Bunyi.
Nyaring. Berulang-ulang.
Ye Song membuka mata. Tubuhnya masih setengah tertimbun kelelahan, tapi otaknya sudah terusik oleh suara-suara dari luar jendela. Entah apa.
Ia bangkit perlahan.
Seprai sutra putih meluncur dari bahunya, jatuh ke kasur tanpa suara. Tangannya spontan meraih kain itu. Ia mengernyit.
"Bukannya tadi malam aku kasih ini ke Cecilia?"
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, sesuatu yang kecil dan hangat menyentuh bahunya.
Ia menoleh.
Cecilia.
Gadis itu tidur di sisi ranjang. Tubuhnya meringkuk, napasnya teratur, wajahnya tenang—sedikit menyungging, seperti tersenyum di dalam mimpi.
Ye Song terdiam. Lalu pandangannya turun ke tubuhnya sendiri. Kaus kaki? Lepas. Mantel? Lepas. Diletakkan rapi di samping bantal.
Ia menghela napas pelan. Gadis ini.
Ingatan Angele kembali menyusun kepingannya. Cecilia pertama kali ditemukan di bukit penggembalaan. Saat berburu. Angele muda terpikat oleh penampilannya. Beberapa hari kemudian, Baron Karl membawanya pulang. Dikirim sebagai hadiah.
Tapi tidak seperti hadiah yang dipaksakan.
Cecilia berasal dari keluarga petani. Ia tahu apa yang sedang ia lakukan ketika menerima tawaran itu. Bukan sekadar patuh—ia memilih. Dengan dirinya di sini, kehidupan orangtuanya akan sedikit lebih baik. Ia bukan anak tunggal. Masih ada kakak laki-laki dan perempuan di rumah. Ia tidak diculik. Ia hanya memutuskan sendiri.
Dan tadi malam, ia jugalah yang melepaskan kaus kaki dan mantel Ye Song.
Ye Song mengusap wajahnya. Udara pagi menyelinap dari celah jendela. Dingin, tapi tidak menggigit. Cahaya mentari belum seterang nanti, hanya bias putih samar yang jatuh miring di lantai kayu.
Bunyi yang membangunkannya tadi... itu suara para penjaga. Latihan pagi.
Ia turun dari tempat tidur.
Dan saat ia berdiri, tubuhnya bereaksi seperti tubuh remaja normal. Ereksi pagi. Ia sedikit meringis, canggung. Tapi di sisi lain, itu pertanda baik—pemulihannya berjalan lancar. Setidaknya staminanya mulai normal kembali.
Ia bergerak, dan Cecilia terbangun.
Matanya terbuka persis saat garis pandangnya sejajar dengan pinggang Ye Song. Pipinya berubah merah padam dalam hitungan detik. Ia menunduk, panik, bingung harus bersikap bagaimana.
"Tu-Tuan Muda Angele..." suaranya nyaris berbisik. "Ada yang bisa saya lakukan?"
Ye Song hampir kehilangan ketenangannya.
Suara itu—lirih, polos, dan sama sekali tidak membantu situasi.
Ia berdehem. Mengalihkan pikiran.
"Kau... bisa mengerjakan pekerjaan rumah?" tanyanya, memaksakan suara tetap datar. "Kalau iya, ambilkan aku air. Aku perlu cuci muka."
"Ya—ya..."
Cecilia melompat turun dari ranjang. Nyenyes-nyenses keluar kamar, nyaris tersandung ujung gaunnya sendiri.
Pintu tertutup.
Ye Song mengembuskan napas panjang.
Cecilia memang dikirim sebagai hadiah. Tapi jiwanya bukan jiwa anak empat belas tahun yang mudah terbakar. Secara moral, ia tidak mungkin menyentuh gadis itu. Dan secara fisik... ia belum pulih benar. Aktivitas semacam itu terlalu dini bisa mengganggu pertumbuhan tubuh ini. Melemahkannya. Ia butuh kekuatan, bukan pelarian.
Ia mendekati jendela.
Di bawah sana, tanah kosong terbentang di depan hutan. Satu regu penjaga berlari dalam formasi. Jaket hitam. Zirah hitam lengkap. Pedang crossguard selebar telapak tangan tersandang di punggung masing-masing. Langkah mereka serempak, cukup keras untuk menggema. Di belakang mereka, debu kuning beterbangan, membentuk awan tipis di belakang jalur lari.
"Satu! Dua! Tiga!"
"Satu! Dua! Tiga!"
Hitungan pemimpinnya tegas. Balasan anak buahnya nyaring, meski tidak semuanya sinkron sempurna. Di sela-sela teriakan, burung-burung masih berkicau.
Ye Song menyaksikan. Udara dingin menerpa wajahnya, dan rasa kantuk menguap begitu saja.
Ia tersenyum tipis.
"Oke... sekarang saatnya mikir. Gimana caranya bikin tubuh ini punya pondasi kuat."
Tangannya mengusap dagu.
Chip ini punya dua fungsi utama: analisis, dan penyimpanan. Pikirannya bekerja. Tapi analisis butuh data. Hasil kemarin soal Ayah dan Audis masih jauh dari akurat—cuma berdasarkan data sensorik mentah.
Penyimpanan bisa menampung banyak sekali. Tapi dia bukan pengganti memori otak. Aku tetap harus cari cara memindahkan data ke kesadaranku sendiri.
Kalau mau memperkuat tubuh... jawabannya tetap latihan. Tapi fungsi analisis Zero bisa membantu: dia bisa memetakan cara latihan paling efisien.
Pintu terbuka.
Cecilia kembali. Tangannya membawa baskom kecil berisi air, sehelai handuk tersampir di lengannya.
Ye Song mencuci muka sebentar. Airnya dingin, membuat kulitnya mengejang segar. Setelah selesai, ia memberi instruksi singkat pada Cecilia untuk tetap di kamar. Gadis itu mengangguk, masih sedikit canggung.
Ye Song keluar.
Tangga spiral di kastil masih gelap. Cahaya belum banyak masuk. Tangannya meraba pegangan kayu, turun perlahan. Mulai dari lantai empat ke bawah, setiap sudut tangga memiliki jendela kecil. Beberapa pelayan sedang membukanya, membiarkan udara pagi masuk.
"Selamat pagi, Tuan Muda Angele."
Salah satu pelayan menyapanya saat ia lewat. Gadis muda. Mungkin belum dua puluh. Di kastil ini, para pelayan dipilih sendiri oleh Baron. Hanya yang imut dan cerdas yang boleh tinggal dan bekerja. Jadi setiap sudut, setiap lorong, selalu ada wajah-wajah yang... menyenangkan.
"Siapa yang sedang latihan di luar?" tanya Ye Song.
"Itu pasukan kavaleri Knight Anry, Tuan Muda."
"Knight Anry?"
"Beliau ajudan Knight Audis. Mungkin Tuan Muda belum kenal—direkrut belum lama ini."
Ye Song mengangguk, lalu melanjutkan turun.
Di luar ruang tamu utama, tanah aktivitas terbentang. Kastil ini sebenarnya adalah kumpulan bangunan yang saling terhubung. Di tengahnya, area terbuka luas berfungsi sebagai tempat latihan. Saat ini, sinar mentari pagi menyelinap di celah antar gedung, menciptakan pilar-pilar cahaya keemasan yang berdiri tegak di atas tanah.
Tempat aktivitas itu berwarna putih keabu-abuan.
Dan sudah ramai.
Anak laki-laki dan perempuan—sebagian besar berpakaian abu-abu dan putih—sedang berlatih. Suara teriakan kecil terdengar ketika pedang kayu diayunkan ke udara, atau ketika seseorang melakukan gerakan serius.
Anak laki-laki: pedang kayu, tebasan berulang-ulang. Anak perempuan: busur kayu pendek, membidik target tiga puluh meter.
Di tepi lapangan, seorang pria kekar berdiri. Atasan abu-abu, celana hitam. Tidak sebesar Audis, tapi tetap cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum melawannya. Tangannya terlipat di dada. Matanya tenang, mengamati anak-anak dengan diam-diam.
Pria itu menangkap kehadiran Ye Song. Tangannya terangkat, melambai.
"Hei!" suaranya keras, memotong latihan. "Berhenti sebentar! Kemari, semuanya!"
Anak-anak menghentikan aktivitas mereka. Satu anak laki-laki—rambut acak-acakan, postur sedikit lebih tinggi dari yang lain—masih menyelesaikan satu tebasan terakhir sebelum datang. Ayunannya kuat. Udara mendesis. Beberapa gadis menoleh ke arahnya. Bocah itu nyengir puas.
"Aku bilang berhenti, Gelug!" Pria itu—Alad—mengerutkan wajahnya. "Kau melanggar perintahku?"
"Ya, ya, ya... Tuan Alad-ku yang tersayang..." Gelug menjawab sambil menurunkan pedang kayunya dengan malas. Jalannya lambat, seolah-olah semua ini hanya permainan.
Anak-anak berkumpul. Ye Song melangkah ke depan kelompok, diam di samping Alad.
"Kita kedatangan anggota baru hari ini," Alad bertepuk tangan. Bunyinya singkat, tapi menggelegar. "Ini Tuan Muda Angele. Dia baru kembali dari Kota Candia. Sebagian besar dari kalian mungkin sudah melihatnya di pesta penyambutan kemarin."
Hening.
Anak-anak lelaki tampak cuek. Beberapa bahkan tidak repot-repot melihat. Sebaliknya, para gadis menatap Ye Song dengan mata penasaran. Suasana menjadi kaku.
Ye Song berdehem. Ini bukan yang ia inginkan. Ia tidak datang untuk upacara perkenalan. Ia datang untuk latihan.
"Tuan Alad..."
"Panggil saja Alad."
"Baik, Alad. Jangan buang waktu semua orang." Suaranya tetap tenang. "Aku belum pulih total dari cedera. Tapi aku ingin mulai dari dasar. Bisakah kau tunjukkan semua latihan umum yang biasa dilakukan di sini?"
Alad terdiam sesaat. Matanya menatap Ye Song dengan sedikit kebingungan. Beberapa saat yang lalu—sebelum Angele berangkat ke Kota Candia—mereka sudah melewati ini. Semua latihan dasar. Semua gerakan fundamental. Dan sekarang ia minta ditunjukkan... lagi?
"Dia bahkan nggak tahu latihan dasar...?" Sebuah gumaman kecil terdengar dari kerumunan.
"Diam kau!" Yang lain menegur.
Tapi beberapa anak sudah memasang ekspresi meremehkan.
Zaman ini adalah zaman yang kacau. Hanya yang kuat yang dihormati. Yang lemah ditatap seperti sampah.
Dan saat ini, beberapa pasang mata menatap Ye Song seolah-olah ia adalah binatang langka.
Ye Song menahan emosinya. Ia memusatkan pikiran pada Alad, mengabaikan yang lain.
Angele yang asli memang tidak benar-benar menyimpan ingatan tentang latihan-latihan ini. Semua terhapus oleh hidupnya yang terlalu santai. Seandainya ia sedikit lebih serius dulu, Ye Song tidak akan berdiri dalam posisi secanggung ini sekarang.
"Bisakah kaulakukan itu untukku, Alad?" Ia mengulangi.
"Ya... Tentu." Alad mengangguk, masih sedikit ragu.
"Tapi," ia menambahkan, "aku hanya tahu dasarnya. Kalau kau ingin teknik tingkat lanjut, lebih baik kau minta pada Baron atau Knight Audis. Merekalah yang benar-benar ahli pedang."
Ye Song mengangguk.
Mungkin benar, teknik tingkat lanjut bisa ia pelajari dari ayahnya. Atau dari Audis.
Tapi semua itu harus dimulai dari nol.
Dasar dulu.
Tanpa fondasi, tidak ada yang bisa berdiri.