Chapter 013: Pertatungan (2)
Pedang itu meluncur. Tikaman nekat—lahir dari sisa-sisa keputusasaan yang mengental menjadi nyali.
Angele merasakan getaran aneh merambat di telapak tangannya saat bilah pedang menemui tujuannya. Mata kanan Dice. Ujung baja itu menembus, melesak dalam, lalu muncul kembali di belakang kepala sang pembunuh dengan suara basah yang sulit dilukiskan. Semua tenaga yang tersisa di tubuh Angele ia curahkan ke dalam satu gerakan itu. Tak ada yang ditahan. Bahkan ketika bahu kirinya sendiri teriris lebih dulu oleh tebasan yang hampir mengenai kepala, ia terus memaksakan serangan. Dagingnya tersingkap. Putih tulang mengintip malu-malu dari balik luka yang menganga lebar.
Sesaat, waktu terasa membeku.
Dice mencoba mundur. Tangannya yang gemetar masih mencengkeram rantai—bukan untuk menyerang, tapi untuk mengalihkan. Umpan. Sebuah tipuan putus asa dari seorang pembunuh yang mulai sadar bahwa kali ini ia mungkin kalah. Angele melihat celah. Kalau ia menghindar, kalau ia mundur walau hanya selangkah, pria itu akan lenyap ke dalam bayangan hutan, dan suatu hari nanti akan kembali. Membawa dendam. Membawa maut yang lebih rapi.
Jadi Angele tidak menghindar. Ia justru melangkah maju.
Satu taruhan yang mengerikan.
Dan dengan bantuan bisikan dingin dari chip di dalam kepalanya, ia menang.
“Aku menang! HAHAHAH!”
Tawa itu meledak—parau, hampir seperti lolongan. Bukan tawa kemenangan yang gagah, tapi suara seseorang yang nyaris mati dan memilih untuk hidup. Angele mundur selangkah, mencabut pedangnya dari tengkorak Dice. Darah segar menyembur, membasahi lencana elang di gagang pedang sampai berkilat merah basah. Tubuh Dice terhuyung ke belakang, lalu jatuh dengan bunyi gedebuk kering di atas tanah hutan.
Namun euforia itu tak bertahan lama.
‘Tinggalkan tempat ini dalam lima menit. Bau darah akan menarik pemangsa.’
Suara chip itu datar. Mekanis. Tapi bagi Angele, ia terdengar lebih menusuk dari lolongan serigala.
Ia memaksakan diri untuk berdiri. Menahan bahunya dengan selembar kain seadanya, ia melangkah gontai mendekati tubuh Dice. Napasnya tersengal. Menjarah mayat bukanlah hal yang biasa ia lakukan, dan sesuatu di dalam dirinya terasa sedikit melawan. Tapi ini bukan soal selera—ini soal bertahan hidup.
“Aku baru memenangkan pertarungan…” gumamnya pelan, “...aku butuh trofi.”
Sebilah pisau tersisa di kantong mayat itu. Juga sebuah cincin zamrud kuno—permukaannya retak, seakan menyimpan riwayat yang enggan diceritakan. Sebuah kantong kulit kecil berisi beberapa koin emas dan perak. Angele menyambar semuanya. Juga dua rantai logam dan pedang panjang milik Dice.
Lalu, tanpa menunggu lebih lama, ia berbalik.
“Wooooooo—!”
Lolongan mengerikan memecah kesunyian senja. Dalam, berat, dan jauh lebih besar dari sekadar ancaman. Angele baru melangkah beberapa kali ketika suara itu mengguncang udara di sekelilingnya. Tubuhnya menegang. Dadanya terasa dingin meski lukanya terbakar. Ia mulai berlari. Melupakan rasa sakit. Melupakan kelelahan. Kakinya menghentak tanah hutan dengan ritme panik yang hanya dimiliki oleh hewan buruan.
Binatang itu mengaum di belakang sana. Di tempat yang baru saja ia tinggalkan. Suaranya jauh lebih mengerikan dari babi hutan yang pernah ia temui. Mungkin beruang gunung. Mungkin lebih tua, lebih lapar, lebih besar. Ratusan burung terbang berhamburan dari pepohonan, menciptakan bayangan kacau di langit jingga.
Angele tidak menoleh.
Biarlah tubuh Dice menjadi persembahan—mungkin itu bisa membeli waktu beberapa menit.
Ia terus berlari. Tanpa henti. Sampai akhirnya, bayangan dua penjaga muncul di tepi hutan. Keduanya berdiri dengan wajah cemas, mungkin sudah mendengar lolongan mengerikan tadi.
“Tuan Muda Angele! Astaga—apa yang terjadi?!”
“Bawa aku kembali ke kastil,” suara Angele nyaris tinggal bisikan. Lututnya gemetar. Kedua penjaga segera menangkap tubuhnya sebelum ia roboh. Kavaleri di lapangan latihan melihat kekacauan itu dan bergegas mendekat. Latihan dihentikan. Suara binatang dari balik pepohonan masih terdengar sayup-sayup, menciptakan kegaduhan yang menekan dada semua orang.
---
Rumor menyebar lebih cepat dari api di musim kering.
Ada yang bilang Angele terluka saat berburu. Ada yang menduga ia dirampok penyamun. Beberapa bahkan berbisik dengan mata melebar bahwa ia bertemu beruang hitam legendaris—makhluk yang lebih sering ada di dongeng ketimbang di dunia nyata. Para pelayan sibuk bergosip, begitu pula pekerja dapur dan calon-calon ksatria muda yang biasanya sibuk berlatih.
Sementara itu, Angele terbaring di ranjangnya seperti mumi yang baru dibalut. Sinar matahari senja masuk lewat jendela, menciptakan semburat keemasan yang kontras dengan perban putih di sekujur tubuhnya. Para dokter sudah datang, membersihkan luka, menjahit yang perlu, lalu pergi dengan daftar panjang pantangan. Ditinggalkannya Angele dalam keheningan yang hanya ditemani oleh detak jam tua di sudut ruangan.
Cecilia duduk di sisi ranjang. Gadis itu memutuskan untuk merawat Angele sendiri. Sepiring buah sudah disiapkan, meskipun Angele lebih banyak tertidur daripada terjaga. Ketika akhirnya ia membuka mata, rasa sakit di tubuhnya sudah berkurang. Bola-bola besi yang biasanya berserakan di lantai kamar sudah dipindahkan Cecilia ke sudut. Barang-barang hasil jarahan juga sudah dibersihkan dan diletakkan rapi di atas selimut.
“Ada yang datang waktu aku tidur?” tanya Angele. Suaranya serak, tapi stabil.
“Tuan Wade tadi ke sini,” jawab Cecilia lembut. “Tapi Tuan sedang tidur. Beliau bilang aku harus merawat Tuan baik-baik sebelum pergi. Ms. Maggie dan Ms. Celia juga datang.”
Angele mengangguk tanpa berkata banyak. Baron—ayahnya—masih di tambang perak. Perlu waktu lima hari perjalanan untuk kembali. Kalau pun seseorang mengirim kabar, tetap butuh waktu. Kastil ini ada di pusat wilayah, sementara tambang di tepi perbatasan. Cukup jauh untuk memberi Angele keleluasaan menyusun cerita.
“Oh ya,” Cecilia menambahkan, “Tuan Wade juga bilang, binatang yang Tuan temui tadi... mungkin beruang gunung dewasa. Katanya jauh lebih kuat dari beruang hitam. Raja hutan.”
“Beruang gunung dewasa…” Angele menjilat bibirnya yang kering. Ia ingat ilustrasi di buku perpustakaan khusus. Secara fisik hampir identik dengan beruang hitam, tapi kekuatannya berlipat. Lebih lambat, tapi kulitnya keras seperti perisai dan tahan racun. Salah satu predator puncak di Kekaisaran Rudin. Dalam kondisi marah, binatang itu bisa menghadapi dua sampai empat ksatria sendirian. Baron sendiri pernah memburu beruang hitam biasa—dan itu saja sudah dianggap pencapaian besar.
Kalau tadi Angele benar-benar bertemu makhluk itu… ia pasti sudah mati.
“Beruntung sekali,” bisiknya. Kali ini ia benar-benar mengakuinya dalam hati. Bukan sekadar basa-basi.
Dokter tadi mendengar versi cerita yang sudah diolah. Angele mengatakan ia hanya berada di sekitar lokasi saat seseorang bertarung dengan beruang. Pedang terbang dan mengenai bahunya. Sebilah pisau menyusul. Ia nyaris tewas, lalu mengambil beberapa barang yang berserakan sebelum melarikan diri. Tidak ada pembunuh. Tidak ada pertarungan hidup-mati satu lawan satu. Cukup sekadar kecelakaan absurd yang terdengar hampir konyol.
Kepala dokter hanya geleng-geleng kepala. Katanya, Angele sangat beruntung tidak kehilangan nyawa.
Dan Angele ingin semua orang percaya itu. Semakin cepat rumor ini menjadi kisah resmi, semakin baik.
Sebab kalau ada yang tahu bahwa ia membunuh seorang pembunuh dari Dark Emblem... persoalannya akan jauh lebih besar. Karl, Wade, dan Audis tahu betul sejauh mana kemampuan Angele sebelum ia jatuh dari kuda. Latihan pedang terakhir dengan ayahnya masih segar dalam ingatan semua orang. Tiba-tiba ia bisa mempelajari satu set lengkap keterampilan pedang dalam waktu singkat? Tidak masuk akal. Makanan acak yang meningkatkan atribut tubuh? Terlalu aneh.
Ia perlu cerita yang masuk akal.
Angele mengalihkan pandangan pada barang-barang di atas tempat tidur. Tangannya meraih satu per satu. Kantong kulit lebih dulu. Beberapa koin emas, beberapa koin perak. Nilainya bahkan tak menyamai uang saku bulanannya sendiri. Sepuluh koin perak hanya setara satu koin emas, dan ia terbiasa dengan lebih dari itu. Tanpa minat lebih, ia menepikan kantong itu.
Berikutnya, rantai logam. Hitam, dengan cakar di ujungnya. Ada lapisan cat khusus yang membuatnya berpendar dalam gelap. Tajam. Begitu diletakkan di atas seprai, kainnya langsung robek sedikit. Angele mengamatinya sejenak, lalu beralih.
Pedang panjang. Tanpa lambang, tanpa tanda pengenal. Bilahnya bersih, bahkan setelah pertarungan brutal tadi. Tidak ada retakan. Bahan berkualitas tinggi.
“Bahan bagus,” gumam Angele. Ia memutuskan akan memakainya sebagai senjata utama.
Lalu, yang terakhir. Cincin.
Jarinya menyentuh permukaan logam yang dingin. Warna tembaga kusam, tapi entah kenapa terasa asing—bukan tembaga biasa. Tidak ada ukiran, tidak ada lambang. Sangat sederhana. Bahkan, ada jejak-jejak seperti sering digosok berulang kali. Di tengahnya, sebundel zamrud dengan retakan yang mencoreng keindahannya.
“Ini... rusak?” tanyanya pada diri sendiri. Cecilia memperhatikan dengan rasa ingin tahu yang nyata. Gadis itu tadi lebih banyak diam, tapi begitu Angele menyentuh cincin itu, matanya terpaku.
“Kau boleh keluar dulu,” kata Angele pelan. Bukan perintah kasar—hanya butuh ruang.
“Oh... baik.” Cecilia sedikit terkejut. Ia meletakkan piring buah, membungkuk sejenak, lalu beringsut keluar. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang lembut.
Angele menatap cincin itu lagi. Tanpa saksi.
Jemarinya memutar benda itu perlahan. Ada sesuatu. Bukan suara, bukan cahaya, melainkan firasat yang merayap seperti uap dingin di belakang leher. Zamrud retak itu seperti menyimpan denyut yang sangat pelan—nyaris tidak terasa, tapi jelas ada.
Cincin ini. Dice membawanya sepanjang waktu, bahkan dalam pertarungan hidup-mati. Sekarang Angele tahu kenapa.
Ini bukan sekadar perhiasan.