Langsung ke konten utama
Back to The Wizard World Bahasa Indonesia

Chapter 002: Mengatur Ulang 2

Setengah hari terbaring di ranjang. Cukup.

Ye Song bangkit.

Dari balik dinding halaman, suara-suara bertumpuk. Bukan riuh pasar, melainkan gemuruh yang lebih tegang. Orang-orang berkumpul. Ye Song tahu apa yang sedang terjadi. Ayahnya sedang memburu sekelompok penjahat bersama para penjaga. Kriminal entah dari mana. Sudah sepuluh keluarga mati. Ketakutan menjalar di antara rakyat.

Knight Audis yang memimpin perburuan itu.

Ye Song melangkah keluar kamar. Halaman kecil menyambutnya. Abu-abu. Terbengkalai. Kolam di tengah dikelilingi rumput liar yang tumbuh semaunya. Dua penjaga berdiri di tepinya. Mereka sedang berbicara, tapi langsung menegakkan tubuh begitu melihat Ye Song. Hormat.

Postur mereka tinggi. Kokoh. Jelas orang-orang pilihan Baron.

"Tuan Muda Angele, apakah Anda sudah cukup beristirahat?" Penjaga berkumis itu membuka suara. Nada bicaranya santai. Tapi penampilannya sama sekali tidak santai. Baju zirah kulit emas membungkus tubuhnya. Kapak besar tersandang di punggung.

Ye Song menatapnya sekilas.

Lalu ke penjaga satunya.

Yang ini lebih kurus. Hanya mengenakan baju kulit setengah badan. Pedang pengawal tergantung di pinggang. Tidak terlihat kuat. Tapi ada kegesitan di geraknya. Dan di matanya... ada ketenangan yang sulit digoyahkan.

Mata Ye Song turun.

Di ujung pedang itu, masih ada sisa darah. Gelap. Hampir hitam.

Ia memalingkan muka.

"Paman Audis yang menyuruh kalian ke sini?"

"Benar. Kami akan mengantar Tuan Muda kembali ke kastil. Setelah itu kami harus kembali bertugas. Mari berangkat, waktu kami tidak banyak."

Yang kurus menjawab. Suaranya berat.

Ye Song menangkap sesuatu dalam jawaban itu. "Kalian sudah menemukan para penjahat itu?"

"Pagi tadi. Tempat persembunyian sementara mereka. Pemimpin sudah mengepung lokasi bersama pasukan."

Ye Song mengangguk. "Aku ganti pakaian dulu."

Ia masuk kembali ke kamar. Jubah putih dilepas. Kini ia mengenakan setelan yang lebih pantas. Langkahnya keluar. Mereka bertiga meninggalkan rumah.

Rumah itu hanya tempat singgah keluarga saat berada di kota. Bukan tempat yang nyaman untuk memulihkan luka. Di luar, Jalanan kotor membentang. Orang-orang lalu lalang dalam balutan linen abu-abu pudar. Seragam kusam yang sama.

Para pedagang berteriak di pinggir jalan. Buah. Mainan kayu. Sayuran. Perempuan-perempuan memeriksa dagangan dengan keranjang di tangan.

Tapi begitu Ye Song melangkah ke jalan...

Semua berubah.

Orang-orang berhenti. Menunduk. Memberi hormat.

Wajah mereka seragam. Ketakutan.

Pakaian Ye Song berwarna hitam. Sedangkan mereka semua abu-abu. Bukan kebetulan. Hanya bangsawan yang boleh memakai warna selain abu-abu. Di dunia ini, itu adalah hak eksklusif. Mereka yang melanggar bisa langsung dihukum mati. Serius. Pelanggaran berat. Bahkan di antara bangsawan sendiri, warna dibatasi sesuai status.

Dan di tengah lautan abu-abu ini...

"Aku seperti singa di tengah kawanan domba," batin Ye Song.

"Tuan Muda masih belum terbiasa?"

Penjaga kurus itu tersenyum kecil.

Sepanjang perjalanan, Ye Song akhirnya tahu nama mereka. Yang kurus adalah Carter. Mantan petualang—sebutan halus untuk pengangguran tanpa masa depan. Status sosial mereka rendah sekali. Tapi nasib baik menghampirinya. Direkrut menjadi penjaga. Kini posisinya seperti polisi di kantor polisi zaman Bumi dulu. Jauh di atas rakyat biasa. Banyak keuntungan.

Yang kuat bernama Miro. Lahir dan besar di wilayah Baron Rio. Berbakat. Bertenaga.

"Kota Candia jauh lebih besar dari kota kecil ini," Carter berkomentar sambil nyengir. Ia bahkan tidak menunggu Ye Song menjawab.

Tangannya menyambar tomat dari lapak pedagang. Digigitnya begitu saja.

Pemilik lapak hanya bisa diam. Wajahnya tidak senang. Tapi mulutnya terkunci.

Ye Song mengernyit.

Tapi ia tidak berkata apa-apa.

Mungkin ini kebiasaan para penjaga. Mengambil tanpa membayar. Reputasi buruk yang sudah melekat. Namun entah kenapa, pemandangan itu justru mengingatkan Ye Song pada seseorang.

Dirinya yang dulu.

Mereka terus berjalan. Bicara hal-hal ringan. Tak butuh waktu lama untuk keluar dari kota. Di luar pagar, sebuah kereta hitam sudah menunggu. Kusirnya turun begitu melihat mereka datang. Membungkuk. Menunggu di samping.

Mereka naik. Carter yang memegang kendali.

Kereta melaju kencang di jalan utama.

Dua puluh menit.

Tujuan mereka akhirnya muncul: Kastil Karl. Pangkalan utama keluarga Rio.

Ye Song turun dengan hati-hati. Kepalanya mendongak.

Kastil itu berdiri di tengah hutan hijau. Di matanya, bangunan ini seperti istana dari kisah-kisah kuno. Seluruh kastil dikelilingi parit. Lebih tepat disebut kota bertembok tinggi daripada sekadar kastil.

Bangunannya abu-abu. Tidak terlalu kuno. Setinggi gedung lima lantai.

Dua penjaga dengan pedang besi di punggung berdiri di gerbang utama. Jembatan di atas parit sudah diturunkan. Mereka memandang Ye Song dengan tatapan waspada, lalu bingung.

Matahari hampir tenggelam.

Langit memerah. Kastil ikut memerah.

Dari suatu tempat, aroma bunga melayang.

Ye Song menarik napas panjang. Udara mulai mendingin.

"Apakah Old Wade ada di sini?"

Suaranya masih lemah.

"Ada. Kami sudah mengantar Tuan Muda dengan selamat. Sekarang kami harus kembali bertugas."

Carter mengangguk.

Ye Song melihat mereka naik kereta lagi. Suara roda dan tapak kuda perlahan menjauh. Menghilang di kejauhan.

Ia berbalik menuju kastil.

Seorang pria tua melangkah keluar dari pintu utama. Mantel hitam. Rambut sepenuhnya putih. Beberapa penjaga wanita mengikuti di belakangnya.

"Old Wade! Aku kembali!"

Ye Song setengah berteriak. Langkahnya semakin cepat.

Wade. Kepala pelayan yang sudah mengabdi pada Baron Karl selama tiga puluh tahun. Ia mengenal Baron sejak pria itu masih sangat muda. Bertanggung jawab atas penyelidikan internal di seluruh wilayah.

"Aku sudah bilang pada Baron sejak dulu," gerutu Wade, setengah mengomel. "Biarkan Audis yang mengawasi Tuan Muda. Tapi dia tidak mendengar. Sekarang Tuan Muda terluka. Seharusnya dia mengikuti saranku..."

Lelaki tua kurus itu terus mengoceh sambil berjalan mendekati Ye Song.

Ye Song hanya tersenyum sopan. Ia mengikuti rombongan masuk ke dalam kastil.

Wade mengeluh sejenak.

Lalu berhenti.

"Tuan Muda, kali ini Anda harus tetap di kastil. Biarkan Audis mengajari Anda semua pengetahuan yang diperlukan."

"Ayah yang mengatakan itu?"

"Ya. Situasi di luar sedang buruk. Membiarkan Anda tinggal sendiri di luar bukan ide bagus. Terlebih lagi..." Suara Wade merendah. "Anda sudah sangat menderita kali ini. Kami pasti akan membalas dendam. Bahkan jika lawannya adalah Viscount Candia."

Nada bicaranya berubah. Bukan keluhan lagi. Melainkan janji.

"Aku akan mengikuti keputusan Ayah."

Mereka memasuki aula utama. Dua pelayan mengikuti. Di sana, dua gadis muda sudah menunggu. Gaun putih membungkus tubuh mereka. Begitu melihat Wade dan Ye Song, mereka membungkuk bersamaan.

"Kakak Angele."

Ye Song mengakses ingatannya. Cepat.

Celia dan Maggie.

Celia adalah adik tirinya. Satu ayah. Maggie berasal dari keluarga miskin yang mencari perlindungan pada keluarga Rio. Keluarga Maggie sudah lama ditolak. Tapi mereka bertahan. Usia mereka lebih muda. Karena itulah mereka memanggilnya "kakak".

Angele punya posisi penting di keluarga. Kerabat seperti ini harus berhati-hati saat berurusan dengannya. Banyak gadis lain seperti mereka di kastil. Tapi tanpa status tinggi. Baron bahkan hampir tidak peduli.

Hidup Celia lumayan. Tunjangan bulanan. Pelayan untuk pekerjaan rumah. Levelnya setara pemimpin pelayan.

Maggie? Lebih sederhana. Orangtuanya bekerja untuk Baron di kastil. Cukup untuk makan. Seperti pekerja biasa. Mungkin sedikit lebih baik dari yang paling rendah. Hanya satu dari sekian banyak kerabat miskin yang bergantung.

"Lama tidak bertemu," Ye Song tersenyum.

Ia selalu akrab dengan dua gadis ini. Mereka cukup cantik. Punya gaya. Angele memperlakukan mereka baik. Dan mereka melihatnya sebagai sandaran. Seseorang yang bisa diandalkan.

"Kami mendengar Kakak terluka. Kami memutuskan menunggu di sini untuk menyambut. Apa Kakak sudah lebih baik?"

Itu Maggie. Tiga belas tahun. Suaranya kekanakan. Tapi tubuhnya berkembang lebih cepat. Wajahnya imut. Pinggang ramping. Dada penuh.

Ye Song menatapnya. Agak lama.

Maggie tahu ia ditatap. Pipinya memerah. Tapi ia tidak menghindar. Justru diam-diam membusungkan dadanya.

Celia berbeda.

Tubuhnya lebih kecil. Sangat pemalu. Ia menatap Ye Song dengan mata seperti anak rusa. Ada ketakutan di sana. Tangannya terlipat di atas perut. Gelisah.

Ye Song bisa merasakan kepolosan Celia.

Mereka berdua sengaja datang lebih awal. Tahu situasi. Ingin menjadi yang pertama menyambut. Agar orang-orang mengira mereka dekat dengan Ye Song. Mungkin suruhan orangtua mereka.

"Aku sudah jauh lebih baik. Jangan khawatir."

Ye Song mengangguk. Bicara sedikit dengan kedua gadis itu.

Wade menghilang diam-diam. Ada tugas lain.

Ye Song mengikuti Celia dan Maggie ke aula dalam. Banyak orang datang menyampaikan salam. Satu per satu. Butuh waktu.

Akhirnya, keheningan kembali.

Ye Song tiba di kamarnya sendiri. Sendirian.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Kamar itu punya meja tulis di samping ranjang. Selembar perkamen kuning tergeletak di atasnya. Pena bulu tersandar di samping botol tinta. Tiga batang lilin menyala. Tersusun membentuk segitiga.

Aroma khas melayang dari lilin itu.

Ye Song menarik kursi. Duduk.

Tangannya meraih perkamen itu.

Matanya mulai membaca.

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026