Pintu perpustakaan tertutup di belakangnya. Sunyi.
Angele menghela napas pelan. Udara di ruangan ini selalu sama—kering, berbau kertas tua dan kulit samak. Tiga rak buku berdiri di hadapannya. Tak semuanya penuh, tapi buku-buku yang ada di sini berbeda dari yang lain di kastil. Tebal. Berat. Kulit asli. Beberapa bahkan punya bekas logam di sudutnya.
Langkahnya otomatis menuju rak ketiga. Ke bagian belakang.
Jemarinya menyusuri punggung buku-buku itu sampai berhenti di satu jilid yang ia kenali. Buku aneh. Isinya bukan sejarah atau taktik perang. Lebih seperti... katalog. Katalog hal-hal ganjil yang pernah ditemukan orang di dunia ini. Dulu, Angele yang asli membacanya hanya untuk mengisi waktu. Sekarang, Ye Song membacanya dengan tujuan berbeda.
Ia tarik satu biografi tua, lalu berjalan ke meja baca.
Halaman demi halaman ia buka.
Lilin di atas meja mulai memendek. Nyala apinya bergoyang-goyang, sesekali hampir padam. Tapi mata Angele tidak beranjak. Ia mencari satu gambar. Satu simbol.
Dan akhirnya—
"Itu dia."
Kartu hitam di tangannya ia angkat. Membandingkannya dengan ilustrasi di halaman buku. Persis. Latar gelap. Laba-laba merah darah. Lengkungan kakinya, kilat di tubuhnya—semua sama.
Matanya turun ke teks di samping gambar.
Dark Emblem. Organisasi pembunuh yang beroperasi di beberapa kerajaan. Setiap target akan menerima kartu hitam sebelum algojo datang. Hanya satu kalimat. Tapi cukup. Jauh lebih dari cukup.
"Orang itu akan datang untukku."
Kata-katanya meluncur pelan. Hampir seperti berbisik. Dadanya terasa sesak lagi, tapi kali ini ia tidak membiarkan rasa itu menetap.
Takut tidak akan menolongku.
Ia menutup mata. Mengambil napas. Mengingat sore tadi di kamar mandi. Air hangat. Otot-otot yang perlahan berhenti gemetar. Saat itu ia butuh waktu lama untuk tenang. Sekarang, hanya beberapa detik.
"Aku sudah mati sekali." Sudut bibirnya tertarik. "Mati lagi juga tidak apa-apa."
Tawa kecil. Kering. Tapi tawa.
Zero. Data pria yang menyerangku.
Suara mekanis menjawab di kepalanya.
'Data tersimpan sebagai Dataset 1. Nama: Tidak diketahui. Kekuatan: 4. Kelincahan: 1,5. Stamina: 5. Senjata: rantai kait, pedang panjang, pisau.'
Angele membeku.
...Bagaimana caranya aku selamat?
'Target diracuni sebelum kontak.'
Racun.
Seketika ingatannya mundur. Saat ia menembakkan panah pertama—tepat sebelum rasa bahaya itu muncul. Ia tidak melihat hasilnya. Tapi sekarang ia tahu. Panah itu mengenai. Dan bukan panah biasa. Ia sudah mencelupkannya ke racun ular bermata satu merah. Kebiasaan baru yang ia mulai seminggu terakhir. Kalau buruan kena, ia bisa melacaknya. Kalau mau dimakan, ia bakar dulu lukanya.
Tanpa sadar, ia menyeringai.
Racun itu menyelamatkannya.
Ia kembali menunduk ke buku. Kali ini lebih cepat. Matanya memindai halaman demi halaman, dan Zero bekerja di latar belakang. Setiap kata direkam. Setiap gambar disimpan. Satu detik per halaman. Otaknya kini punya mesin penyalin di dalamnya.
Lalu ia menemukan sesuatu yang lain.
Bunga.
Catatan tentang bunga merah menyala. Penulisnya menyebut tanaman itu bisa membuat orang bertarung dengan kekuatan berkali-kali lipat. Untuk sesaat. Tapi semua yang memakannya... mati. Jantung mereka berhenti mendadak.
Angele menyimpan gambar itu ke dalam chip.
Dua buku lagi ia baca sebelum semuanya ia kembalikan ke rak. Lilin di meja hampir habis. Tepat saat ia hendak meniupnya—
Derit.
Pintu terbuka.
"Ka-cha."
Baron Karl masuk. Wajahnya serius, lebih serius dari biasanya. Ia tidak menduga akan ada orang di perpustakaan jam seperti ini. Matanya bertemu dengan Angele.
"Masih membaca, Angele?"
Suaranya datar. Tapi Angele bisa mendengar sesuatu di baliknya. Kelelahan. Bukan fisik. Lebih dalam.
"Ya, Ayah." Angele memberi hormat ringan. "Aku kembali ke kamar sekarang."
"Baiklah."
Baron tidak melanjutkan. Rambutnya tergerai di bahu. Matanya sedikit merah. Angele tidak tahu harus berkata apa. Jadi ia memilih diam. Melangkah menuju pintu.
"Nanti."
Suara Baron menghentikannya tepat di ambang tangga.
"Aku akan mengirimmu ke kota Noman. Tempat bibimu. Aku... terlalu sibuk akhir-akhir ini. Mungkin tidak bisa mengurusmu dengan baik. Kau bisa beristirahat di sana. Bagaimana?"
Angele berbalik.
Tawaran yang menarik. Sangat menarik. Jauh dari sini. Jauh dari hutan. Jauh dari pembunuh yang mungkin masih mengintai.
Ia membuka mulut—
"Aroma apa itu?" Baron tiba-tiba memotong. Lubang hidungnya mengembang. "Wangi perempuan? Angele, kendalikan dirimu. Jangan habiskan terlalu banyak waktu untuk hal seperti itu."
"Aku—"
"Sudahlah. Istirahat saja."
Baron mengibaskan tangan. Tidak memberi ruang untuk penjelasan.
Angele menutup mulutnya. Ia menunduk, lalu keluar. Langkahnya menggema di tangga gelap. Samar-samar, ia masih melihat cahaya lilin dari celah pintu perpustakaan di atas.
Periksa kondisi tubuhku.
'Angele Rio. Kekuatan: 0,8. Kelincahan: 2,4. Stamina: 1,6. Status: Sehat. Terdeteksi aroma khusus.'
"Aroma khusus?"
Langkahnya berhenti.
'Diperoleh sebelum meninggalkan hutan. Sumber: kaki kanan.'
Zero memproyeksikan diagram tubuhnya. Lingkaran-lingkaran biru berkumpul di sekitar kaki kanannya. Pekat.
Pikirannya langsung melesat.
Pria berbaju hitam itu.
Bukan racun yang ia tinggalkan. Bukan luka. Melainkan sesuatu yang lebih halus. Parfum pelacak.
Ia setengah berlari ke kamar mandi. Menyuruh pelayan membawa seember air. Kaki kanannya ia celupkan. Ia gosok. Keras. Berulang-ulang. Sabun dari lemak hewan ia pakai. Airnya berganti dua kali.
Zero. Masih ada?
'Konsentrasi tidak berkurang.'
Tangannya berhenti.
"Aku tahu ini tidak akan semudah itu."
Bau itu dirancang untuk menempel. Bukan di kulit. Mungkin di bawahnya. Atau di sesuatu yang lebih dalam. Pria itu tidak hanya mencoba membunuhnya. Ia menandainya. Seperti hewan buruan.
"Dia benar-benar ingin aku mati."
Nada suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih dingin.
"Mari kita lihat... siapa yang selamat lain kali."
---
Pagi berikutnya.
Langit masih gelap ketika Angele membuka mata. Ia bangun lebih awal dari para penjaga. Lebih awal dari ayam jantan di kandang.
Pakaian berburu putih ia kenakan. Bersih. Rapi. Langkahnya menuju tempat latihan ringan, nyaris tanpa suara.
Dang!
Suara palu menghantam besi. Tempa di sudut lapangan sudah menyala. Seorang lelaki tua setengah telanjang—tubuhnya padat, otot-otot lengannya seperti akar pohon—sedang memukul logam yang membara. Di sampingnya, seorang remaja mendengarkan dengan khidmat.
Begitu melihat Angele, lelaki tua itu berhenti. Meletakkan palu. Berjalan mendekat.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda Angele?" Suaranya bergema. Berat.
Angele mengedarkan pandangan ke sekeliling toko. Armor-armor setengah jadi. Pedang-pedang tanpa gagang. Perisai yang belum dipoles.
"Aku mau satu set pelindung tubuh. Yang bagus."
"Set lengkap?" Si tua mengernyit. "Aku punya. Tapi... mungkin tidak cocok untukmu."
"Karena ukuranku?"
"Yang paling ringan beratnya empat puluh pon." Mata lelaki itu menatap Angele. Jujur. Tidak menghakimi.
Empat puluh pon.
Angele menghitung cepat di kepalanya. Dengan kekuatannya sekarang, beban sebanyak itu akan melumpuhkannya. Bukan melindungi. Tapi menjebak.
"Kalau begitu... bola besi saja. Yang buat menahan gerbong."
Si tua menunjuk sudut toko.
"Sisa besi. Ambil semaumu. Biasanya cuma dipakai buat parkir kereta."
Angele menoleh. Sudut itu penuh. Bola-bola hitam. Bundar. Seukuran kepalan tangan orang dewasa. Dua puluh, tiga puluh—mungkin lebih. Berat. Padat. Dibentuk hanya untuk menyimpan besi dalam bentuk yang mudah dipakai nanti.
"Idealku ambil sepuluh."
Ia meminta beberapa pekerja membawakan bola-bola itu. Lalu ia menyuruh pelayan mengikatnya dengan tali linen. Digantung. Satu per satu. Di balok kamarnya.
Semua selesai menjelang matahari terbenam.
Sinar merah menerobos jendela. Mengalir ke lantai kayu. Di atas kepala Angele, sepuluh bola besi bergelantungan. Seperti meriam-meriam kecil yang siap dijatuhkan. Tersusun dalam pola tertentu.
Ia berdiri di tengah ruangan. Menatap bola-bola itu. Diam.
Kunci pintu ia putar.
Napas panjang.
"Mulai."
Ia melangkah ke bola pertama. Mendorongnya. Bola itu berayun. Lalu ia bergerak ke bola berikutnya. Mendorong lagi. Ayunan mulai liar. Bola-bola lain ikut bergerak, menciptakan jaringan gerak kacau.
Matriks bola besi.
Permainan lama dari Bumi. Dulu ia memainkannya dengan AI. Simulasi. Virtual. Bisa bertahan lebih dari satu jam tanpa terkena. Sekarang? Semuanya nyata. Besi. Daging. Tulang.
PONG!
Bola pertama menghantam dadanya. Ia tersentak. Kehilangan keseimbangan. Bola kedua datang dari kiri. Ketiga dari belakang. Keempat. Kelima. Tubuhnya terpental seperti boneka sebelum jatuh ke lantai.
Lima kali ia mencoba. Lima kali ia terkapar.
"Berapa lama pemulihan?"
'20 menit.'
Ia mengangguk. Bangkit. Keluar kamar.
Tempat latihan sudah remang-remang. Tapi masih ramai. Lingkaran penonton berdiri di sekeliling arena. Di tengah, dua sosok beradu pedang.
Kerry. Dan Audis.
Pedang crossguard. Benturan logam. Kerry menyerang dengan seluruh tenaganya. Keringat membasahi tubuhnya. Setiap tebasan diayunkan dengan intensitas yang hampir putus asa. Tapi Audis? Diam. Tenang. Tangannya bergerak sedikit, dan setiap serangan Kerry mentah begitu saja.
Penonton bersorak.
Angele memilih tempat agak jauh. Menyendiri. Matanya merekam setiap gerakan. Setiap sudut ayunan. Setiap langkah kaki. Zero bekerja dalam diam. Setelah setengah bulan, ia sudah mengumpulkan data dari setiap petarung kuat di kastil ini. Audis. Karl. Kerry. Tinggal sedikit lagi.
"Zero. Status data?"
'Kelengkapan: 70 persen. Data pedang Audis, Karl Rio, dan Kerry: lengkap.'
Cukup.
Ia berbalik. Berjalan menuju ruang makan. Latihan malam ini bukan urusannya lagi. Ada hal lain yang menunggu.
Sebagian besar pekerja dapur masih di tempat latihan. Berebut menonton duel. Hanya beberapa pelayan yang tersisa, membersihkan meja dan lantai. Salah satu dari mereka mendekat begitu melihat Angele masuk.
"Tuan Muda... barang-barang yang Anda pesan sudah datang." Suaranya gugup. "Tapi saya tidak yakin dapat semuanya. Waktunya tidak cukup."
"Di mana?"
"Dapur, Tuan Muda."
Mereka berjalan cepat. Dapur besar itu diterangi beberapa lilin. Meja panjang di tengahnya penuh. Buah-buahan. Sayuran. Daging-daging yang masih mentah. Semua berantakan, seperti baru saja diturunkan dari gerobak.
"Itu saja yang bisa saya temukan."
"Baik. Kau boleh pergi."
Pelayan itu membungkuk. Dua koin perak Angele selipkan ke tangannya. Matanya berbinar. Pintu ditutup pelan.
Sunyi.
Hanya Angele, lilin, dan makanan.
Ia mengambil satu buah ungu dari tumpukan. Seperti jeruk, tapi warnanya ganjil. Ia gigit. Jusnya meleleh di lidah. Pedas. Manis. Belum pernah ia rasakan sebelumnya.
'Analisis buah ini. Cari elemen yang bisa meningkatkan stamina.'
'Menganalisis kandungan...'
Suara Zero bergema di dalam kepalanya. Angele menatap meja penuh makanan di hadapannya.
Satu per satu. Ia akan mencicipi semuanya.
Sebab di dunia ini, tidak ada cara yang lebih pasti untuk menjadi kuat selain memakan apa yang diberikan alam.