Chapter 012: Pertarungan (1)
Langkah itu.
Semakin dekat.
Angele mendengarnya dengan seluruh tubuhnya. Bukan hanya telinga—tapi kulit, tulang, ujung-ujung jari yang mencengkeram gagang pedang. Satu tangan. Dua tangan. Pegangannya semakin erat. Semakin erat. Seperti mencekik sesuatu yang belum lahir.
Ia menekan tubuhnya ke balik pohon. Dada naik-turun. Sekali. Dua kali.
Lalu langkah itu berhenti.
Hening.
Dan di dalam keheningan itulah Angele melompat.
Tubuhnya melesat ke atas, pedang terangkat tinggi, bersiap menghantam apa pun yang muncul. Tapi bukannya menusuk, ia justru menghadang. Sebuah bayangan hitam jatuh dari atas. Rantai. Suara logam beradu. DEEENG—gema panjang memantul di antara pepohonan, nyaring, memekik.
Angele mendarat mundur. Wajahnya memerah. Matanya menatap lurus ke depan.
Pria itu berdiri di sana. Rantai-logamnya ditarik kembali, melingkar pelan di tangan kirinya. Ia membuka topengnya.
Wajahnya biasa saja. Setengah baya. Tapi pipinya—ada bekas robekan besar. Seperti pernah diterkam sesuatu yang jauh lebih buas dari manusia.
“Angele Rio.” Suaranya tenang. Hampir seperti berbasa-basi. “Katanya kau playboy bodoh. Nol bakat. Aku tidak menyangka kau bisa menahan seranganku.”
Ia menggulung rantainya.
“Rupanya rumor tidak selalu benar.”
“Siapa kau?” Angele tidak menurunkan pedangnya. “Kau dari Dark Emblem?”
“Oh, kau tahu Dark Emblem?” Pria itu nyaris tertawa. “Ha. Namaku Dice.”
Jeda.
“Tapi itu cuma nama kode. Nama asliku tidak bisa kuberi tahu.” Matanya mengecil. “Kupikir panahmu yang kena aku tempo hari cuma kebetulan. Tapi melihat penampilanmu sekarang… mungkin bukan kebetulan.”
“Begitu?”
Angele bicara. Tapi pikirannya ada di tempat lain. Matanya bergerak. Mengamati.
Mereka berdiri di alur alami—tanah yang terkikis air hujan, mungkin bekas sungai kecil. Lumpur di bawah masih basah. Lembek. Baunya busuk, seperti dedaunan yang terendam terlalu lama.
“Kau coba cari jalan lari?” Dice tersenyum. Senyum yang tidak lucu. “Sayangnya, kali ini kau tidak bisa lari dariku.”
Tubuhnya melompat.
Angele menebas. Tangan Dice. Tapi tinjunya terbungkus sarung logam hitam. Pedang membentur besi. Tidak mempan.
‘Fungsi bantuan: mundur selangkah, lalu tebas depan.’
Suara Zero. Datar. Mekanis. Tapi tepat.
Angele melompat mundur. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia menghantam ke depan. Tebasan.
“Sialan!”
Dice tersentak mundur. Nyaris. Bilah Angele hanya kurang satu jari dari dadanya. Keringat mulai muncul di pelipis pembunuh itu. Ia mencabut pedangnya sendiri.
“Bocah kecil, kau membuatku—”
Kalimatnya putus.
Angele sudah menyerang lagi. Tebas bawah. Lalu tebas atas. Semua diblokir. Tapi tidak ada celah bagi Dice untuk menyerang balik.
Pojok kanan atas. Ganti posisi. Pojok kiri atas. Ganti lagi.
Angele bergerak seperti jarum jam. Setiap kali pedangnya ditangkis, tubuhnya sudah bergeser. Sudah mencari titik lemah baru. Chip membantunya—tapi lebih dari itu, tubuhnya sendiri yang mulai mengerti ritme ini. Kombo yang sempurna. Tanpa jeda. Tanpa cacat.
Di tengah hutan yang redup, ia seperti penari. Gerakannya cepat, tepat, mengalir. Ia tidak sekuat Dice. Tidak sedekat itu. Tapi dengan kecepatannya, ia bisa memaksa pembunuh itu terus bertahan.
Dan ritme itu semakin cepat.
Diaaang! Diaaang! Diaaang!
Benturan logam semakin keras. Semakin rapat. Angele menyerang dari sudut-sudut yang tidak terduga. Ia meminjam kekuatan dari setiap tangkisan. Membalikkannya. Mengembalikannya. Wajah Dice mulai memerah. Ia tidak menyangka dirinya terdesak.
Ia terlalu lambat. Pengalamannya sebagai pembunuh tidak banyak membantu ketika tubuhnya tidak bisa mengimbangi mata. Dan yang membuatnya lebih takut—bilah pedang Angele. Ada warna biru aneh di ujungnya. Bukan pantulan cahaya. Sesuatu yang lain.
Dice tidak mau menyentuhnya.
“Sialan!”
Ia menggeram. Lalu melompat jauh ke belakang. Jarak.
Tangannya merogoh kantong di punggung. Lima bilah perak muncul di jari-jarinya. Dilempar sekaligus. Dua ke dada. Tiga ke kepala.
Angele tidak sempat berpikir.
Ia berguling ke kiri. Pedangnya memblokir dua—tapi dua lainnya menyerempet bahunya. Satu lagi...
Satu lagi menancap di lengan kiri.
Darah mengucur. Panas. Angele menggigit bibirnya sendiri. Sakitnya luar biasa. Wajahnya langsung kehilangan warna. Ia mencabut pisau itu dengan satu sentakan, lalu berguling lagi—menghindari rantai yang menghantam tempatnya tadi berdiri.
Bangkit. Lari.
“Mau ke mana?!”
Dice mengejar. Tapi ia tidak bisa menandingi kecepatan Angele. Setiap kali rantainya dilempar, Angele sudah menyimpang. Zero membisikkan arah. Tubuhnya bergerak sendiri. Menghindar. Zig-zag di antara pepohonan.
Dice mulai melambat.
“AAAAARGH!”
Teriakan frustrasi memecah hutan. Dice berhenti. Paru-parunya terbakar.
Angele sudah menghilang.
“Harusnya... kuberi racun...” Ia terengah. Menyesal. Ia tidak pernah suka meracuni senjata. Baginya itu kotor. Sekarang ia menyesalinya.
Tapi ia sudah menemukan sesuatu. Kelemahan.
“Baiklah. Kalau kau bisa membaca seranganku... aku tidak akan memberimu waktu untuk membacanya.”
Ia menyeringai. Menyeka keringat. Lalu berbalik.
Dan saat itu—
Suara angin.
Dari belakang.
Dice berhenti. Refleks. Rantainya dilempar ke belakang. Tapi terlambat.
Bilah biru itu menghantam bahu kanannya.
Ia berbalik. Angele berdiri di sana. Wajahnya masih pucat. Tapi ia kembali. Tidak melarikan diri. Ia kembali.
Baju kulit Dice robek. Kulitnya terluka. Dan di lukanya, racun mulai masuk.
Dice menatapnya. Matanya membesar.
“Kau...”
“Kau sudah tamat.” Angele tersenyum. Senyum yang tidak menyenangkan.
BAAAK!
Tinju menghantam dada Angele. Begitu cepat. Begitu keras. Tubuhnya terlempar ke semak-semak. Darah muncrat—dari mulutnya, dari lukanya, di mana-mana. Di pohon. Di rumput. Di lumpur hitam. Di tubuh Dice.
Pembunuh itu merogoh saku. Kantong kertas kuning. Bubuk putih. Sekaligus habis ditelan. Tapi tubuhnya sudah bereaksi. Racun Angele bekerja cepat. Jauh lebih cepat dari obatnya.
“Aku harus pergi.” Pikiran itu muncul begitu nyata.
Angele bangkit. Tubuhnya gemetar. Penglihatannya kabur.
‘Periksa kondisi.’
‘Beberapa tulang iga retak. Pendarahan lambung. Total darah hilang: lima persen.’
Lima persen.
“Tidak apa-apa.” Ia menghela napas. Lega.
Pedangnya ia pakai sebagai tongkat. Ia berdiri. Menatap Dice.
Pembunuh dari Dark Emblem itu tidak terlihat baik. Wajahnya membiru. Biru yang tidak alami. Angele mencampur racun ular dengan beberapa racun lain. Ramuan yang bahkan ia sendiri tidak tahu namanya. Tidak ada penawar. Ia mengujinya pada seekor ayam. Mati dalam tiga menit.
Manusia? Mungkin lebih lama. Mungkin tidak.
Dice merasa tubuhnya lumpuh. Matanya menatap Angele. Marah. Benci. Tapi juga... takut.
Ia memutuskan mundur. Sembuh dulu. Baru kembali.
Langkah bayangannya tidak berguna. Serangan jarak jauhnya tidak efektif. Tenaganya yang besar tidak bisa menangkap kecepatan Angele. Ia diracuni. Obatnya tidak bekerja. Tidak ada satu pun rencana yang berhasil hari ini.
“Kau coba melarikan diri?”
Suara Angele. Dice menoleh.
“Satu pertanyaan sebelum aku pergi.” Suaranya berat. “Bagaimana kau tahu di mana aku?”
“Aku baru tahu.” Angele tersenyum. “Ha.”
Dan ia melompat.
DEEENG!
Kedua pedang beradu lagi. Tapi kali ini, kekuatan Dice tidak cukup. Ia terdorong mundur. Mundur. Untuk pertama kalinya, ia kalah dalam posisi.
“AAH!”
Dice menjerit. Ia mengangkat pedangnya. Semua kekuatan yang tersisa ia curahkan dalam satu tebasan. Ia tidak memblokir. Ia tidak menangkis. Ia hanya menyerang. Menukar nyawa.
Dua bilah menghantam.
Bahu Dice. Bahu Angele.
Keduanya robek.
Darah muncrat. Mereka berdiri. Saling bertopang. Saling memegang bahu satu sama lain. Bukan dalam rangkulan. Tapi dalam kebuntuan maut. Darah menetes ke pakaian mereka, ke tanah, ke lumpur yang sudah mulai menghitam.