Langsung ke konten utama

Raja Gunung sedang makan malam.

Sunny melihat semuanya dari balik api unggun. Potongan tubuh berayun di belenggu, rantai gemerincing pelan. Monster itu mengangkat budak yang sudah mati, rahangnya terbuka lebar. Krek. Dua bagian. Darah menyembur ke dagu makhluk itu, membasahi bulu-bulu kotornya.

Lima mata buram menatap kosong ke kejauhan.

Seorang prajurit berteriak, tombak teracung. Lengan bawah makhluk itu bergerak tanpa arahkan pandangan. Byur. Kepala hancur seperti buah busuk. Tubuh tanpa kepala terbang, jatuh, lenyap ke dalam jurang.

Budak Licik muntah. Bangkit dengan lutut gemetar, muka pucat pasi, lalu menatap Sunny.

"PUAS?!"

Sunny tidak menjawab. Matanya masih menempel pada sang tiran. Kepala sedikit miring.

"Heh... lihat tuh. Orang tua, anak ini nggak waras. Tenang benar dia."

"Shh—! Suaramu, tolol!"

Budak Licik menutup mulutnya sendiri pakai kedua telapak tangan. Menoleh panik. Tapi sang tiran sedang sibuk—mengunyah, merobek, mendengar jeritan budak lain yang masih hidup.

Napas lega keluar pelan.

Sunny malah tenggelam.

Bagaimana caranya membunuh ini?

Tangan kosong. Tidak ada pasukan. Tidak ada senjata.

Kilatan cahaya. Sebatang kayu terbakar melesat, meledak di lengan sang tiran menjadi percikan api. Prajurit muda—pembebas heroik Sunny tadi—kini berdiri dengan pedang terhunus, muka penuh tantangan.

"HADAPI AKU, IBLS!"

Gangguan. Tepat yang kuperlu.

Sunny sudah memutuskan sejak tadi. Bantuan manusia tidak cukup. Jadi ia pakai gravitasi.

Kalau aku tak bisa membunuhnya, biar jurang yang bekerja.

Rencana masih kasar. Tapi si pahlawan bodoh itu membuka peluang. Sekarang tinggal masalah waktu—berapa lama si idiot sombong bisa bertahan?

"Ikut aku."

Sunny berlari ke ujung platform. Gerobak besar berdiri di tepi, dua balok kayu menyangga roda belakang. Budak Licik dan Cendekiawan saling pandang, lalu mengikuti. Mungkin karena wajah Sunny terlalu tenang. Atau mungkin mereka pikir orang gila punya keberuntungan sendiri.

"Kalau aku kasih aba-aba, tarik kedua balok itu. Lalu dorong."

"Apa?"

"Kau lihat nanti."

Sunny berlari lagi. Mencari ujung rantai yang putus di antara tumpukan mayat, darah, isi perut. Beruntung. Ia temukan. Lalu mencari borgol terdekat—masih terkunci di pergelangan budak yang hancur tubuhnya. Klik. Terbuka. Mayat itu disingkirkan. Borgol dikunci kembali, kali ini melingkar pada rantai, menciptakan lingkaran longgar.

Jerat.

Dari sudut mata, si Pahlawan melayang. Terkena pukulan. Tapi mendarat dengan dua kaki, meluncur di batu, berguling—mengambil pedang—guling lagi. Menghindari injakan kaki monster.

"GULING?! Siapa yang guling-guling anjing—"

Sunny berteriak:

"SEKARANG!"

Rantai berat di tangan. Ia berdiri. Menghadap tiran.

Prajurit muda itu melirik. Matanya mengikuti rantai, lalu ke gerobak. Tanpa ekspresi, ia menggandakan serangannya. Menjauhkan monster dari Sunny.

Ah. Jadi dia pintar juga.

Sunny kosongkan kepala. Fokus pada berat rantai. Jarak. Titik bidik.

Waktu melambat.

Jangan meleset.

Ia berputar. Melempar lingkaran besi ke udara seperti nelayan menjala.

Maksudnya: jerat itu akan jatuh di kaki tiran. Lalu Sunny tarik, jerat mengencang, monster kehilangan keseimbangan.

Tapi Raja Gunung mundur selangkah di detik terakhir.

Lingkaran rantai malah mendarat sempurna di lehernya.

Ceklek.

Jerat mengencang.

Sunny terdiam. Tinjunya mengepal. Hore—! diam-diam.

Beberapa detik lagi gerobak akan terguling ke jurang. Menyeret monster itu bersamanya.

Ia menoleh ke belakang.

Budak Licik dan Cendekiawan berhasil mencabut ganjalan. Mereka mendorong. Tapi gerobaknya... bergerak lambat.

Terlalu lambat.

Sunny menoleh lagi ke tiran. Makhluk itu terkejut. Tangannya naik, mau merobek rantai.

Matanya membelalak.

Pahlawan menabrak kaki sang tiran. Bruk. Monster kehilangan keseimbangan. Sedikit waktu tambahan.

Sunny berlari ke gerobak. Menjatuhkan diri ke papan lembap. Mendorong. Sisa tenaga terakhir dalam tubuh kecil, babak belur, kelelahan yang meluap.

"GULING, DASAR RONGSOKAN—!!"

Gerobak mulai cepat. Sedikit. Tapi tetap terlalu lambat.

Di belakang, tiran akhirnya meraih rantai di lehernya.

Hidup atau mati.

Tinggal hitungan detik.

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026