Dapur itu sunyi sekarang.
Hanya Angele, nyala lilin yang bergoyang pelan, dan meja panjang yang penuh sesak dengan makanan. Buah ungu. Sayuran merah. Daging berwarna biru kehitaman. Kacang-kacangan dalam berbagai bentuk dan ukuran. Semua berantakan, seperti pesta yang belum dimulai.
Ia sudah mencicipi banyak.
Setiap gigitan, setiap tegukan, setiap kunyahan—ia biarkan Zero bekerja.
'Tidak ada efek peningkatan terdeteksi.'
Suara itu terus berulang. Mekanis. Datar. Nyaris membuat frustrasi.
Setengah jam berlalu. Lilin di dapur mulai meleleh, meninggalkan genangan lilin di atas meja kayu. Angele mulai berpikir mungkin usahanya sia-sia. Mungkin hanya mata ular itu yang punya efek khusus. Mungkin tidak ada lagi.
Lalu—
'Terdeteksi. Bermanfaat untuk peningkatan kekuatan. Kemungkinan efek samping: diare. Silakan beri nama data.'
Angele menghela napas.
Akhirnya.
Tapi... diare.
Ia menatap sayuran di tangannya. Sekilas, benda ini seperti rebung biasa. Yang tumbuh di bumi, yang sering ia lihat di pasar-pasar kota lamanya. Tapi warnanya biru. Biru pucat, seperti es yang baru membeku. Teksturnya lembut saat disentuh, tapi saat digigit—renyah. Dan aromanya... seperti bunga.
'Beri nama: Blue Bamboo Shoot.'
'Penamaan selesai. Konsumsi tiga kali sehari. Total tiga puluh kali konsumsi akan meningkatkan kekuatan sekitar dua poin.'
Data biru mengalir di depan matanya. Grafik rebung ditampilkan. Zero menandai bagian kepalanya—di sanalah esensi terkonsentrasi. Di sanalah peningkatan terbesar bisa didapat.
"Kepala rebung..."
Angele mengambil satu batang. Menggigit kepalanya langsung. Pahit di awal. Lalu manis. Aneh. Tapi tidak menjijikkan.
Penduduk lokal biasanya memakai sayuran ini sebagai bantuan pencernaan. Serat. Tidak lebih. Tidak ada yang tahu bahwa benda ini bisa memperkuat tubuh. Tapi ada syaratnya: lebih dari tiga puluh kali. Dan setiap kali, tidak boleh kurang dari seratus lima puluh gram.
Angele mengunyah perlahan. Menghitung.
'Baik. Sekarang analisis semua data keterampilan pedang yang sudah dikumpulkan. Gabungkan semuanya. Temukan set yang paling cocok untukku.'
Ia memberi perintah sambil terus mengunyah. Zero bekerja paling efisien saat instruksinya spesifik. Dan sekarang, Angele butuh hasil. Butuh sesuatu yang bisa ia pakai.
'Semoga chip ini bisa multitasking... akan menghemat banyak waktu.'
Ia menghabiskan seratus lima puluh gram rebung biru. Lalu mencoba makanan lain. Satu per satu. Berharap menemukan sesuatu lagi. Tapi tidak ada. Hanya rebung itu.
Pintu dapur ia tinggalkan.
Kembali ke kamar. Bola-bola besi masih bergelantungan di langit-langit. Menunggu.
Maggie dan Celia mencoba mendekatinya beberapa kali dalam beberapa hari terakhir. Tapi ia menghindar. Sengaja. Tidak ada waktu untuk basa-basi. Tidak ada waktu untuk godaan remaja. Hanya ada waktu untuk satu hal: persiapan.
Hari-hari berikutnya mengikuti pola yang sama.
Latihan. Makan. Latihan. Istirahat. Latihan lagi.
---
PONG!
Telapak tangan kanan Angele menahan bola besi yang mengayun ke arahnya. Pagi buta. Cahaya dari jendela masih redup, menyelimuti tubuhnya yang berkeringat. Pintu terkunci. Sendirian.
Napasnya tersengal.
'Apakah set keterampilan pedang sudah selesai?'
'Selesai tiga jam lalu. Silakan beri nama set.'
'Keterampilan Pedang Dasar.' Sebut saja begitu. Sederhana.
'Nama disimpan. Ingin demonstrasi visual?'
'Ya.'
Zero mulai menyuntikkan gambar ke dalam benaknya.
Dalam simulasi itu, seorang pria berdiri. Wajahnya mirip Angele. Tubuhnya mirip Angele. Tapi gerakannya... bukan Angele yang sekarang. Bukan Angele yang masih sering terpental oleh bola besi.
Pria itu mengangkat pedang.
Satu tebasan depan.
Lalu menyusul dengan serangan ke sisi depan, tebasan kiri, tusukan kanan, dan tebasan rendah. Semua mengarah ke titik yang sama. Satu titik.
Seluruh rangkaian selesai dalam dua detik.
Angele hampir tidak percaya. Empat tebasan, satu sasaran. Kecepatannya seperti ilusi. Seakan pedang itu berlipat ganda di udara.
Pria itu melanjutkan. Teknik memblokir. Teknik memajukan. Serangan kekuatan penuh. Keterampilan menangkis. Manuver menghindar. Semua keterampilan dasar yang sudah dikumpulkan Zero dari Audis, Karl, Kerry, dan para petarung kastil.
Semua digabung. Dioptimalkan. Dibentuk menjadi satu set yang paling cocok untuk tubuhnya.
Simulasi selesai.
Angele membuka mata. Kembali ke kamarnya. Bola-bola besi masih bergelantungan.
"Ini set terbaik yang bisa kupakai sekarang." Ia bergumam pelan. "Dan chip sudah memastikan aku bisa melakukan semuanya."
Tangannya meraih pedang pengawal di samping meja. Gagangnya berukir lambang Keluarga Rio. Seekor elang yang meronta keluar dari duri. Tubuh pedangnya perak. Mengkilap. Tajam.
Ia menarik pedang itu perlahan. Mulai berlatih.
Tiba-tiba—
Suara tapak kuda.
Angele membuka jendela. Di jalan utama yang menuju keluar kastil, Baron Karl menunggang kuda putih. Baju zirah perak lengkap membungkus tubuhnya. Pedang hitam besar tersandang di punggung—lebarnya selebar kepala manusia.
Sepuluh kavaleri mengikuti di belakangnya.
Mereka bergerak cepat. Meninggalkan kastil. Angele menatap mereka sampai sosok terakhir hilang di balik pepohonan.
Ia menutup jendela.
"Maggie!"
Pintu dibuka tak lama kemudian. Maggie berdiri, masih menyeka tangannya dengan kain. Sepertinya ia sedang mencuci sesuatu.
"Ada apa, Tuan Muda?"
"Ke mana Ayah pergi?"
"Ada masalah di tambang perak. Baron pergi memeriksa."
Angele mengangguk. "Kau bisa lanjutkan pekerjaanmu."
Saat Maggie hendak berbalik, Angele memanggil lagi.
"Tunggu. Bagaimana Cecilia?"
"Aku menyuruhnya membersihkan kamar Tuan Muda."
"Baik."
Maggie masih berdiri di depan pintu. Seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Tuan Muda... Knight Audis sudah kembali ke wilayahnya pagi ini. Wade sedang merekrut pelayan baru. Oh, dan beberapa pencuri dijatuhi hukuman mati kemarin. Mungkin akan ramai di kastil nanti. Wade menyuruhku memberitahu Tuan Muda."
"Dimengerti."
Angele menutup pintu.
November. Bulan tersibuk dalam setahun. Perekrutan. Pajak. Penghitungan hasil panen. Semua terjadi di bulan ini. Kastil akan sibuk. Dan itu artinya... lebih sedikit orang yang memperhatikan dirinya.
Ia memeriksa kondisi tubuhnya.
'Kekuatan: 1,4. Kelincahan: 2,4. Stamina: 1,6.'
Angka pertama membuatnya tersenyum tipis. Dari 0,8 ke 1,4. Blue Bamboo Shoot bekerja.
'Hampir waktunya. Tiga atau empat hari lagi. Persiapan hampir selesai.'
Ia menatap bola-bola besi di langit-langit.
'Satu hal terakhir.'
---
Di hutan.
Di luar kastil.
Dice berdiri di atas dahan. Tinggi. Tersembunyi di antara dedaunan. Matanya menatap kastil yang mulai ramai di kejauhan.
Orang-orang hilir mudik seperti semut.
"Ha. Angele Rio."
Suaranya rendah. Dingin. Penuh sesuatu yang menggelegak di dada.
"Aku akan menyelesaikanmu dulu sebelum misi utama. Kau mempermainkanku terakhir kali... di mana kau akan bersembunyi sekarang?"
Ia sudah tahu siapa pemuda itu. Mencari informasinya setelah pertemuan pertama. Seorang playboy. Putra Baron yang lemah. Tidak punya Benih. Tidak bisa diperhitungkan.
Dan fakta itu membuatnya semakin marah.
Seorang professional seperti dirinya—gagal membunuh anak kemarin sore?
Harga dirinya tidak bisa menerima.
Rencananya sudah disusun kali ini. Sempurna. Baron baru saja meninggalkan kastil. Ia akan membunuh Angele lebih dulu—cepat, tanpa ampun—lalu mencegat Baron dalam perjalanan pulang. Dua target dalam satu hari.
Ia berjongkok di dahan. Sabar. Menunggu.
Pintu gerbang diturunkan.
Seorang pemuda keluar. Dua penjaga di belakangnya. Berjalan ke arah hutan.
Dice menyipitkan mata.
Wajah pucat. Rambut cokelat pendek. Postur yang masih tampak lemah.
"Itu dia!"
Ia nyaris tertawa.
"Bocah kecil... Bagus..."
Tubuhnya melompat dari dahan. Mendarat tanpa suara. Menghilang ke dalam hijau.
---
Angele melangkah masuk ke hutan.
Pedang di pinggang. Busur di punggung. Cincin hitam melindungi jemarinya. Ia sendiri. Dua penjaga sudah disuruh kembali setelah perdebatan panjang. Mereka sudah terbiasa dengan kebiasaannya—berburu sendiri, menjelajah sendiri. Mereka pikir tidak ada yang berbahaya.
Mereka salah.
Kali ini Angele tidak datang untuk berburu.
Ia datang untuk sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan pada siapa pun.
Ia melewati lapangan latihan. Memasuki pepohonan. Udara mulai berubah. Lebih dingin. Lebih lembab. Suara burung dan serangga mengisi ruang.
'Orang tak dikenal di depan. Bersiap untuk bertahan.'
Peringatan Zero datang tiba-tiba.
Dan hawa dingin itu—hawa yang sama seperti sebelumnya—merayapi tulang punggungnya.
Angele tidak berpikir.
Tubuhnya berguling ke depan.
Wussh!
Pisau perak melesat. Menancap tepat di posisi ia berdiri sebelumnya. Tanah tercabik.
Itu dia!
Amarah muncul. Bukan amarah yang meledak-ledak. Tapi amarah dingin. Amarah karena terakhir kali ia hanya bisa berlari. Hanya bisa bersembunyi. Hanya bisa gemetar seperti hewan buruan.
'Tunjukkan posisinya.'
Angele bangkit cepat. Menghilang di balik pohon. Jemarinya sudah menarik sebatang anak panah dari tabung. Seperti yang direncanakan. Seperti yang dilatih.
Ia celupkan panah ke racun.
Bukan racun ular kali ini.
'Kali ini berbeda...'
Pikirannya fokus sepenuhnya. Telinganya menangkap setiap gerakan. Setiap gemerisik daun. Setiap langkah kaki.
"Matilah."
Ia muncul dari balik pohon. Melepaskan panah.
Kilatan putih memotong udara. Menuju rumpun rumput tinggi.
Denting!
Suara logam membentur logam. Panahnya diblokir.
Tapi Angele justru tersenyum.
Jantungnya berdetak cepat. Darahnya berdesir. Ia tahu hidupnya di ujung tanduk. Tapi kali ini... ia tidak hanya berlari.
Suara rantai logam.
Angele tidak ragu. Satu panah lagi ia lepaskan. Lalu ia berlari keluar dari semak-semak. Bergerak dalam lintasan S—berkelok seperti ular—untuk menghindari serangan yang mungkin datang.
Langkah kaki cepat dari belakang.
Musuhnya mengejar.
Angele terus menembak. Terus berguling. Terus bergerak.
Lalu ia menemukan lereng.
Tanpa pikir panjang, ia melemparkan tubuhnya ke bawah. Berguling di tanah. Lumpur menempel di wajahnya, di bajunya, di rambutnya. Tapi ia tidak peduli.
Ia mencabut pedangnya.
Berdiri.
Bilah pedang itu beracun. Sama seperti panahnya. Ia memegangnya dengan dua tangan. Napasnya dalam. Teratur. Matanya menatap ke atas bukit.
Langkah kaki semakin dekat.
Aku masih belum cukup baik...
...tapi setidaknya sekarang aku bisa mencoba membalas.
Ia mengumpulkan seluruh kekuatannya. Menggenggam pedang lebih erat. Otot-ototnya menegang.
Dan ia melompat.
Tubuhnya melesat ke atas bukit seperti ular yang menyambar.