Angele melangkah lebih dalam.
Busur masih di tangannya. Jemarinya sudah hafal setiap lekukan kayu itu. Setengah bulan berburu di hutan ini membuat tubuhnya akrab dengan setiap akar pohon, setiap batu tersembunyi, setiap jalur hewan yang memotong semak-semak.
Ia pernah berpapasan dengan babi hutan bersisik putih di area yang lebih dalam. Sudah ditanganinya. Mudah.
Jadi ia tidak terlalu khawatir.
---
'Target asing terdeteksi. Lanjutkan dengan hati-hati.'
Data biru melintas di depan matanya.
Angele menghentikan langkah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat—bukan karena takut, melainkan antisipasi. Ada sesuatu yang baru. Ia belum pernah melihat notifikasi seperti ini sebelumnya.
Ia mengambil sebatang anak panah. Bulu putih. Memasangnya pada tali busur. Gerakannya lambat, terukur. Membidik ke arah titik biru yang ditandai Zero.
Tangan kirinya mendorong busur. Tangan kanannya menarik tali. Anak panah hitam memantulkan sinar mentari yang jatuh di sela dedaunan.
Ia menarik sampai busur menekuk sempurna.
Lalu melepaskan.
Bam!
Anak panah melesat. Kilatan putih memotong udara.
---
Dan saat itu juga—
Sesuatu menusuk benaknya.
Bahaya.
Bukan suara Zero. Bukan data biru. Ini lebih primal. Lebih tua. Perasaan yang merayap dari tulang belakang, menjalar ke belakang leher, mencekik tenggorokan. Ia merasa panah itu akan berbalik. Akan menancap tepat di wajahnya sendiri.
Data dari Zero mengalir deras. Tapi tidak ada waktu untuk membacanya.
Insting mengambil alih.
Angele melempar tubuhnya ke kiri. Berguling sekuat tenaga. Bersembunyi di balik pohon besar.
DEG!
Sesuatu menghantam. Bukan tanah. Bukan batu. Sesuatu yang meledak.
Pohon tempat ia bersembunyi bergetar hebat. Daun-daun berguguran seperti hujan. Ranting-ranting kecil patah, beterbangan.
---
"Hah?"
Suara berat dari balik pepohonan. Dalam. Terkejut. Seolah tidak percaya apa yang baru saja terjadi.
Angele masih di balik pohon.
Wajahnya pucat. Matanya terbuka lebar. Dahi dan lehernya basah—bukan oleh keringat biasa, melainkan keringat dingin yang lengket.
Napasnya tersengal.
Satu detik.
Kalau ia terlambat satu detik... kepalanya mungkin sudah pecah sekarang. Terhantam sesuatu yang bahkan belum ia lihat wujudnya.
Zero menyelamatkannya.
Sial. Apa yang harus kulakukan?
Pikirannya kosong. Lalu penuh. Terlalu penuh.
Aku tidak ingin mati lagi.
Tidak bisa.
Tidak seperti ini.
Tangannya gemetar. Seluruh tubuhnya gemetar. Di kehidupan sebelumnya, ia hanyalah pemuda biasa dari dunia yang damai. Berburu saja sudah dianggap kegiatan berbahaya. Dan sekarang...
Sekarang sesuatu sedang mencoba membunuhnya.
---
Lari.
Pikiran itu muncul seperti percikan dalam gelap.
Lari. Kembali. Kastil. Aku akan aman setelah mencapai kastil.
Tapi kakinya tidak langsung bergerak.
Hening.
Setelah ledakan tadi, tidak ada suara apa pun. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada teriakan. Hanya suara hutan yang kembali mengisi ruang—serangga, burung, angin.
Keheningan itu justru lebih mengerikan.
Angele menurunkan tubuhnya. Bergerak perlahan. Merangkak ke arah ia datang.
Lalu—
'Sisi kanan. Kaki.'
Zero memperingatkan lagi.
Angele tidak berpikir. Tidak ragu. Ia melempar tubuhnya ke depan. Berguling. Kepalanya menghantam sesuatu—akar pohon, batu, ia tidak tahu. Sakit. Tapi tidak peduli.
Ia bangkit dan langsung berlari.
BANG!
Tepat di tempatnya tadi berdiri. Sesuatu menghantam tanah. Suaranya berat. Menghancurkan.
"Sialan!" Suara dari kejauhan. Marah. "Kedua kalinya! Sialan!"
---
Angele berlari.
Pohon-pohon di kiri dan kanan melesat seperti bayangan. Jantungnya memompa darah ke seluruh tubuh. Kakinya mendorong tanah dengan kekuatan yang bahkan ia tidak tahu ia miliki.
Ia kenal hutan ini.
Setiap belokan. Setiap akar pohon. Setiap batu besar. Setengah bulan berburu telah memetakan semuanya di dalam kepalanya. Meski jalur hutan rumit, ia tidak melambat sedikit pun.
Tapi ada sesuatu di belakangnya.
Perasaan dingin. Menempel di punggung. Tidak hilang-hilang.
Angele berguling lagi. Ke depan. Cepat. Tapi hawa dingin itu masih di sana. Seperti bayangan yang menolak pergi. Seperti es yang menempel di tulang belikat.
Ia berhenti di balik pohon. Menempel. Menahan napas.
Dingin itu belum pergi.
Panik kembali menyerang. Angele menggigit giginya. Keras. Sampai rahangnya sakit. Ia terus berguling, berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Tubuhnya tergores batu. Tertusuk ranting. Lengan bajunya robek. Ada darah.
Tapi ia tidak peduli.
Pikiran tentang luka-luka itu terlalu kecil. Terlalu jauh. Hanya ada satu hal yang memenuhi kepalanya sekarang: dingin di punggung itu.
---
'Berbalik. Blokir.'
Suara Zero. Datar. Mekanis.
Tapi Angele tidak bisa. Terlalu takut untuk menoleh. Ia terus berlari.
Seratus meter dari tempat latihan kavaleri. Hanya seratus meter. Tapi terasa seperti seribu. Ia sudah terlalu jauh ke dalam hutan.
'Berbalik. Blokir.'
Zero mengulangi.
Wussh!
Angele berguling lagi.
Dan kali ini ia mendengarnya. Suara rantai logam. Berat. Bergerak cepat di udara. Rantai itu melingkari pohon di depannya, membungkusnya, memblokir jalur kaburnya.
"Lari terus, tikus kecil!" Suara dari belakang. "Sialan, ada apa hari ini?!"
Marah. Sangat marah.
Angele ingin berlari lagi. Tapi ia memaksakan diri berguling ke kanan. Rantai kedua meleset. Menancap di pohon di depan.
---
Tubuhnya berhenti.
Aku tidak bisa lari lagi...
Dingin itu kini tidak hanya di punggung. Tapi di seluruh tubuh. Menyelimuti. Membekukan. Membuat pikirannya yang tadinya kacau menjadi sunyi.
Perlahan... ia berdiri.
Berbalik.
Semak-semak di depan bergerak. Seorang pria muncul. Baju hitam. Topeng hitam. Alis pirang. Dua rantai di tangannya. Rantai itu bergerak-gerak seperti ular.
"Tamulah."
Pria itu melepaskan salah satu rantai. Kilatan hitam melesat dari tangannya. Lebih cepat dari sebelumnya. Angele bisa mendengar suaranya. Desis di udara.
Ia berdiri di tempatnya.
Aku tidak ingin mati...
Bibirnya bergerak sendiri. Mengulangi kata-kata yang sama. Bergema di dalam kepalanya. Rantai itu semakin dekat. Membesar. Menjadi titik hitam yang menelan seluruh pandangannya.
---
'Turunkan tubuh. Cabut pedang. Tutup samping kepala.'
Zero.
Keinginan untuk hidup. Lebih primal dari rasa takut. Lebih kuat dari kepanikan.
Angele menjatuhkan tubuhnya. Rendah. Tangannya meraih gagang pedang. Mencabut. Mengangkat ke samping kepala.
DEG!
Benturan.
Kekuatan rantai itu luar biasa. Pedangnya bergetar hebat. Getaran menjalar ke tangannya, ke lengannya, ke bahunya. Wajahnya memerah menahan beban.
Dan dari mulutnya...
Darah.
Tetesan merah jatuh ke tanah.
Tapi benturan itu membangunkannya. Rasa sakit—nyata, menusuk—menyalakan sesuatu di dalam dirinya. Jika tidak bisa lari...
Bertarung.
Angele menatap musuhnya. Matanya fokus. Jantungnya masih berdetak kencang. Tapi sekarang bukan karena panik. Melainkan karena tubuhnya siap bertarung.
---
"Kau beruntung, anak muda."
Pria hitam itu melambaikan tangan. Entah bagaimana, rantainya terlepas dari pohon. Kembali melingkar di lengannya. Gerakannya halus. Terlatih.
Ia menatap Angele. Sejenak.
Lalu menghilang ke dalam semak-semak.
Angele tidak bergerak. Tidak bernapas. Matanya masih terpaku ke arah pria itu menghilang. Satu detik. Lima detik. Sepuluh. Sampai ia yakin pria itu benar-benar pergi.
Kalau dia tidak pergi...
...aku pasti sudah mati sekarang.
Bahkan dengan bantuan Zero. Bahkan dengan semua latihannya. Ia tidak bisa mengimbangi kecepatan rantai itu. Ia belum pernah bertarung sungguhan. Belum pernah merasakan niat membunuh yang murni.
Lawannya adalah veteran.
Kalau bukan karena chip...
...ia sudah mati bahkan sebelum pengejaran dimulai.
---
Angele mengatur napas. Lama. Tubuhnya masih gemetar.
Lalu ia melihat sesuatu di tanah. Sebuah kartu hitam. Ia memungutnya. Latar belakangnya gelap. Di tengahnya, simbol laba-laba merah darah. Sedikit berkilat saat terkena cahaya.
---
Dice merasakan lengannya.
Sebelum pertarungan dimulai, sebelum ia melepaskan rantainya, sesuatu sudah mengenainya.
Panah.
Ia tidak menyangka panah itu akan datang ke arahnya. Dice memblokirnya tepat waktu. Tapi lengan kanannya tetap terkena. Awalnya hanya goresan kecil. Tapi kemudian... sesuatu terjadi.
Kekuatannya menghilang.
Tubuhnya terasa tidak enak.
"Sialan!"
Ia menyentuh dahinya sendiri. Panas. Demam.
"Panah beracun! Bocah sialan itu!" Ia mengutuk. "Dia mencelupkan panahnya dengan racun! Betapa liciknya!"
Tangannya merogoh saku. Mengeluarkan kantong kertas kuning kecil. Membukanya. Menuang bubuk putih ke dalam mulut. Menelan.
"Hampir saja kehilangan nyawaku di sini... Untung racun ular merah bermata satu. Aku sudah siap untuk ini."
Tapi rasa mual masih ada.
Gerakan-gerakan sulit yang ia lakukan setelah terkena panah—mengayunkan rantai, mengejar bocah itu—membuat racun menyebar lebih cepat ke seluruh tubuhnya. Obatnya mungkin butuh berjam-jam untuk bekerja.
"Lain kali kumatikan kau duluan!" teriaknya. "Kartu hitam itu belum cukup! Kau hampir membuat misiku gagal!"
Ia berbalik. Melangkah dengan marah.
Kakinya menginjak ranting.
Tersandung.
Jatuh.
Sebuah batu tajam melukai kepalanya saat ia terbentur tanah. Darah mengalir.
"...Apa?!"
Dice menatap tanah. Wajahnya merah. Matanya menyala.
"SIALAN!"
Ia benar-benar marah.
---
Air hangat.
Angele menenggelamkan dirinya ke dalam bak. Air menutupi bahunya, dadanya, menyelimuti tubuhnya yang penuh goresan. Uap naik perlahan.
Ia menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Menguncinya.
Sampai hari ini, ia tidak benar-benar mengerti.
Dunia ini...
Ia mengira sudah siap. Ia melatih pedangnya setiap hari. Ia meningkatkan kelincahannya. Ia bisa membidik lalat dan memotong sayapnya. Ia merasa kuat.
Tapi memiliki keterampilan... bukan berarti tahu cara bertarung.
Ia menuangkan air ke wajahnya. Dingin bercampur hangat.
Kartu hitam itu. Ia masih memikirkannya. Simbol laba-laba merah. Seingatnya, sesuatu yang mirip ada di Bumi dulu. Simbol yang berarti...
"Kartu itu... artinya dia akan kembali untukku?"
Ia menggumam pelan.
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara air yang menetes dari keran.
Yang tidak diketahui selalu membawa ketakutan. Dan misteri. Angele tidak tahu apa arti kartu itu sebenarnya. Tapi satu hal yang ia tahu: pria itu tidak akan berhenti.
---
"Tuan Muda, apakah masih perlu air panas?"
Suara Maggie. Dari luar pintu.
"Aku sudah selesai."
Angele mengeringkan rambutnya. Membuka pintu. Maggie berdiri di sana, menatapnya dengan mata penuh perhatian. Tapi Angele hanya berjalan melewatinya.
Malam.
Udara dingin menerpa tubuhnya begitu ia keluar dari tempat tinggal. Angin berembus melintasi lapangan latihan. Beberapa anak masih di sana. Berlatih. Suara pedang kayu beradu.
Angele berjalan melintasi lapangan.
Gedung utama. Di sanalah koleksi buku Baron disimpan—di perpustakaan khusus. Hanya empat orang yang punya kunci: Baron sendiri. Audis. Wade.
Dan Angele.
Di dunia ini, buku adalah kemewahan. Pengetahuan. Satu buku bisa berharga empat puluh koin emas. Hanya bangsawan yang diizinkan membaca. Orang mau membeli, tapi jarang yang mau menjual.
Dua penjaga berdiri di depan gedung utama. Mereka memberi hormat begitu melihat Angele.
"Tuan Muda Angele."
"Apa ayahku ada di sini?"
"Baron belum kembali. Tapi Knight Audis baru saja pergi bersama Kerry."
Kerry. Putra Knight Audis. Berbakat. Mewarisi kemampuan ayahnya. Ia dan Audis sering berlatih di arena dalam gedung utama.
"Baik."
Angele berjalan masuk. Pikirannya masih setengah di hutan, setengah di sini.
Di kastil ini, selain para tetua, hanya ada dua jenis orang. Mereka yang menginginkan sesuatu darinya. Dan mereka yang tidak.
Kerry adalah tipe kedua.
Ia selalu bersikap hormat. Tapi Angele tahu. Dibalik sikap itu, Kerry memandang rendah dirinya. Dan perasaan itu... mungkin mewakili perasaan sebagian besar post-knight di kastil ini.
Angele adalah putra Baron. Tapi ia bukan ksatria.
Dan di dunia ini, hanya ada satu bahasa yang benar-benar dipahami semua orang.
Kekuatan.