.
Sunny menatap pedang pendek di pinggangnya. Lima detik. Lalu dia lepaskan. Bilah besi itu tergeletak di antara batu.
Setiap gram bakal terasa sekilo nanti. Dia yang paling lemah di sini.
Setengah jam pertama sudah cukup untuk membuktikan dia benar.
Ototnya menjerit. Paru-parunya terasa seperti balon yang dipompa terlalu penuh, siap meledak. Udara makin tipis, makin dingin, menusuk setiap kali dia buka mulut. Rahangnya mengatup. Kakinya meraba-raba pijakan di lereng yang rapuh—batu lepas bergeser di bawah sol sepatunya, jatuh, lalu bunyi.
Sunny memaksa otaknya mencari tempat lain. Pikirkan sesuatu yang menyenangkan.
Apa?
Otaknya malah lari ke Anugerah.
Hadiah dari Nightmare Pertama. Satu-satunya alasan kenapa Awakened nekat masuk ke mimpi neraka. Ujian sesudahnya bisa nambah kekuatan, tapi ujian pertama ini yang nentuin semuanya. Peran. Potensi. Harga yang harus dibayar.
Dan alat.
Sunny memindahkan berat badannya ke pijakan berikutnya, mendengar batu kecil menggelinding ke bawah.
Manfaat pertama: kemampuan melihat dan berinteraksi dengan Inti Jiwa. Fondasi peringkat. Fondasi kekuatan. Makhluk mimpi bisa punya lebih dari satu—si Raja Gunung itu punya lima. Manusia cuma satu. Satu-satunya cara buat naik adalah makan Pecahan Jiwa dari mayat.
Makanya orang rela mati buat berburu makhluk kuat.
Tangannya mencengkeram batu. Jarinya mulai mati rasa.
Manfaat kedua: akses ke Dunia Mimpi. Setelah lulus ujian, dia bakal jadi Dreamer. Sleeper. Titik balik matahari musim dingin pertama setelah lulus, dia masuk. Dan nggak bisa keluar sampai nemu jalan sendiri. Baru bisa disebut Awakened penuh.
Waktu antara lulus dan masuk: satu bulan.
Satu bulan buat berlatih.
Sunny tahu itu termasuk yang paling buruk.
Satu kaki lagi.
Lalu ada manfaat terakhir. Satu yang bikin Awakened bukan cuma manusia biasa.
Kemampuan Aspek.
Sihir. Kekuatan. Apa pun sebutannya—unik, beragam, kadang nggak bisa diklasifikasi. Ada yang buat bertarung, ada yang utilitas, ada yang…
Nggak kebayang.
Tapi setiap Kemampuan datang dengan Kecacatan. Penyeimbang. Ada yang cuma bikin repot, ada yang bikin lumpuh. Beberapa mematikan.
Sunny mendaki lagi. Tangannya gemetar.
Budak kuil macam aku… bakal dapet apa?
Harapannya tipis. Soal Kecacatan, pilihannya malah nyaris nggak terbatas. Dia cuma berharap Aspek-nya berevolusi di akhir kekacauan ini. Atau lebih baik lagi—
Berubah total.
Kalau performanya cukup gila, Aspek bisa naik peringkat duluan. Peringkat terendah: Dormant. Lalu Awakened, Ascended, Transcendent, Supreme, Sacred, dan Divine—yang terakhir ini cuma mitos. Belum ada yang pernah liat.
Dengan semua siksaan yang udah gue alamin, Spell—kalau lo punya nurani—harusnya kasih gue minimal Awakened.
Atau Ascended.
Sunny nyengir getir di antara napas yang tersengal.
Terus ada Nama Sejati. Gelar dari Spell buat favoritnya. Nggak ngasih kekuatan, cuma pengakuan. Tapi hampir semua Awakened legendaris punya satu. Jumlah yang dapet pas Nightmare Pertama? Bisa diitung jari.
Siapa peduli keunggulan. Gue butuh kekuatan.
Dia berhenti sejenak. Batu di bawah kakinya bergeser, lalu berhenti.
Kenapa dia malah mikirin ini? Harapan kosong cuma bikin tambah murka.
Apa gue alergi mimpi?
Ironi yang lucu—mengingat dia akan menghabiskan separuh sisa hidupnya di Dunia Mimpi. Kalau dia bisa sampe sana.
Suara batu menggelinding lagi.
Sunny mendongak. Matahari ternyata udah geser jauh ke barat. Langit berubah warna. Udara menggigit lebih dalam.
Setidaknya lamunan ini ngebantu gue lewat waktu.
Malam semakin dekat, dan mereka masih di lereng yang sama.