Chapter 007: Tiga Budak dan Seorang Pahlawan
Tubuhnya menghantam tanah.
Lutut lebih dulu. Batu-batu kecil menusuk kulit, tapi itu bukan apa-apa. Sunny merasakan getaran hebat menjalar dari roda gerobak yang sudah setengah menggantung di udara. Suara gesekan kayu dengan batu memekik panjang, lalu berhenti.
Gerobak itu terombang-ambing di bibir jurang, bertumpu hanya pada poros tengahnya.
Sunny mendorong lagi. Bahunya menempel ke papan kayu yang kasar dan dingin, sepatu usangnya mencari cengkeraman di tanah berbatu. Empat lembu mati tergeletak di suatu tempat di belakang sana. Tinggal dia. Tinggal dia dan dua orang lain yang sekarang terlempar dari posisi mereka.
Sedikit lagi.
Ada suara di belakangnya. Suara cakar raksasa yang mencoba meraih sesuatu, menggeram frustrasi.
Sunny tidak menoleh. Dia menghantamkan seluruh berat badannya ke depan.
Keseimbangan itu runtuh.
Gerobak meluncur, bergesekan dengan batu-batu tajam dalam jeritan yang memekakkan telinga. Sunny terjatuh ke depan, lututnya menghantam tanah lagi, tepat saat kayu-kayu gerobak menghilang ke dalam kegelapan jurang. Rantai yang terpasang di ujungnya menegang—sekali hentakan keras—lalu tubuh sang tiran terangkat dari tanah.
Raja Gunung melayang sejenak.
Kelima matanya yang pucat dan mati itu bahkan tidak sempat menunjukkan ekspresi. Satu kibasan, dan monster sebesar itu terhisap ke dalam jurang. Tanpa suara.
Sunny menyeringai. “Mampus lu, bangke.”
Lalu dia ambruk.
Dingin bebatuan merambat ke pipinya. Langit malam membentang di atas sana, bertabur bintang-bintang yang sama sekali tidak peduli. Dia menunggu. Seharusnya ada suara sekarang—semacam pengumuman, semacam bisikan asing yang entah kenapa terasa familier. Kemenangan. Ujian selesai.
Tidak ada apa-apa.
Yang datang malah rasa sakit. Bukan satu, tapi banyak. Bergelombang. Menuntut.
Sunny mengerang. Kulit punggungnya terasa seperti disiram air mendidih. Cambuk para penjagal, duri tulang larva yang baru menetas—semuanya bersatu dalam nyanyian perih yang membuatnya ingin muntah. Dingin mulai menjalari tulang-tulangnya, dan dia menggigil.
Belum selesai.
Pikirannya berat, bergerak lambat seperti lumpur. Apa lagi?
Sebuah bayangan menghalangi pandangannya ke bintang-bintang. Sosok tinggi dengan zirah yang penuh debu dan goresan. Pahlawan itu menatap ke bawah, tampak tenang. Selalu tampan. Selalu rapi, meskipun baru saja bertarung melawan monster yang hampir membunuh mereka semua.
Tangan terulur.
“Berdiri. Kau akan mati beku.”
Sunny mendengus tanpa suara. Tangannya sendiri yang mendorong tubuhnya bangkit. Satu gerakan pelan, otot-otot menjerit, gigi mengerat. Dia tidak menyentuh tangan itu. Tidak ada gunanya mulai bergantung sekarang.
Dia berdiri dan melihat sekeliling.
Api unggun masih menyala di kejauhan, bayangannya menari-nari di atas batu-batu. Tapi di antara cahaya itu dan tempat dia berdiri, terbentang ladang pembantaian. Mayat-mayat bertebaran. Remuk. Tercabik. Bangkai larva berceceran, bentuknya masih menjijikkan bahkan dalam kematian. Semua anggota karavan—semuanya—sudah tidak bernyawa.
Tinggal mereka berempat.
Cendekiawan dan Budak Licik sudah berdiri. Mereka menatap Pahlawan dengan kewaspadaan yang dalam. Belenggu sudah terbuka, tapi fakta dasarnya tidak berubah. Mereka budak. Dia penjaga mereka.
Pahlawan menghela napas. “Mendekat ke api, kalian semua. Kita harus menghangatkan diri dan membicarakan langkah berikutnya.”
Dia berbalik tanpa menunggu jawaban. Langkahnya mantap, tapi tidak mengancam. Budak Licik melirik ke arah Cendekiawan. Ragu. Akhirnya mereka mengikuti.
Sunny berjalan paling belakang. Bukan karena dia lebih percaya atau lebih tidak percaya. Dia hanya tidak suka dekat-dekat dengan orang.
Mereka duduk melingkari api unggun.
Cendekiawan dan Budak Licik duduk berdekatan, menjaga jarak dari Pahlawan. Posisi yang masuk akal. Sunny memilih tempat yang terpisah dari semuanya. Api terasa hangat di wajahnya, dan untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.
Sunny menatap bara yang bergulung-gulung di dalam nyala. Pikirannya melayang ke tempat yang selalu dia hindari.
Dia tumbuh sebagai orang asing. Bukan karena tidak mencoba. Dia sudah mencoba. Berkali-kali. Tapi selalu ada sesuatu yang tidak tersambung—seperti sebuah roda gigi kecil dalam otaknya yang hilang, sesuatu yang dimiliki semua orang lain, dan tanpanya, semua interaksi berubah menjadi sandiwara aneh yang dia tidak pernah bisa mainkan dengan benar.
Dia menirukan. Dia belajar. Tidak pernah berhasil.
Keanehan itu tercium. Orang-orang merasakannya, dan manusia membenci apa pun yang berbeda.
Jadi Sunny belajar menjauh.
Itu keterampilan yang berguna. Kemandirian. Kemampuan membaca niat dari kejauhan, mengenali senyum manis yang menyembunyikan pisau. Ini sudah menyelamatkannya lebih dari sekali.
Dia tidak senang sekarang harus berbagi sisa Nightmare ini dengan tiga orang asing.
“Begitu matahari terbit...”
Suara Pahlawan memecah keheningan. Semua menoleh.
“...kita akan mengumpulkan makanan dan air sebanyak mungkin, lalu turun kembali dari gunung ini.”
Budak Licik menyipitkan mata. “Kenapa kita harus kembali? Supaya dirantai lagi seperti tadi?”
“Kita bisa berpisah setelah meninggalkan pegunungan ini. Tapi sampai saat itu tiba, keselamatan kalian masih menjadi tanggung jawabku.” Pahlawan mencondongkan tubuh sedikit ke depan, sikunya bertumpu pada lutut. “Kita tidak bisa lanjut naik. Jalur di atas celah gunung terlalu jauh dan berat. Tanpa suplai yang ada di gerobak, peluang kalian untuk bertahan hidup sangat kecil. Karena itu, kembali adalah harapan terbaik kita.”
Cendekiawan membuka mulut. Menutupnya lagi.
Budak Licik mengumpat pelan. Bukan karena tidak setuju. Justru karena kata-kata itu masuk akal, dan dia tidak bisa membantah.
“Kita nggak bisa turun.”
Ketiganya menoleh.
Sunny tidak ingat kapan terakhir kali dia bicara. Mungkin berjam-jam yang lalu. Suaranya terdengar serak dan asing. Budak Licik tertawa pendek, melirik ke arah Pahlawan dengan seringai yang dipaksakan.
“Jangan dengarkan dia, Tuan. Anak ini...” Dia mengetuk pelipisnya sendiri. “Diberkati para dewa. Otaknya nggak beres.”
Pahlawan mengerutkan kening. “Kalian masih hidup hanya karena keberanian anak ini. Tidakkah kalian malu menjelek-jelekkan dia begitu?”
Budak Licik mengangkat bahu.
Pahlawan menggeleng, lalu menatap Sunny. Tatapannya bukan simpati. Bukan juga rasa ingin tahu kosong. Sesuatu yang lebih solid. “Aku ingin mendengar alasannya. Kenapa kita tak bisa turun?”
Sunny bergeser. Berat, jadi pusat perhatian. Tapi pertanyaan itu menggantung, dan api berderak, dan akhirnya dia menjawab.
“Karena monsternya belum mati.”
Keheningan kembali. Tapi sekarang berbeda. Sekarang ada sesuatu yang bergerak di baliknya—bayangan dari kata-kata yang baru saja terucap, menetap di udara seperti asap.