Langsung ke konten utama

Dentuman pertama memecah langit.

Batu. Pecahan es sebesar kepala kuda. Hujan puing itu menghantam perkemahan sebelum siapa pun sempat berteriak.

Sunny sudah berdiri.

Matanya—yang sekarang bisa membaca kegelapan seperti halaman buku—menangkap lintasan setiap pecahan sebelum jatuh. Ia mundur satu langkah. Sebongkah es menghantam tanah di titik yang baru saja ia tinggalkan, meledak menjadi serpihan kaca yang menyambar pipinya.

Darah. Belum waktunya menghitung luka.

Di sekelilingnya, jeritan. Rantai berdentang kacau. Tubuh-tubuh tersungkur, saling menyeret, membentuk gumpalan daging dan besi yang meronta-ronta. Satu budak tertimpa batu tepat di kepala—suaranya seperti telur yang diremukkan. Sunny tidak menoleh.

"Berdiri! Ke dinding gunung!"

Suara veteran itu. Bekas cambukan di punggung Sunny masih terasa mentah, tapi sekarang bukan waktunya dendam.

Getaran.

Bukan dari batu jatuh. Ini lebih dalam. Lebih berat. Sesuatu mendarat di antara karavan dan lereng gunung, dan hening yang mengikutinya lebih memekakkan daripada jeritan.

Sosok itu awalnya tampak seperti gumpalan salju kotor.

Kemudian ia membuka diri.

Kaki pendek. Tubuh bungkuk, tulang belulang mencuat di bawah kulit yang terlalu longgar. Lengan—empat—dua di antaranya berakhir dengan cakar tulang yang bisa membelah batu, dua lagi dengan jari-jari yang hampir menyerupai tangan manusia. Bulu abu-kuning setebal baju zirah menutupi seluruh tubuhnya.

Lima mata putih susu.

Sunny menghitungnya.

Rahang. Setengah terbuka. Gigi-gigi itu tidak punya urutan, hanya kekacauan tajam yang berlapis-lapis. Air liur menetes ke salju, mengepulkan uap.

Empat meter, pikir Sunny. Mungkin lebih.

Dan kemudian ia melihat gerakan di bawah kulit makhluk itu.

Cacing. Atau sesuatu yang berpura-pura menjadi cacing. Bergeliat, merayap di antara otot dan tulang, mengubah kontur tubuhnya secara konstan. Sunny bisa melihat semuanya dengan sangat jelas—karena ia berdiri paling dekat.

...Ini berlebihan.

Makhluk itu mengayunkan cakar.

Sunny sudah melompat ke samping. Rantai di pergelangannya menegang, membatasi jarak—cukup. Ia mendarat tepat di belakang si budak berbahu lebar, menempatkan tubuh besar itu di antara dirinya dan monster.

Cakar menghantam.

Pria berbahu lebar itu terbelah. Bukan terpotong—terbelah. Darah menyembur ke udara dalam lengkungan panjang, mengenai wajah Sunny, bahunya, matanya. Tubuh yang kini hanya daging tertiup ke belakang, menimpanya.

Lantai batu menghantam punggung.

Sial. Berat.

Mayat itu menindihnya. Hangat. Basah. Sunny mendorong, tapi rantai di pergelangannya tertarik ke arah yang salah, memelintir sendi sampai api putih menjalar ke siku. Kepalanya berdentang. Ia terseret beberapa langkah sebelum rantai mengendur.

Sunny menekan kedua telapak tangannya ke dada mayat itu.

Mendorong.

Tubuh itu bergeser.

Dan sesuatu bergerak di bawah kulitnya.

Sunny membeku. Jari-jarinya masih menempel di mayat itu, dan ia bisa merasakannya: getaran kecil, ritmis, seperti denyut nadi yang salah tempat. Kulit di bawah telapaknya beriak.

Kamu. Kenapa. Harus. Mikir. Begitu.

Dengan satu hentakan kaki, ia mendorong mayat itu menjauh. Merangkak mundur. Satu meter. Satu setengah. Rantai menolak memberi lebih.

Mayat itu mulai kejang.

Sunny menoleh. Si budak licik berdiri mematung di sisi lain, mulutnya menganga.

"Hei!" Sunny melambaikan tangan. "Mundur!"

Budak licik itu mencoba melangkah. Tersungkur. Rantai yang menghubungkan mereka bertiga terpuntir, terjepit di bawah mayat yang semakin kejang.

Tulang pertama mencuat dari kulit.

Bukan patah. Tumbuh. Dari dalam. Duri-duri putih menusuk keluar seperti pisau lipat yang terbuka. Otot-otot membengkak, bergetar, menyusun ulang diri mereka sendiri. Kuku memanjang menjadi cakar. Wajah merekah—benar-benar merekah—memperlihatkan mulut bengkok dengan gigi-gigi seperti jarum.

Terlalu banyak gigi.

Lambung Sunny terbalik.

Cendekiawan itu muncul di belakang si budak licik. Wajahnya sepucat kain kafan. Ia menunjuk rantai dengan tangan gemetar.

"Ran—rantainya!"

Terima kasih. Sangat membantu.

Tapi bukan rantainya yang membuat Sunny tidak bisa bernapas dengan benar.

Sekacau apapun Mantra itu, ia tetap punya aturan. Ada hierarki. Beast. Monster. Demon. Devil. Tyrant. Terror. Titan. Nightmare Pertama hampir selalu hanya melempar beast atau monster ke arena. Kadang demon. Tidak pernah lebih tinggi.

Makhluk yang barusan menghancurkan perkemahan baru saja menciptakan versi lebih kecil dari dirinya.

Itu kemampuan Tyrant. Atau lebih tinggi.

Apa yang dilakukan Tyrant di Nightmare Pertama?!

Mayat itu bangkit.

Bukan lagi manusia. Bukan lagi mayat. Sosok itu berdiri dengan gerakan patah-patah, tulang-tulang barunya masih basah oleh lendir dan darah. Mulutnya mengeluarkan bunyi klik-klik yang tidak punya ritme.

Sunny tidak menunggu.

Ia melompat maju, meraih rantai yang mengendur di dekat bahu makhluk itu. Satu lilitan. Cakar menyambar—Sunny merunduk, merasakan angin dari tebasan itu melewati tengkuknya. Lilitan kedua. Ketiga. Ia hampir kehilangan wajahnya dari gigitan rahang yang membentak di depan hidung.

Rantai habis.

Jarak di antara mereka nyaris tidak ada.

"Kalian berdua!" Sunny menoleh, berteriak ke arah budak licik dan Cendekiawan. "Tarik!"

Keduanya bergerak. Dua arah berlawanan. Rantai menegang, mengikat lengan makhluk itu ke tubuhnya, menahannya.

Otot-otot monster itu menegang. Rantai mengerang.

Sunny mengangkat kedua tangannya. Rantai pendek yang menghubungkan borgolnya ia lingkarkan ke leher makhluk itu. Satu putaran. Ia memutar tubuhnya, memunggungi monster itu, lalu menarik.

Punggungnya menjadi tuas. Berat tubuhnya menjadi beban.

Mati. Mati, bajingan—

Tonjolan tulang menusuk kulit punggungnya. Makhluk itu meronta. Bunyi klik memekakkan telinga. Rantai berderit—satu mata rantai mulai melengkung.

Sunny menarik lebih kuat.

Keringat dan darah mengalir ke matanya. Otot lengannya menjerit. Punggungnya terbakar.

Satu menit. Dua. Selamanya.

Mati kau—

Tubuh monster itu terkulai.

Sunny hampir ikut jatuh. Lututnya gemetar. Tangannya masih melilit rantai, tidak bisa dilepaskan.

Dan kemudian suara itu:

[Kamu telah membunuh seekor dormant beast, Larva Raja Gunung.]

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026