Chapter 016: Gunung Hua menjadi seperti ini karena AKU? (2)
Suara itu jatuh di antara mereka. Pelan, tapi penuh makna.
"Kau serius?"
Un Am menatap lawan bicaranya. Matanya menyempit, bukan karena marah. Tapi karena keterkejutan yang coba ia sembunyikan.
Un Geom hanya mengangguk. Anggukan yang berat. Ia sendiri masih mencerna kenyataan ini.
"Ceritanya... entah bagaimana, anak itu datang sendiri."
"Datang sendiri?"
"Ya, Sahyung."
Hening sejenak.
Un Am menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya, membiarkan pikirannya berkelana sejenak sebelum kembali ke ruangan sempit itu.
"Selama ini aku mengira pemimpin sekte punya rencana khusus. Ternyata tidak. Hanya angin kebetulan yang membawa anak itu ke sini."
Un Geom memandang lurus ke depan. "Aku pun tak tahu apa-apa. Sampai sekarang."
Ada jeda.
Un Am memecahnya dengan suara rendah. "Jadi... ini murni ulah takdir?"
"Entahlah. Tapi kurasa bukan kebetulan biasa."
Un Geom mengusap dagunya. Pikirannya berpindah ke pertemuan pertama itu. Tubuh kecil. Tatapan tajam. Dan keinginan yang begitu besar hingga ia tidak bisa mengabaikannya.
"Seorang anak asing. Datang sendiri dari jauh. Mengaku ingin menjadi bagian dari Gunung Hua. Dan dalam satu hari... dia seperti sudah menguasai alur permainan."
"Bahkan terlalu cepat," sambung Un Am.
Ia sempat curiga. Mata-mata? Jebakan dari sekte lain? Tapi untuk apa? Gunung Hua sudah di ambang keruntuhan. Tak perlu ada yang susah payah mengirim anak sepertinya. Tak masuk akal.
"Dan yang paling mengganggu," Un Am melanjutkan, "adalah dia datang sendiri. Tanpa dendam. Tanpa beban masa lalu yang kelihatan."
Un Geom memejamkan mata. "Dia terlalu tulus untuk jadi jebakan. Tapi terlalu misterius untuk diabaikan."
Keduanya kembali diam.
"Kita awasi saja," kata Un Am akhirnya.
"Tapi Sahyung—"
"Kau percaya padanya, kan? Setidaknya cukup percaya untuk memberinya kesempatan."
Un Geom tak menjawab. Hanya menunduk.
"Aku tahu kau bekerja lebih keras dari siapapun. Tapi kau tak bisa melakukan semuanya sendiri."
"Aku... hanya ingin berguna."
"Itu sudah lebih dari cukup."
Un Am tersenyum tipis. Senyum yang tak menghibur, tapi menenangkan.
"Anak itu sekarang murid kita. Tak peduli kapan dia tiba. Tak peduli dari mana ia berasal. Semua yang menapakkan kaki di sini, adalah bagian dari Gunung Hua."
Mata Un Geom berkaca-kaca sejenak.
"Maafkan pandanganku yang sempit."
"Pergilah. Kalau dia melampaui batas, masih ada waktu untuk menghentikannya."
Un Geom berdiri. Memberi hormat singkat, lalu berjalan pergi. Langkahnya mantap. Tapi di kepalanya, masih tersisa serpihan pertanyaan.
Un Am menuang teh untuk dirinya sendiri.
"Angin... ya, Gunung Hua memang butuh angin."
Tapi angin seperti apa?
Embusan sejuk? Atau badai yang menyapu semuanya?
—
Di tempat lain. Jauh dari ruang hening itu.
Erangan memenuhi udara. Seperti paduan suara luka.
"Aku... rasanya mau mati."
"Matilah kita semua..."
Murid-murid kelas tiga Gunung Hua terkapar. Punggung membungkuk. Tangan gemetar. Makanan di meja seperti lukisan berantakan karena tak satu pun bisa menyuap dengan benar.
Yoon Jong menatap sumpit di tangannya. Mereka bergetar. Seperti ranting di musim dingin.
"Aku bahkan tak bisa makan. Bagaimana mungkin sore ini aku mengayunkan pedang?"
"Pedang asli?" suara lain menimpali. "Jangan-jangan nanti pedang itu lepas dari tangan kita dan menusuk pantat seseorang."
"Huh… setidaknya aku masih bisa menggenggam."
"Itu genggaman atau kejang?"
Yoon Jong menghela napas lagi. Berat.
Di hadapannya, sayur tumis berserak. Tangannya sendiri terasa bukan miliknya.
"Kenapa kalian hanya mengeluh di belakang?" Suara tajam datang dari sudut.
Jo Gul.
Ia meletakkan sumpitnya. Tatapannya menusuk satu per satu.
"Chung Myung tidak bersembunyi. Kalau kalian punya nyali, katakan langsung di depannya."
Sunyi seketika.
"Kalau tidak sanggup, diam. Makan. Atau sore ini kalian hanya akan jadi mayat berjalan."
Tak ada yang berani membalas.
Yoon Jong menatap Jo Gul lekat-lekat.
"Ini aneh," batinnya.
Biasanya, Jo Gul yang paling keras mengeluh. Paling berisik. Paling vokal melawan tekanan. Tapi hari ini? Dia seperti orang lain.
Keduanya bertukar pandang. Dan tanpa sepatah kata, Jo Gul mendekat.
"Boleh aku bicara sebentar, Sahyung Agung?"
"Mari."
Mereka meninggalkan aula. Menuju sudut kuil yang sepi. Angin siang menerpa, membawa suara dedaunan kering.
Begitu tiba, Yoon Jong membuka suara lebih dulu.
"Kau tampak marah."
Jo Gul mengusap wajahnya dengan telapak tangan kasar. "Semudah itu terbaca?"
"Wajahmu seperti buku terbuka."
"Baru kali ini aku dengar itu."
Tawa kecil. Tapi tak bertahan lama.
"Melihatmu masih bisa tertawa setelah semua latihan tadi... sesuatu pasti berubah."
Jo Gul tak langsung menjawab. Ia menatap langit-langit kuil yang retak, lalu kembali ke tanah.
"Apa pendapatmu tentang Gunung Hua?"
Pertanyaan itu menusuk.
Yoon Jong diam. Bukan karena tak tahu jawabannya. Tapi karena jawaban itu terlalu berat.
"Aku... memutuskan tinggal."
"Ya. Aku tahu. Tapi apa kau percaya masa depan masih tersisa untuk tempat ini?"
"Jaga bicaramu, Jo Gul."
"Aku serius."
Jo Gul menunduk. Suaranya lebih pelan sekarang. Hampir seperti bisikan.
"Aku dulu ingin pulang. Setelah semua ini selesai, aku akan kembali ke kampung. Tapi..."
Ia berhenti.
"Melihat bocah itu... sesuatu di dalam diriku bergerak."
Yoon Jong menatapnya. Menunggu.
"Aku belum pernah latihan seperti ini. Benar-benar dipaksa ke batas mutlak. Aku kira selama ini aku sudah berusaha. Ternyata tidak."
Yoon Jong mengangguk. Tanpa sadar.
"Dan bocah itu? Dia melakukan dua kali lipat dari kita. Bahkan lebih. Dan wajahnya? Tenang. Seperti baru saja jalan pagi."
Jo Gul mengepalkan tangannya.
"Dia bukan sekadar kuat. Dia lebih muda. Lebih kecil. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak aku punya. Sesuatu yang hanya datang dari orang yang benar-benar berjuang."
"Kau tahu apa itu?"
"Keyakinan bahwa latihan ini akan membuahkan hasil. Keyakinan bahwa tempat ini layak diperjuangkan."
Hening lagi.
"Sahyung... aku ingin berubah. Aku ingin percaya. Mungkin untuk pertama kalinya, aku melihat jalan. Bukan sekadar bertahan. Tapi tumbuh."
Yoon Jong menatap lurus ke depan. Dadanya terasa penuh.
"Aku juga."
Mereka saling berpandangan.
"Ini konyol. Semua karena anak yang baru datang kemarin."
"Muda memang. Tapi jauh dari biasa."
Keduanya tersenyum tipis. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Lebih ringan. Tapi juga lebih kokoh.
"Gul."
"Ya, Sahyung?"
"Kita benar-benar bisa menjadi kuat?"
Jo Gul berpikir sejenak. Lalu menjawab dengan suara yang lebih pasti dari sebelumnya.
"Kalau tidak bisa... setidaknya kita bisa mencoba lebih keras."
"Huh... jawaban yang menenangkan."
Mereka berbalik. Melangkah kembali ke ruang makan. Tak tahu bahwa dari kejauhan, seseorang sedang memperhatikan mereka.
Dan dalam hati kecil mereka, angin yang sama yang dibicarakan Un Am mulai bertiup.
Bukan topan. Belum.
Tapi cukup untuk menggerakkan daun-daun yang selama ini diam.