Langsung ke konten utama
Back to Return of Mount Hua Sect Bahasa Indonesia

Chapter 023: Apakah Anda berasal dari Sekte Tepi Selatan? (4)

Anda benar. Terima kasih atas koreksinya. “Pendekar Pedang Bunga Plum” jauh lebih tepat daripada “Biksu Pedang Bunga Plum”. Berikut narasi yang sudah diperbaiki:

---

Malam merayap di Gunung Hua.

Chung Myung terduduk lemas. Napasnya memburu. Tangannya menekan lantai tanah yang dingin.

“Rasanya aku bisa mati.”

Pekerjaan ini jauh dari ringan. Taman memang tak luas, tapi ini gunung. Membongkar tanah yang keras dan penuh akar—di tengah gelap, dalam diam, sembunyi-sembunyi dari mata para Sasuk—terasa seperti mencuri dalam kesunyian.

Tubuhnya menjerit.

“Sialan, badan ini!”

Dulu… ah, dulu. Bekerja tiga hari tiga malam tanpa henti pun napasnya takkan sesengal ini. Tapi sekarang? Daging dan tulang yang lemah ini terus-menerus memprotes. Paru-parunya seperti kantung kecil yang bocor.

Waktu turun gunung menginterogasi pedagang kemarin pun sama. Berurusan dengan para pengawal jauh lebih mudah daripada naik-turun lereng sepuluh kali dengan tubuh menyedihkan ini.

Haaah.

Chung Myung memejamkan mata sejenak. Ia mengalirkan energi internal—yang jumlahnya tak seberapa itu—ke telapak tangan, lalu mendorongnya ke bumi. Mencari. Meraba. Memetakan apa yang tersembunyi di bawah.

Apa sebenarnya yang ia lakukan di tengah malam begini?

Gudang itu. Letaknya di suatu tempat di bawah sana. Tapi di mana tepatnya, ia tak punya petunjuk.

Hanya satu cara. Periksa setiap jengkal.

Jadi ia merangkak. Kedua tangan terus memompa energi. Mencari ruang kosong di bawah tanah. Mencari gudang yang mungkin ada—atau mungkin cuma khayalannya.

Mengatakannya memang mudah.

Menemukannya…

“Seperti mencari jarum di tumpukan jerami.”

Chung Myung menarik napas berat. Dulu, satu telapak tangan sudah cukup untuk memindai seluruh gunung kecil begini. Kini, dua tangannya saja baru bisa mengirimkan segelintir energi. Dan itupun langsung menguras habis dantian mungilnya. Habis. Duduk bermeditasi lagi. Isi ulang. Lalu mulai dari awal.

Pikiran gelap mulai menyusup.

‘Bagaimana kalau gudangnya memang tak ada? Bagaimana kalau aku melakukan hal bodoh?’

Tubuh yang lelah membuat pikirannya mudah goyah. Chung Myung menggeleng keras-keras. Membuang semua sampah yang berkecamuk di kepalanya.

Di mana ada kemauan…

“Itu pasti di sini.”

Ia tahu karakter para Sahyung-nya. Ia tahu bagaimana Gunung Hua beroperasi. Buku besar itu—harta karun yang ia cari—harus disimpan di tempat aman. Dan hanya ada satu cara untuk menemukannya.

Memang seperti menyisir gurun mencari berlian. Tapi setidaknya ini lebih mirip mencari batu besar di pantai. Pikiran itu cukup untuk memompa semangatnya. Bagaimana mungkin ia gagal?

Sekali lagi!

“Hnggh!”

Sekali lagi!

“Aku mati!”

Sekali lagi!

“Kosong? Yah, bukan urusanku—”

Ia membeku.

“…Kosong?”

Matanya melebar. Jantungnya berdetak lebih kencang. Ia memeras lebih banyak energi. Menekan lebih dalam.

Tunggu.

Ada sesuatu di bawah sana.

Sebuah ruang kosong. Samar, sulit dipastikan apakah itu gudang buatan manusia atau sekadar lubang alami. Energinya terlalu kecil untuk memberi gambaran jelas. Tapi ia yakin satu hal: di bawah sini, tanah tidak padat.

Kalau begitu…

“Cih!”

Chung Myung meludah ke tanah. Ia bangkit, meraih beliung yang sudah ia bawa sejak tadi.

“Harus kulihat dengan mata sendiri!”

Pertarungan sesungguhnya dimulai sekarang.

“Hyaaah!”

Satu ayunan.

“Huaaaah!”

Dua ayunan.

“Aarkkhh!”

Tiga ayunan.

Tanah mulai terbongkah. Lima kali ayunan sudah cukup membuat tangan dan kakinya gemetar hebat. Punggungnya nyeri seperti ditusuk-tusuk.

Orang yang belajar ilmu bela diri memang terbiasa menahan sakit. Tapi rasa sakit dari latihan berat berbeda dengan rasa sakit karena mencangkul. Dan sejujurnya, Chung Myung tidak terlalu akrab dengan penderitaan jenis ini. Bahkan andai ia terbiasa, tubuh anak-anak begini tidak diciptakan untuk membelah tanah beku.

Menggali tanah padat—orang dewasa yang sehat pun bisa roboh. Ini murni soal kekuatan dan kegigihan. Tak ada trik.

“Ck!”

Chung Myung meludahkan tanah yang masuk ke mulutnya.

“Baiklah! Kau menang, atau aku yang menang. Kita lihat!”

Hari ini ia pertaruhkan nama Pendekar Pedang Bunga Plum!

“Hyaah!”

Beliung itu kembali terayun. Energi dipompa. Menggali. Menggali. Menggali—

Tok.

“…Eh?”

Tok?

Chung Myung menjatuhkan diri, menempel ke tanah. Tangannya mulai mengikis sisa tanah dengan cepat. Semakin dalam. Semakin terasa sesuatu yang keras di bawah jemarinya.

‘Bata?’

Alisnya berkerut. Sentuhan di bawah sana kasar, padat, dengan retakan di tengahnya. Batu bata.

Di satu sisi, ini pertanda baik: sebuah bata berarti ada bangunan buatan manusia di bawah sini. Tapi pikiran Chung Myung melompat ke arah lain.

Gudang Gunung Hua seharusnya tidak dibangun dengan bata biasa.

‘…Jangan berpikir dulu. Lanjutkan saja.’

Ia menekan kekecewaan yang mulai merayap. Ia belum yakin. Harus melihat dengan matanya sendiri.

Sshaah.

Tanah disingkirkan. Pola bata mulai terlihat jelas. Malam terlalu gelap untuk memastikan segalanya, tapi ia tahu: ada struktur di bawah sini.

‘Coba kita lihat.’

Perlahan, hati-hati, ia mencongkel salah satu bata. Usianya mungkin sudah puluhan tahun. Bata-bata itu saling melekat erat. Ia menarik dengan kuat, tapi tetap menjaga agar tak ada yang pecah.

Hrnngg…

Bata itu terlepas.

‘Bagus!’

Chung Myung menyembulkan wajahnya ke lubang yang baru ia buat. Menyipitkan mata ke dalam gelap.

‘Oke, ini…’

Ia mengangkat kepala. Mendelik.

Kosong.

Bukan. Bukan kosong. Itu…

‘Jangan bilang… lorong?’

Tinjunya mengepal.

Ia tidak salah. Pencariannya membuahkan hasil. Hanya saja yang ia temukan bukan gudang—ini jalan masuk menuju ke sana. Energi internal yang terlalu lemah tadi tidak bisa membedakan antara ruangan besar dan terowongan panjang.

Tapi menemukan ini berarti ia menemukan jalannya.

‘Bagus sek—’

Saat ia mengangkat kepala, siap mencongkel lebih banyak bata…

Tap.

Suara langkah kaki. Dari bawah.

‘—!’

Jantungnya nyaris copot. Seseorang berjalan di lorong itu.

‘Pemimpin sekte?!’

Dengan panik, ia memasukkan kembali bata yang tadi ia lepas. Menutup lubang itu sebisanya. Tapi ada masalah lebih besar.

‘Sial!’

Cahaya. Celah-celah dari bata yang belum rapat sempurna membocorkan sinar redup dari bawah. Chung Myung menjatuhkan diri, menindih bata itu dengan seluruh tubuhnya. Menahan napas.

‘Kenapa harus sekarang?!’

Ia bisa ketahuan. Apa yang akan ia katakan kalau pemimpin sekte bertanya, “Bagaimana kau tahu tempat ini?”

Jangan sampai tertangkap.

Tap. Tap.

Suara langkah kaki itu semakin dekat. Menggema di koridor gelap. Satu langkah demi langkah. Santai. Tapi penuh beban.

‘Pasti pemimpin sekte.’

Siluetnya terlihat di bawah sana. Melintas tepat di bawah tempat Chung Myung bersembunyi.

Ia belum bisa bernapas lega.

Pemimpin sekte itu berhenti. Tidak jauh dari posisinya.

‘Dinding?’

Matanya mulai beradaptasi dengan gelap. Melalui celah kecil, ia bisa melihat apa yang ada di dalam. Sesosok punggung tua. Dan di hadapannya, sebuah bidang besar, kokoh.

Bukan. Itu bukan dinding.

Di ujung lorong panjang itu, ada sebuah pintu.

Pemimpin sekte berdiri diam. Menghadap pintu itu. Tidak bergerak. Hanya memandang.

‘Dia tahu.’

Chung Myung yakin itu. Selain pemimpin sekte, tak mungkin ada yang tahu tempat ini. Mungkin ini lokasi rahasia yang diwariskan dari satu generasi pemimpin ke generasi berikutnya. Atau mungkin ia menemukannya sendiri selama bertahun-tahun tinggal di kediamannya.

Dan tentu saja pemimpin sekte tahu tentang gudang ini.

Ini tempat penyimpanan kitab dan harta karun Gunung Hua. Pasti.

Tapi apa yang ia lakukan sekarang…

Pemimpin sekte mengangkat tangannya. Pelan. Menyentuh permukaan pintu itu. Jemarinya menelusuri kayu dengan gerakan hati-hati. Seperti meraba sesuatu yang sangat berharga.

‘Apa yang dia lakukan?’

Gerakan tanpa arti. Tapi atmosfer di sekelilingnya… berbeda. Sunyi. Sesak.

Tangannya terus menyusuri pintu. Lalu kepalanya perlahan tertunduk. Ia berdiri seperti itu. Lama sekali.

Saat itulah Chung Myung sadar.

Bukan karena ia sedang melakukan sesuatu.

Ia berdiri di sana justru karena ia tak bisa melakukan apa-apa.

Chung Myung menahan napas. Lebih erat.

Kecil.

Lemah.

Punggung Pemimpin Gunung Hua seharusnya lebar dan kokoh. Selalu menjadi tempat bersandar. Tapi sekarang, yang ia lihat adalah punggung yang lunglai. Melengkung seperti sesepuh desa yang tertimpa beban warisan.

Punggung kecil yang tak boleh terlihat orang lain. Hanya di koridor gelap inilah ia berani menunjukkan kerapuhannya. Di luar sana, ia menolak untuk terlihat lembut atau hancur.

Chung Myung bisa merasakan getaran tubuh tua itu.

‘Ah…’

Sekarang ia mengerti.

Dia tidak bisa membukanya.

Chung Myung menggigit bibirnya sendiri.

Punggungnya terasa sakit. Dingin dan nyeri.

Gunung Hua runtuh.

Nama mereka ternoda. Kekayaan mereka lenyap. Mereka yang dulu tunduk di bawah lindungannya, kini balik menekan mereka ke sudut termiskin. Setiap hari semakin lapar. Setiap hari pedang musuh semakin tajam.

Seberapa putus asa lelaki tua ini selama ini?

Seberapa sengsara rasanya menjadi pemimpin yang hanya bisa menyaksikan semuanya ambruk di depan mata?

Dan ia tak bisa membagikan beban itu pada siapa pun. Dialah pemimpin sekte. Dialah yang harus menjadi sandaran. Bukan yang bersandar. Seperti pohon besar yang akarnya mencengkeram bumi, sekalipun badai menghantam, ia tak boleh tumbang.

Jadi…

Ia datang ke tempat ini. Sendirian. Mencari pelipur di tengah luka dan kesedihan yang tak bisa ia ucapkan.

Menggenggam pintu yang menyimpan harapan, tapi menolak terbuka.

Chung Myung menatap punggung itu. Membekukan gambar ini ke dalam ingatannya. Setiap lekuk. Setiap gurat kelelahan.

Pemimpin sekte yang tak bergerak lama sekali itu akhirnya mengangkat kepala.

Ia menatap pintu dengan mata yang sulit diartikan. Menarik napas dalam-dalam. Lalu berbalik. Melangkah pelan, kembali keluar dari lorong.

Chung Myung menahan napas sampai kehadiran itu benar-benar lenyap. Baru kemudian ia mengangkat bata itu, dan menjatuhkan dirinya ke dalam.

Hening.

“…Ck.”

Ia menyaksikan sesuatu yang tak ingin ia saksikan.

“Ini salahku.”

Bukan cuma dia. Semua orang di masanya juga bersalah. Masa depan dunia memang penting. Tapi masa depan sekte ini—masa depan Gunung Hua—sama pentingnya. Dulu mereka terlalu fokus mengejar monster yang muncul. Mereka lupa memikirkan anak-anak yang akan ditinggalkan.

“Tapi masih ada waktu.”

Kalau memang ada kesalahan, ia bisa memperbaikinya. Mulai sekarang, Chung Myung akan mengembalikan tahun-tahun yang hilang.

Ia berbalik. Menatap pintu raksasa di hadapannya.

“Baiklah kalau begitu…”

Napasnya keluar perlahan.

“Haruskah kita buka pintu sialan ini?”

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026