Chapter 010: Korban Pertama
Mereka berhenti ketika Sunny hampir pingsan.
Tubuhnya sudah di ambang menyerah. Tapi bukan dia yang paling buruk. Budak Licik ambruk duluan. Begitu Pahlawan menemukan ceruk untuk berkemah, lelaki itu langsung roboh, tulang-tulangnya menghantam batu. Tidak ada makian. Tidak ada umpatan. Hanya dada yang naik-turun dengan ritme dangkal.
Tangannya gemetar saat membuka kantung air. Dia menuang isinya ke mulut seperti menuang bensin ke api.
“Hemat.”
Suara Pahlawan pelan. Tapi ada sesuatu yang berbeda di sana.
Budak Licik terus minum. Sampai kantungnya kempes.
Cendekiawan tidak lebih baik. Dua kali lipat usia Sunny. Keringat menempel di kulitnya meski udara menggigit. Matanya sembab. Gerakannya lambat.
Sunny menatap kedua budak senior itu. Lalu menatap dirinya sendiri. Yang paling lemah. Yang seharusnya mati duluan.
“Nggak bisa cairin salju kalau air habis?”
Pahlawan menatap Cendekiawan dulu. Baru kemudian menjawab.
“Akan ada waktu kita nggak bisa nyalain api.” Suaranya tidak berbisik, tapi nyaris. “Biar nggak menarik perhatian.”
Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Nama Raja Gunung tidak disebut, tapi hadir di antara mereka.
Ceruk itu tersembunyi di balik undakan batu. Api unggun mereka hanya menerangi dinding-dinding sempit, tidak bocor ke luar. Pahlawan memanggang irisan daging lembu liar di atas api. Mereka makan tanpa suara. Hanya bunyi lemak yang menetes ke bara.
Langit sudah hitam penuh ketika dua budak lainnya terlelap. Sunny memandangi wajah mereka. Tersentak-sentak. Mimpi buruk di dalam mimpi buruk.
Pahlawan menghunus pedang.
“Giliranmu istirahat.”
Sunny mengangguk. Membaringkan tubuh di dekat api. Kepalanya menyentuh tanah—
Kegelapan.
Seseorang mengguncang bahunya. Sunny mengerjap.
Pahlawan berdiri di atasnya.
“Mereka kelihatan buruk. Kita kasih waktu pulih.” Matanya bergeser ke api. “Jangan biarin padam. Bangunin kami pas matahari mulai naik. Atau kalau… kalau dia muncul.”
Sunny bangkit.
Mereka bertukar tempat. Pahlawan menambah dua potong kayu ke api, lalu merebahkan diri. Butuh waktu singkat sampai napasnya melambat.
Sunny duduk.
Di atas, bintang-bintang. Redup. Sabit tipis bulan baru lahir, tapi cahayanya tidak bisa menembus gelap pegunungan.
Tapi mata Sunny bisa.
Dia menatap ke bawah. Jalan yang mereka lalui kemarin masih terlihat. Pita sempit meliuk di kejauhan, menurun, sampai ke platform batu tempat pertarungan. Di sana, titik-titik kecil berserakan.
Mayat para budak.
Sunny menyipit.
Bayangan hitam merayap naik dari bawah tebing. Pelan. Pasti. Mendarat di platform tanpa suara.
Raja Gunung.
Makhluk itu diam sejenak. Lalu bergerak. Cakarnya mencakar tanah, merangkak dari satu mayat ke mayat lain. Moncongnya meraih, memasukkan daging mati ke dalam rahangnya.
Sunyi.
Lalu angin membawa bunyi. Tulang diremukkan.
Sunny tersentak tanpa sengaja. Kakinya menyenggol batu kecil di tepi pijakan. Batu itu jatuh. Menghantam lereng. Memicu batu lain ikut meluncur.
Gemuruh kecil di tengah malam.
Di bawah sana, Raja Gunung menoleh.
Mata pucatnya lurus menatap Sunny.
Sunny membeku. Otot-ototnya mengeras. Paru-parunya berhenti. Bahkan darah di nadinya seolah ikut diam. Dua makhluk—satu di atas, satu di bawah—saling berhadapan tanpa suara.
Detik bergerak lambat.
Lalu Raja Gunung memalingkan wajahnya. Kembali melahap mayat.
Sunny menghela napas.
“Dia buta.”
Kata-kata itu keluar tanpa suara. Bibirnya membentuknya, lalu dia diam.
Dia mengingat lagi. Mata pucat tak bernyawa itu. Tidak pernah bergerak. Tidak pernah mengikuti apa pun. Dan lorong tadi—monster itu baru bereaksi ketika gerobak menghantam batu, bukan ketika dia mendorongnya.
Suara. Dia berburu pakai suara.
Sunny terus menatap. Raja Gunung terus memakan orang mati.
Fajar datang dengan cahaya pucat.
Sunny membangunkan yang lain. Pahlawan membuka matanya dengan harapan—lalu harapan itu runtuh begitu melihat dua budak lainnya.
Cendekiawan lebih buruk. Wajahnya abu-abu.
Budak Licik bahkan bukan lagi warna manusia. Kulitnya pucat seperti alabaster. Tubuhnya gemetar. Matanya setengah sadar, kosong.
“Ada apa sama dia?”
Cendekiawan menggeleng. Suaranya serak. “Penyakit gunung. Efeknya beda-beda.”
“Gue nggak apa-apa, bangsat.”
Kalimat itu butuh waktu sepuluh detik buat terbentuk di mulut Budak Licik. Suaranya seperti kaca pecah. Tapi dia memaksa berdiri.
Pahlawan mengernyit. Dia mengambil sebagian besar beban si budak yang memberontak itu dan memindahkannya ke pundaknya sendiri. Ragu sejenak. Lalu menyerahkan sebagian ke Sunny.
“Ada yang terjadi pas kalian tidur?”
Sunny menatapnya.
“Dia makan yang mati.”
Kernyit Pahlawan makin dalam.
“Lo tau dari mana?”
“Gue denger.”
Pahlawan berjalan ke tepi tebing. Menunduk. Mencari platform batu yang sekarang cuma sebesar ujung kuku. Butuh satu menit penuh sebelum dia menegakkan tubuh. Rahangnya mengatup.
“Kita percepat. Begitu dia habisin semua, dia bakal nyusul.” Matanya mendongak ke puncak. “Kita harus nemu jalur tua itu sebelum malam.”
Mereka bergerak.
Matahari ikut mendaki bersama mereka. Lebih tinggi. Lebih tinggi. Udara makin tipis. Kakinya berdarah-darah di dalam sepatu kulit baru. Tidak ada obrolan. Tidak ada suara selain derit sepatu di batu dan napas yang terengah.
Sunny membawa beban ekstra di pundaknya. Tapi air di kantung Cendekiawan dan Budak Licik sudah banyak berkurang.
Setidaknya lebih ringan.
Langkahnya melambat. Ototnya menjerit.
Ini neraka.
Mereka terus naik. Matahari mencapai puncak langit. Melewatinya. Mulai turun ke barat.
Budak Licik mulai tertinggal.
Sunny tidak langsung sadar. Dia terlalu fokus pada kakinya sendiri. Satu langkah. Satu batu. Satu tarikan napas yang terasa seperti ditusuk.
Lalu teriakan.
Dia menoleh.
Budak Licik meluncur ke belakang. Kakinya tidak menemukan pijakan—es tipis di atas batu. Tubuhnya menghantam tanah dengan bunyi yang tidak boleh dibuat oleh tubuh manusia. Dia menggelinding.
Tangannya meraih-raih udara. Mencengkeram apa saja yang bisa. Tidak ada.
Mereka bertiga hanya bisa menonton.
Tubuh itu berguling. Menuruni lereng. Meninggalkan jejak merah di atas batu abu-abu. Semakin kecil. Semakin rusak. Posisi tangan dan kakinya mulai tidak masuk akal.
Sebuah batu besar yang menonjol dari lereng menghentikannya.
Suara daging dan tulang membentur batu.
Lalu senyap.
Sunny menatap gumpalan yang tadi adalah manusia.
Budak Licik sudah mati.