Chapter 012: Runtuh tidak bisa dihindari, dasar bajingan (3)
"Lebih baik aku mati saja," rutuk Chung Myung. Wajahnya masam, sekusut jubah kasar yang menempel di tubuhnya.
Sekte agung ini telah hancur lebur. Pepatah bilang, orang kaya yang bangkrut masih bisa hidup enak selama tiga tahun. Tapi Gunung Hua? Boro-boro. Perguruan silat pinggiran jalan pun masih terlihat jauh lebih makmur daripada tempat ini.
Tidak ada uang. Murid-murid kurang gizi. Dan yang paling membuat darahnya mendidih... ke mana perginya Teknik Pedang Dua Puluh Empat Bunga Persik?!
Membuang satu atau dua jurus karena kurang pelatih, itu masih bisa dimaklumi. Tapi menghilangkan fondasi utama sekte? Itu sama saja dengan pengkhianatan sejarah!
"Kakak," bisik Chung Myung getir, menatap langit senja. "Bisakah aku menyelamatkan tempat rongsokan ini?"
Seolah turun dari awan, bayangan kakak seperguruannya tersenyum mengejek. *Menyelamatkan? Kau?*
Chung Myung menendang tanah dengan kesal. Ia memutar tubuh, melanjutkan langkah menuju asrama.
"Ukh... pinggangku," erangnya pelan. Tulang-tulangnya serasa mau rontok.
Hanya karena ia bergumam di barisan, instruktur sialan itu menghukumnya dengan porsi latihan ganda. Jika ini tubuh lamanya, berlari bolak-balik ke puncak gunung bukanlah apa-apa. Tapi sekarang? Ia hanya terjebak dalam raga setipis kertas.
*Kruyuk.*
Perutnya berbunyi nyaring. Lapar. Sangat lapar.
Hukuman tadi membuatnya kehilangan jatah makan malam. Bagi Chung Myung, kelaparan adalah musuh mutlak. Saat cacing di perutnya berontak, sisa-sisa kewarasannya perlahan menguap. Suasana hatinya benar-benar sudah berada di titik terendah.
Ia mendorong pintu asrama dengan kasar.
Di dalam, belasan pasang mata langsung tertuju padanya. Wajah-wajah remaja itu menyeringai remeh. Jelas, mereka tidak sedang menyiapkan karpet merah untuk menyambutnya.
"Nah, ini dia anak baru kita!" seru Jo Gul, melangkah angkuh ke depan.
Chung Myung menatapnya dengan pandangan kosong. "Apa?"
Wajah Jo Gul langsung memerah marah. "Jaga mulutmu, Keparat! Panggil aku Kakak Senior Jo Gul!"
Kakak Senior?
Chung Myung mendongak menatap atap kayu yang lapuk. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga. Seorang grandmaster legendaris sepertinya harus memanggil bocah ingusan ini dengan sebutan kehormatan? Sungguh lelucon kosmis yang tidak lucu.
Tapi apa boleh buat.
"Baiklah... Kakak Senior Jo Gul," sahut Chung Myung memaksakan diri. "Ada apa?"
"Kau anak baru, jadi kau harus melapor," seringai Jo Gul. "Jangan takut. Fisikmu terlalu lemah. Kami tak akan memukulmu sampai mati."
Tawa meremehkan meledak dari sudut ruangan.
Chung Myung memutar bola matanya malas. Perpeloncoan asrama. Klasik. Anak-anak ini merasa menjadi penguasa hanya karena lahir beberapa tahun lebih dulu. Dulu pun Gunung Hua punya tradisi asrama, tapi tidak pernah direndahkan menjadi ajang premanisme jalanan seperti ini.
"Jadi, apa yang harus kulakukan?" tanya Chung Myung, memegang perutnya yang kian perih.
Jo Gul melangkah makin dekat, merendahkan suaranya.
"Tanggalkan pakaianmu. Menarilah. Lalu terima pukulan kami dengan pasrah. Begitulah cara kami menunjukkan... kasih sayang kepada adik bungsu."
Chung Myung terdiam sejenak. "Bagaimana dengan Paman Guru Yun Geom?"
"Jangan harap dia datang menyelamatkanmu! Malam ini dia ada jadwal latihan. Kita murni sendirian di sini. Kau tidak bisa lari."
Mendengar itu, Chung Myung tersenyum. Bukan senyum ketakutan, melainkan seringai tulus yang membekukan darah.
"Begitu ya. Terima kasih informasinya."
"Apa?! Masih ada yang mau kau katakan?!" bentak Jo Gul, maju dan mencengkeram kasar kerah jubah Chung Myung.
Suara Chung Myung mendadak turun, sedingin es.
"Rapatkan gigimu."
"Hah—?"
*BUAK!*
Sebuah pukulan *uppercut* melesat dari bawah secepat kilat. Menghantam telak rahang bawah Jo Gul.
Suara retakan tulang bergema nyaring. Tubuh Jo Gul terlempar lurus ke udara, menghantam langit-langit asrama hingga kayu-kayunya jebol.
*Brak!* Tubuh remaja itu tersangkut di atas sana. Kakinya bergetar sejenak sebelum akhirnya lunglai tak sadarkan diri.
Keheningan mencekik ruangan itu.
Belasan anak lainnya mematung. Napas mereka tercekat. Mata mereka terbelalak horor menatap langit-langit, lalu beralih ke arah bocah kurus di hadapan mereka.
Chung Myung membersihkan debu dari tangannya, lalu berjalan santai ke arah pintu.
*Klak.* Ia memasang gerendel kayu, mengunci pintu asrama itu rapat-rapat dari dalam. Ia berbalik, membunyikan buku-buku jarinya.
*Krek. Krek.*
"Tadinya kepalaku sangat pusing memikirkan dari mana aku harus memperbaiki sekte ini," gumam Chung Myung pelan. Ia berjalan mendekati sebuah kursi kayu.
Ia mengangkat kakinya tinggi-tinggi.
*PRANG!* Kursi itu hancur berkeping-keping dalam sekali injak. Dengan santai, Chung Myung memungut satu patahan kaki kursi yang tebal.
"Tapi berkat kalian, solusinya jadi sangat sederhana. Benar... aku harus mulai dengan membersihkan sampah di sekitarku lebih dulu."
Tawa kelam menguar dari bibirnya. Ia memutar tongkat kayu itu di tangannya, melangkah perlahan ke tengah ruangan yang dipenuhi wajah-wajah pucat pasi.
"Karena kalian semua adalah 'Senior'-ku... tolong, jangan ada yang berteriak."
Tatapannya menajam bak algojo pencabut nyawa.
"Siapa pun yang berteriak, akan kupukul DUA KALI LIPAT."
Malam itu, di bawah atap Asrama Bunga Persik Putih, rentetan jeritan tertahan dan rintihan panjang melengking memecah keheningan.
Sesi 'kasih sayang' baru saja dimulai.