Chapter 005: Rantai Yang terputus
[Kamu telah membunuh seekor dormant beast, Larva Raja Gunung.]
Lutut menghantam batu.
Paru-paru Sunny terbakar.
Ia tergantung di tepi kesadaran, otot-ototnya bergetar seperti kawat yang baru saja dilepas dari tegangan. Adrenalin masih membanjiri pembuluh darah, tapi tidak cukup kuat untuk menenggelamkan rasa sakit yang merayap dari setiap sendi.
Tiga detik. Tiga detik lagi.
Tidak ada Memori. Tidak ada pedang. Tidak ada mantel. Spell tidak memberinya apa pun kecuali kalimat kering itu dan keheningan setelahnya.
Pelit.
Sunny mengangkat kepala.
Larva itu mati—bagus. Tapi rantainya masih membelit leher makhluk itu, dan belenggu di pergelangan tangannya belum terbuka. Budak Licik dan Cendekiawan sibuk membereskan lilitan di sisi mereka, jari-jari gemetar, napas pendek-pendek. Wajah mereka pucat kehijauan dalam cahaya api.
Lebih jauh, potongan-potongan daging bertebaran di atas batu.
Ada yang utuh. Ada yang hanya bagian. Beberapa budak berhasil memutuskan rantai dan sekarang berlari—tubuh-tubuh kecil mengecil ke dalam kegelapan.
Bodoh.
Sunny tidak berteriak memanggil mereka kembali. Tidak ada gunanya. Gunung akan menyelesaikan urusannya sebelum fajar.
Rantai itu putus di satu titik sebelumnya—itulah kenapa rantainya tiba-tiba mengendur saat massa budak menyeretnya. Kalau saja mekanisme pengunci di belenggu ini tidak serumit itu... tapi tidak. Setiap pasang terikat pada mata rantai tertentu. Tanpa kunci, tidak ada jalan.
Getaran.
Bukan dari larva. Ini lebih berat, lebih lambat, seperti denyut jantung raksasa yang merambat melalui batu di bawah telapak kakinya. Raja Gunung. Masih hidup. Masih membunuh. Api unggun menutupi sosoknya, tapi jeritan yang sesekali naik—lalu terpotong—cukup menjelaskan.
Dan kemudian Sunny melihat mayat-mayat itu.
Yang cacat. Yang tercabik. Empat tubuh mulai bergerak.
Lagi?
Satu per satu mereka bangkit. Kulit merekah, tulang-tulang baru menusuk keluar, mulut-mulut bengkok mengeluarkan bunyi klik-klik yang sudah mulai akrab di telinga. Larva terdekat hanya berjarak beberapa meter.
Sunny menggenggam rantai di tangannya. Sia-sia. Tidak ada senjata.
Maju sini, bajingan—
Larva itu menerjang.
Sebuah sosok melesat dari samping, lebih cepat dari makhluk itu, lebih sunyi dari seharusnya. Pedang berkilat. Satu tebasan. Kepala larva terpisah dari tubuhnya, dan monster itu roboh.
Sunny mengedip.
Prajurit muda. Yang tadi menawarinya air. Zirah kulitnya masih bersih—tidak ada debu, tidak ada darah. Wajah itu tenang dan sedikit muram, seperti orang yang sedang mengantre roti, bukan bertarung melawan makhluk mimpi buruk.
Sok keren.
Prajurit itu menatap Sunny. Tatapan itu bertahan dua detik terlalu lama.
Lalu ia meraih sabuknya, melempar sesuatu.
"Selamatkan dirimu!"
Sunny menangkapnya. Besi pendek. Ramping. Lekukan di ujungnya.
Kunci.
Prajurit itu sudah berlari ke arah tiga larva tersisa. Pedangnya berputar dalam lengkungan perak.
Sunny berlutut. Jari-jarinya—masih kaku, masih berdarah—berusaha memasukkan kunci ke lubang belenggu. Percobaan pertama meleset. Kedua. Bunyi klik. Pergelangan tangan kanannya terbuka, dan angin malam menyentuh kulit yang terluka.
Ia menggenggam kunci itu lebih erat.
Tunggu saja kau sekarang.
"Bocah! Sini!"
Budak Licik melambaikan tangan, rantai berdenting. Sunny menatapnya.
Satu detik.
Dua.
Lalu ia berjalan, membuka belenggu Budak Licik lebih dulu. Pria itu mendorongnya ke samping begitu tangan bebas, langsung menari-nari kecil sambil tertawa.
"Ah! Bebas! Para dewa tersenyum!"
Cendekiawan menerima kebebasannya dengan tepukan singkat di bahu Sunny. Tidak ada tarian. Hanya anggukan kecil, lalu pandangannya beralih ke arah pertempuran yang masih berkecamuk di seberang api unggun. Dua larva sudah mati. Yang ketiga kehilangan satu lengan, tapi masih menyerang. Prajurit muda bergerak di sekelilingnya seperti air.
"Apa yang kalian tunggu?!" Budak Licik sudah setengah berbalik. "Lari!"
"Teman."
Cendekiawan mengangkat tangan. Telapak terbuka. Isyarat berhenti.
"Kalau kau bilang 'sarankan' sekali lagi—"
"Kita mati kalau lari sekarang."
Budak Licik menatapnya. "Kenapa?!"
Cendekiawan menunjuk api unggun.
"Tanpa itu, kita beku sebelum malam selesai. Sampai matahari terbit." Suaranya rendah, datar. "Lari sama dengan bunuh diri."
Sunny tidak menyela. Ia sudah tahu.
Api adalah satu-satunya tawar-menawar mereka melawan gunung. Budak berbahu lebar—semoga kau tenang di sana, kawan—pernah mengatakannya: gunung tidak butuh monster untuk membunuh. Cukup diam. Cukup tunggu.
"Jadi apa?!" Budak Licik meludah. "Aku lebih pilih beku daripada jadi... itu." Ia melirik larva terdekat, menggigil. "Atau dimakan. Atau berubah."
Cendekiawan tidak menjawab.
Larva ketiga sudah mati sekarang. Prajurit muda menghilang ke balik kobaran api, meninggalkan ketiganya sendirian di tepi tebing batu. Jeritan dari arah seberang semakin jarang.
"Mungkin monster itu sudah puas." Cendekiawan berdeham. "Mungkin para Imperial bisa mengusirnya. Kalau kita tetap di sini, ada peluang—sekecil apa pun. Kalau kabur..."
Sunny menggeleng.
Raja Gunung tidak akan puas. Tidak dengan sebagian. Dan sekelompok prajurit—bahkan para Awakened—tidak akan mengalahkan makhluk setingkat Tyrant dengan mudah. Kalau mereka bisa, mereka sudah melakukannya.
"Kita lihat," kata Sunny.
Budak Licik memelototinya. "Kau gila?!"
Sunny sudah melangkah ke arah api unggun.