Chapter 024: Apakah Anda berasal dari Sekte Tepi Selatan? (5)
Ia berhenti.
Tatapannya menyapu koridor gelap di sekelilingnya. Perlahan, matanya mulai terbiasa dengan kegelapan.
“Pertama… pastikan tidak ada jebakan.”
Chung Myung mengenal sifat Sahyung-nya lebih baik daripada siapa pun. Orang tua itu sangat berhati-hati. Kalau ada orang lain yang mencoba masuk ke tempat ini tanpa izin, pasti sudah disiapkan sesuatu yang cukup kejam untuk menyambut mereka.
Pandangannya berhenti pada deretan lubang di bagian atas dinding.
Kosong.
Lubang-lubang itu cukup besar untuk memasukkan kepalan tangan anak kecil. Jumlahnya puluhan. Berjejer rapi dengan jarak yang sama, seperti bekas sesuatu yang pernah dipasang di sana.
“Ck.”
Tak sulit menebaknya.
Dulu, di tempat itu pasti ada lentera.
Lorong ini seharusnya terang benderang. Cahaya keemasan memantul di dinding batu, menerangi jalan menuju gudang rahasia Gunung Hua.
Tapi sekarang semuanya gelap.
Mungkin setiap kali sekte kehabisan uang, mereka turun ke sini. Melepaskan satu lentera. Menjualnya. Lalu kembali lagi beberapa waktu kemudian untuk mengambil lentera berikutnya.
Sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya yang tersisa hanya kegelapan.
Apa yang dirasakan pemimpin sekte setiap kali melewati lorong ini?
Apakah setiap lentera yang hilang terasa seperti harapan Gunung Hua yang ikut dipadamkan?
Apakah dia merasa jalan menuju kebangkitan sekte perlahan tertutup bersama lenyapnya cahaya itu?
“Hah…”
Chung Myung mengusap wajahnya kasar.
“Aku benar-benar tak seharusnya melihat ini.”
Berat.
Terlalu berat.
Dia bukan orang bodoh. Meski pemimpin sekte dan para Sasuk selalu berpura-pura tegar di depan murid-murid, bukan berarti mereka tidak hancur di dalam.
Mereka pasti memikul semuanya sendirian.
Nama Gunung Hua yang terus meredup.
Reputasi yang membusuk sedikit demi sedikit.
Tekanan untuk mempertahankan sekte yang nyaris runtuh.
Dan mereka hidup bersama beban itu sepanjang hidup.
‘Ini tidak adil.’
Tak mungkin satu orang saja menopang semuanya.
Memang benar dulu dialah yang membawa nama Gunung Hua mencapai puncak sebagai Pendekar Pedang Bunga Plum. Tapi kejayaan Gunung Hua sudah ada jauh sebelum dirinya lahir.
Dia hanyalah salah satu bagian dari sejarah panjang itu.
“Cukup.”
Chung Myung mendecakkan lidah pelan lalu melangkah mendekati pintu besar di hadapannya.
“Sekarang… bagaimana cara membuka benda ini?”
Tak ada pegangan.
Tak ada lubang kunci.
Hanya garis panjang di tengah yang samar-samar menunjukkan bahwa ini adalah sebuah pintu. Tanpa garis itu, siapa pun akan mengira ini sekadar dinding logam biasa.
“Dan bekas-bekas ini…”
Garis horizontal. Garis vertikal. Luka-luka tajam yang saling bertumpuk seperti seseorang menggunakan permukaan ini untuk melatih ilmu pedang selama bertahun-tahun.
“…Ini benar-benar pintu?”
Dia menempelkan telapak tangannya ke permukaan logam itu lalu mengalirkan sedikit energi internal.
Dan seketika menarik tangannya kembali.
“…Gila.”
Energinya tak bisa masuk.
Dinding biasa tak mungkin menolak energi seperti ini. Hanya ada satu kemungkinan.
‘Besi Dingin Seribu Tahun.’
Dan ketebalannya setidaknya satu inci.
“…Jadi semua uang sekte habis untuk benda ini.”
Dia tertawa pendek.
Besi Dingin Seribu Tahun adalah material legendaris. Pedang yang ditempa darinya bisa menjadi pusaka dunia persilatan. Baju zirah dari logam itu hampir mustahil ditembus.
Nilainya bahkan lebih tinggi daripada emas dengan berat yang sama.
Dan Gunung Hua menggunakannya… sebagai pintu gudang.
“Tak heran pemimpin sekte tak pernah mencoba membukanya.”
Bahkan di masa jayanya, Chung Myung tak akan bisa memotong logam setebal ini dengan mudah. Dan sekarang? Dengan tubuh seperti ini? Mustahil.
Kalau ingin membuka paksa, dia harus membawa ahli pedang terbaik dunia.
Masalahnya…
‘Apa orang seperti itu akan pergi begitu saja tanpa menyentuh isi gudang?’
Tidak mungkin.
Gunung Hua sekarang terlalu lemah untuk melindungi harta sebesar ini.
Begitu rahasianya bocor, sekte ini akan habis dilahap para serigala.
‘Pilihan pemimpin sekte memang benar.’
Meminta bantuan orang luar untuk menghindari kehancuran hanya akan mengundang kehancuran yang lebih besar.
Chung Myung menghela napas panjang lalu kembali memperhatikan pola di permukaan pintu.
Kalau Sahyung-nya bisa keluar masuk tempat ini, berarti ada cara membukanya tanpa menghancurkan pintu.
Dan kemudian—
Matanya menyipit.
“…Tunggu.”
Tatapannya bergerak cepat mengikuti pola-pola goresan di permukaan logam.
“Itu…”
Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Teknik Pedang Dua Puluh Empat Bunga Plum?”
Bekas-bekas itu bukan goresan acak.
Itu jejak pedang.
Begitu dia menyadarinya, semuanya mulai terlihat jelas.
“Ini Teknik Pedang Keseimbangan…”
“Yang ini… Daun Bambu…”
“Dan ini…”
Tatapannya menegang.
“Pedang Dua Puluh Empat Bunga Plum.”
Garis-garis dangkal dan luka dalam itu ternyata membentuk urutan teknik pedang khas Gunung Hua.
Saat itulah Chung Myung mengerti.
‘Itu sebabnya pemimpin sekte tak bisa membukanya.’
Teknik Pedang Dua Puluh Empat Bunga Plum telah hilang dari sekte selama bertahun-tahun. Bahkan jika seseorang mengenali bekas pedangnya, mereka tetap tak akan mampu menirunya.
“Kedalaman goresannya…”
Chung Myung mengusap dagunya perlahan.
Urutannya jelas.
Pedang Keseimbangan.
Daun Bambu.
Lalu Pedang Dua Puluh Empat Bunga Plum.
Jika semua teknik itu dijalankan sesuai pola di pintu, mekanismenya akan terbuka dengan sendirinya.
Masalahnya sekarang hanya satu.
“…Bagaimana aku melakukannya?”
Di masa lalu, ini mudah. Bahkan murid biasa Gunung Hua pun bisa membuka pintu ini.
Tapi sekarang?
Tubuhnya hanyalah tubuh anak kecil yang bahkan belum benar-benar mempelajari teknik pedang.
Dia bisa mengikuti pola gerakannya.
Namun energi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan semuanya sekaligus…
Mustahil.
“Fiuh…”
Chung Myung menutup mata sejenak.
‘Kalau mustahil… ya buat jadi mungkin.’
Tak ada jalan lain.
Kedua tangannya bergerak menuju dantian.
“…Aku benar-benar tak mau melakukan ini.”
Dia menarik napas panjang.
Lalu menyentuh bagian terdalam dari dantiannya.
Qi Internal Sejati.
Energi paling murni yang dimiliki manusia sejak lahir.
Berbeda dengan energi internal hasil kultivasi, qi sejati adalah inti kehidupan itu sendiri. Kehilangannya bukan sekadar membuat seseorang lemah.
Itu bisa membunuh.
Bahkan para master puncak pun tak akan sembarangan menggunakannya.
‘Sedikit saja.’
‘Aku hanya butuh sedikit.’
Qi itu mulai bergerak.
Liar.
Berat.
Sulit dikendalikan.
“Ini lebih banyak dari yang kuperkirakan…”
Keringat dingin mengalir di dahinya.
Tapi dia tak berhenti.
Energi internal dan qi sejati bercampur menjadi kekuatan yang jauh lebih ganas.
Tubuh kecilnya langsung bergetar hebat.
“Kh…!”
Rasa sakit menghantam seluruh tubuhnya.
Seolah otot dan tulangnya dipaksa robek dari dalam.
Namun Chung Myung tetap menggenggam pedangnya.
‘Sekali saja.’
‘Aku hanya perlu berhasil sekali.’
Warna hitam keunguan mulai muncul di ujung jarinya.
Tubuh ini belum pernah mempelajari teknik itu dengan benar. Semua yang dia lakukan hanyalah meniru ingatan dari kehidupan masa lalunya.
Dan tubuh kecil ini nyaris tak mampu mengimbanginya.
Sret!
Tangannya membelah udara.
Jejak cahaya keunguan melintas seperti kilatan ilusi.
Kwaaaak!
Suara logam bergesekan mengguncang lorong.
Satu gerakan.
Lalu berikutnya.
Dan berikutnya lagi.
Setiap ayunan terasa seperti tubuhnya akan hancur berkeping-keping.
Ototnya menjerit.
Pembuluh darahnya terasa terbakar.
Namun dia terus bergerak.
‘Aku adalah Pendekar Pedang Bunga Plum!’
Kalau tubuh ini tak cukup kuat—
Maka dia akan memaksanya bergerak dengan tekad saja.
Giginya menggigit bibir sampai berdarah.
Gerakan terakhir.
Tuk.
Tangannya berhenti.
Tubuhnya limbung hebat.
‘…Berhasil?’
Lalu—
Krik… krik…
Suara roda mekanisme berputar terdengar dari balik pintu.
Mata Chung Myung membelalak.
“Terbuka…”
Bukan seluruh pintunya.
Tapi kuncinya telah lepas.
Dan pada saat yang sama—
“Kh… aaak!”
Tubuhnya langsung terlipat ke depan.
Darah menyembur dari mulutnya tanpa bisa ditahan.
“Ugh…”
Dia menyeka bibirnya pelan.
Luka dalamnya jauh lebih parah dari perkiraannya.
“Sepertinya… butuh dua bulan untuk pulih…”
Dia tertawa lemah.
“Membangkitkan Gunung Hua benar-benar merepotkan.”
Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, Chung Myung mendorong pintu itu perlahan.
Kiiiiik—
Pintu raksasa yang tersegel selama puluhan tahun akhirnya bergerak terbuka.
Koridor sunyi.
Dan perlahan, senyum licik muncul di wajah Chung Myung.
“Sekarang…”
Napasnya masih berat.
“Ayo lihat apa yang disembunyikan Sahyung.”