Chapter 002: Situasi Seperti Apa Ini? (2)
Tatapan Gu Chil terpaku pada sosok malang di depannya. Anak itu baru saja dihajar habis-habisan oleh sang kepala pengemis.
Luka memar menghiasi sekujur tubuhnya. Biasanya, pukulan semacam itu akan membuat siapa pun menangis memohon ampun, atau setidaknya meringkuk diam di sudut tenda.
Namun, anak ini berbeda. Matanya kosong. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan sorot asing.
"Tunggu... apakah aku seorang pengemis?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Gu Chil nyaris tersedak ludahnya sendiri.
Gila. Anak ini pasti sudah kehilangan akal.
Baju compang-camping penuh tambalan kotor membalut tubuh kurusnya. Bau debu dan jalanan menguar tajam. Siapa pun yang masih memiliki mata pasti tahu di mana mereka berada saat ini. Di sarang gelandangan.
"Siapa namaku?" anak itu bertanya lagi. Suaranya parau namun menuntut. "Dan berapa umurku?"
Gu Chil membuang napas kasar.
"Sejak kapan gelandangan peduli soal umur? Namamu Cho Sam. Panggilan kasar untuk kroco seperti kita."
Cho Sam. Si Nomor Tiga.
Mendengar itu, raut wajah anak tersebut berubah drastis. Ekspresinya bukan ketakutan, melainkan rasa jijik yang luar biasa. Seolah nama itu adalah kutukan terburuk yang pernah mampir di telinganya.
Lalu, atmosfer di antara mereka mendadak menjadi berat.
"Satu pertanyaan lagi," bisik Cho Sam. Matanya menajam. "Apa kau tahu soal Iblis Surgawi?"
Gu Chil mengernyit.
"Semua orang tahu. Pemimpin Sekte Iblis itu sudah mati seratus tahun yang lalu."
Hening.
Satu detik. Dua detik.
Tiba-tiba, Cho Sam menerjang. Tangannya yang gemetar mencengkeram erat kerah baju Gu Chil.
"Seratus... tahun?" suaranya pecah, bergetar menahan gejolak yang tak kasat mata. "Kau bilang satu abad telah berlalu?!"
Cengkeraman itu mengendur. Cho Sam terhuyung mundur. Ia menatap nanar atap tenda kumuh yang gelap gulita.
Segelap perasaannya saat ini.
Seratus tahun. Waktu yang lebih dari cukup untuk menghapus segalanya. Teman seperjuangannya. Orang-orang yang ia lindungi hingga titik darah penghabisan di puncak gunung bersalju itu.
Semuanya pasti sudah tiada. Ia sendirian di dunia yang asing ini.
Gu Chil mulai mengomel, mencoba menyadarkannya bahwa sejarah sekte-sekte besar yang memenggal kepala sang Iblis adalah rahasia umum.
Namun, kata-kata itu hanya lewat bagai angin lalu. Hingga satu nama menghantam benak Cho Sam bagai petir.
Gunung Hua.
"Sekte Gunung Hua!" Cho Sam berteriak. Ia melompat bangkit, melupakan segala rasa ngilu di tulangnya. "Bagaimana nasib mereka sekarang?!"
"Gunung... apa?" Gu Chil memiringkan kepalanya. Bingung.
Napas Cho Sam tercekat. Reaksi itu sangat tidak masuk akal.
Sekte Gunung Hua adalah salah satu pilar dunia persilatan. Kebanggaan para pendekar pedang. Bagaimana mungkin seorang gelandangan jalanan, yang biasanya paling peka terhadap rumor dunia luar, tidak pernah mendengarnya?
"Jangan bercanda!" Cho Sam mengguncang bahu temannya itu. "Sekte Besar Gunung Hua! Mereka pasti masih masuk dalam jajaran penguasa, kan?!"
Gu Chil menderetkan daftar sekte besar. Shaolin, Wudang, Serikat Pengemis, Emei... ada sepuluh nama agung yang keluar dari mulutnya.
Namun, tidak ada Gunung Hua di sana.
"Ah... aku ingat," gumam Gu Chil pelan, memecah keheningan yang mencekik. "Ada cerita lama soal sekte di Shaanxi. Kabarnya, seluruh prajurit elit mereka mati saat perang melawan Iblis Surgawi. Mereka... sudah hancur."
Hancur.
Kata itu menghujam jantung Cho Sam lebih dalam dari tusukan pedang mana pun.
"Pembohong!"
Cho Sam menghempaskan tangan Gu Chil. Ia berlari keluar dari tenda gelap itu, menembus cahaya matahari yang menyilaukan.
Ia berlarian di jalanan yang sibuk. Menarik lengan baju siapa pun yang lewat. Ia bertanya layaknya orang kesetanan.
"Apa kau tahu Sekte Gunung Hua?!"
"Gunung apa? Kau gila?"
"Singkirkan tangan kotormu, pengemis!"
Tidak ada yang tahu. Eksistensi aliran pedang terhebat itu telah menguap ditelan zaman. Kisah tentang Istana Kaisar yang terbakar habis terdengar jauh lebih masuk akal bagi mereka, ketimbang kejatuhan Gunung Hua.
Langkah anak itu akhirnya melambat. Tubuhnya bergetar di tengah lautan manusia.
Rasa frustrasi meremas dadanya. Jika kakak seperguruannya tahu nasib sekte mereka berakhir tragis seperti ini, pria itu pasti akan bangkit dari alam baka hanya untuk memuntahkan darah kembali.
Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan.
Wajah Cho Sam perlahan terangkat. Keputusasaan di pupil matanya menghilang. Posisinya digantikan oleh kobaran tekad yang menyala-nyala.
"Aku harus melihatnya sendiri."
Meski wujudnya kini hanyalah seorang pengemis rendahan, jiwa Chung Myung di dalam dirinya menolak untuk tunduk pada takdir.
"Aku... akan pergi ke Gunung Hua."
Langkah pertama pun diambil. Dan tepat di detik itu pula, kepakan sayap kupu-kupu mungil mulai memicu badai yang kelak akan mengguncang seluruh dunia.