Langsung ke konten utama
Back to Return of Mount Hua Sect Bahasa Indonesia

Chapter 019: Gunung Hua menjadi seperti ini karena AKU? (5)

Langkah kaki itu terdengar lagi.

Kali ini bukan satu atau dua orang. Tapi serombongan. Wajah-wajah yang datang bukan wajah asing. Mereka telah terlalu sering muncul di gerbang Gunung Hua belakangan ini.

Hanya saja, hari ini—

jumlah mereka lebih banyak.

Dan suara mereka lebih keras.

"Kami sudah memberi kalian waktu!"

"Sampai kapan mau diulur?"

"Kesabaran kami ada batasnya!"

Hyun Jong berdiri di depan. Tegak. Tapi ada sesuatu di bahunya yang turun sedikit. Hampir tak terlihat. Hampir.

Chung Myung mengamati dari samping. Matanya menyipit.

Di antara kerumunan itu, seorang pria melangkah maju. Langkahnya tenang. Tapi membawa hawa yang berbeda. Begitu ia muncul, yang lain mundur setapak. Memberi ruang.

'Dia dalangnya.'

Pandangan Chung Myung menajam.

Perawakan pria itu khas. Wajah bulat penuh perhitungan. Jubah sutra mahal membalut tubuhnya, dihiasi sulaman rumit yang berkilau diterpa sinar matahari. Pedagang kaya. Tipe yang tersenyum sambil menusuk.

"Pemimpin sekte. Apa kabar?"

Suaranya lembut. Terlalu lembut.

"Aku tidak menyangka Pemilik Paviliun Kong akan datang sendiri."

Hyun Jong menjawab pelan. Senyum tipis tersungging di wajahnya. Tapi itu senyum yang dipaksakan. Chung Myung bisa melihatnya. Jelas sekali.

"Ah, andai aku bisa datang dalam suasana yang lebih bersahabat," jawab Kong. Ia menghela napas dramatis. "Aku pun tidak ingin naik ke gunung ini dalam situasi begini. Tapi... terlalu banyak yang mendesakku."

Hyun Jong menunduk sedikit.

"Aku minta maaf."

Satu kalimat. Tapi beratnya seperti batu.

Kong memiringkan kepala. Pandangannya dingin meski bibirnya tersenyum.

"Pemimpin sekte, cobalah memahami kami juga. Jatuh tempo kontrak sudah jauh terlampaui."

Hyun Jong diam.

"Kami tahu Gunung Hua sedang kesulitan. Kami sudah menutup mata. Berkali-kali." Suaranya masih lembut. Tapi kini ada ujung tajam di sana. "Tapi kalau kalian terus melanggar janji... akan sulit bagi kami untuk diam lagi."

Wajah Hyun Jong masih tenang.

Tapi Chung Myung melihatnya. Kedutan kecil. Di sudut mata. Hampir tak kasat mata.

Kong melanjutkan. Kali ini nadanya lebih rendah. Hampir seperti berbisik.

"Sesuai kontrak, kami sebenarnya sudah bisa menuntut. Sekarang juga."

Jeda.

"Tapi..."

Senyumnya melebar.

"Kami telah menikmati berkah Gunung Hua selama bertahun-tahun. Terlalu lama. Sulit bagi kami untuk bersikap kasar."

Seseorang di belakangnya membuka mulut. "Pemilik Kong—"

"Kami sudah menunggu—"

"Uh-huh."

Satu dehem. Kecil. Tapi cukup untuk membungkam mereka semua. Kong tidak menoleh. Matanya tetap pada Hyun Jong.

"Kalau kita tidak tahu berterima kasih, apa bedanya kita dengan binatang? Jangan hanya ingat kebaikan yang kalian berikan. Ingat juga berkat Gunung Hua. Berkat para pendahulu merekalah kita semua bisa hidup nyaman sekarang."

Beberapa orang mengangguk. "Benar." "Betul."

Kong tersenyum. Puas.

"Jadi, kami akan beri kelonggaran terakhir. Tujuh hari. Kalau pinjaman tidak dilunasi dalam tujuh hari..." Ia berhenti. Tatapannya mengeras. "...Kami akan mengambil sesuai kontrak awal."

"Tunggu, Pemilik Kong—"

"Pemimpin sekte."

Kali ini suaranya benar-benar dingin.

"Cukup. Kami butuh uang. Kami sudah sangat lunak. Kalau tujuh hari tidak ada pembayaran... Gunung Hua akan kami sita."

"Kuak!"

Semua mata beralih.

Chung Myung menutup mulutnya sendiri. Telat.

Kong menoleh. Matanya menatap bocah itu. Sebentar. Lalu tersenyum lagi.

"Kami telah menunjukkan pemandangan buruk di depan seorang anak."

Ia berbalik.

"Hari ini cukup. Pemimpin sekte. Semoga lain kali kita bisa bertemu dan saling tersenyum dengan tenang. Sampai jumpa."

Langkahnya pelan. Tapi pasti. Para pedagang lain mengikuti seperti bayangan.

Hyun Jong masih berdiri di tempatnya. Kepala terangkat. Tapi matanya menerawang ke kehampaan. Seperti orang yang baru saja melewati badai.

Lalu—

"...Hah."

Satu embusan napas.

Frustrasi. Lemah. Tapi membawa beban yang sangat besar.

Di tempat lain, tidak lama setelah itu.

"Jadi..."

Chung Myung duduk bersila. Dagu di atas tangan. Matanya menatap tajam.

"Pedagang dari Desa Hua?"

"Benar."

"Ugh."

Kepalanya bergerak ke kiri. Ke kanan. Kembali ke kiri. Seperti boneka kayu yang engselnya longgar.

Anak yang berdiri di depannya mundur selangkah.

'Jangan-jangan dia bakal nyerang. Lebih baik jaga jarak.'

Alasan ia dipanggil sebenarnya sederhana. Begitu Chung Myung kembali ke Asrama Bunga Plum Putih—dengan amarah yang nyaris meledak—ia langsung mengumpulkan semua anak yang berasal dari distrik perbelanjaan. Siapa yang tahu kondisi Gunung Hua? Siapa yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?

Anak inilah yang akhirnya angkat tangan.

Dan sekarang, ia berdiri. Menjelaskan. Dengan gemetar.

"Desa Hua itu di bawah Gunung Hua, kan?"

Jo Gul ikut bertanya, menyela dari samping.

"Ya, Sahyung. Aku ingat waktu kecil, sering melihat waktu berjualan dengan ayah."

"Jadi Gunung Hua pinjam uang dari pedagang desa?"

"Setahuku..."

Anak itu menggaruk kepala.

Bagaimanapun, ia hanya murid kelas tiga. Soal keuangan sekte jelas bukan urusannya. Paling-paling hanya bisa menebak dari apa yang ia lihat.

"Orang tadi... Kong. Dia pemilik Paviliun Tae Hua. Yang terbesar di desa. Katanya dia punya banyak cabang usaha di bawah paviliun itu. Pedagang paling sukses di sana."

"Hmm."

"Jadi, kalau Gunung Hua butuh pinjaman... dia orang yang paling tepat untuk dimintai—"

KREK!

"Hah!?"

Wajah Jo Gul langsung pucat.

Chung Myung memutar lehernya lagi. Bunyi tulangnya bergemeretak.

"Saja! Tenang! Sajae!"

"Tae... Tae Hua..."

"Apa? Ada apa?"

Jo Gul bergidik. Ia tidak paham kenapa Chung Myung tiba-tiba seperti kehilangan dirinya. Tapi sesuatu jelas sedang terjadi.

Dan tiba-tiba—

TUK!

Chung Myung melompat berdiri. Seolah baru saja disuntik api. Ia menatap anak itu tepat di mata.

"Eek!?"

Tangannya mencengkeram kerah anak itu begitu cepat.

"Benar dia pemilik Tae Hua?"

"Y-Ya..."

"Jadi dia yang pinjamkan uang ke Gunung Hua? Dan sekarang dia mau sita tempat ini?"

"T-Te-Tenanglah—"

"Tenang?! Kau suruh aku tenang?!"

Bajingan!

Chung Myung melepas cengkeramannya. Tapi tangannya kini sibuk menggaruk kepalanya sendiri. Keras. Liar.

"Ada apa denganmu, Sajae?"

Chung Myung tidak menjawab.

Karena bagaimana bisa?

'Tae Hua... seharusnya milik Gunung Hua!'

Seorang pendekar Gunung Hua tidak hidup melayang di atas dunia. Tidak. Sekte manapun butuh uang. Tanpa dana, tidak ada yang bertahan. Gunung Hua, dengan ukuran dan sejarahnya, justru paling butuh.

Tapi pendekar hanya fokus pada latihan. Pedang. Teknik. Pertumbuhan. Siapa yang akan memikirkan roti di meja?

Maka Gunung Hua punya bisnis. Di Desa Hua. Dikelola oleh orang-orang kepercayaan.

Salah satunya: Paviliun Tae Hua.

Dan sekarang? Bisnis yang harusnya jadi milik Gunung Hua... malah meminjamkan uang ke Gunung Hua? Dan mencoba menyita sekte karena utang?

Kepala Chung Myung hampir pecah.

Kalau yang ia tahu... dan yang terjadi sekarang... berbeda... maka ada sesuatu yang benar-benar kacau.

"Sahyung Jo Gul."

"Hah?"

Jo Gul mendekat. Ada kebingungan di matanya. Tapi juga keingintahuan.

Chung Myung berbisik. Hanya untuk telinga Jo Gul. Dan begitu mendengarnya, mata Jo Gul membelalak.

"Itu?!"

"Bisa ambilkan?"

Jo Gul tergagap.

"Ah, ti-tidak, aku bisa, tapi—"

"Kalau begitu pergi. Ambil."

"...Sungguh?"

"Kau pikir aku bercanda, Sahyung?"

"A-aku ambilkan."

Jo Gul keluar dengan wajah tegang.

Yoon Jong mengamati dari sudut. Kepalanya miring.

'Apa yang dia rencanakan?'

Reaksi Jo Gul terlalu aneh.

Tapi sebelum pikirannya berkembang jauh—

Jo Gul sudah kembali. Membawa sesuatu di tangan.

'Kain?'

'Bukan... pakaian? Tapi buat apa tiba-tiba—'

Chung Myung menyambarnya. Begitu cepat. Jubah yang ia pakai langsung terlepas. Dan dalam hitungan detik—

Pakaian hitam pekat membalut tubuhnya.

"A-apa yang kau rencanakan?"

"Aku harus mencari tahu."

"Hah?"

Chung Myung menjawab tanpa menoleh.

"Kalau aku tanya para Sasuk, mereka pasti tidak akan jawab. Katanya anak kecil tak usah ikut campur."

Itu... jelas benar.

"Jadi aku akan pergi. Tanya langsung."

"Tu-Tunggu!"

Keringat dingin mengucur di dahi Yoon Jong. Otaknya berpacu. Semua keonaran Chung Myung sejauh ini... masih di dalam Gunung Hua. Masih bisa dikendalikan. Masih bisa ditutup-tutupi.

Tapi kalau dia turun gunung?

'A—aku harus menghentikannya!'

Kalau dia beruntung, dia mungkin dapat informasi tanpa masalah.

'Tapi mana mungkin semulus itu!'

Dengan kepribadian Chung Myung? Dia akan langsung bertanya tanpa peduli lawan bicaranya siapa. Bencana. Pasti bencana.

Kalau sampai terjadi insiden... Yoon Jong yang akan disalahkan. Sebagai murid kelas tiga paling senior. Sebagai penanggung jawab.

Tapi bagaimana menghentikannya?

Kalau dengan kata-kata bisa... dia pasti sudah berhasil.

Yoon Jong menarik napas. Paru-parunya terasa sempit.

"A—apa yang akan kau lakukan?"

"Tanya langsung."

"Dan kalau mereka tidak menjawab?"

"Masa?"

Chung Myung memiringkan kepala.

"Memang biasanya begitu. Tapi aku yakin mereka akan jawab."

Yakin bagaimana? Dasar gila!

Yoon Jong memutar otak. Mati-matian. Sampai akhirnya mulutnya terbuka, melontarkan satu-satunya senjata yang ia punya.

"Kau ini murid!"

"Hah?"

"Murid Gunung Hua!"

Yoon Jong tidak tahu pasti. Tapi ia merasa—hanya merasa—bahwa Chung Myung punya kebanggaan besar sebagai murid Gunung Hua. Kalau ada yang bisa menahannya... mungkin itu.

"Seorang murid tidak boleh begitu! Nanti kita tidak ada bedanya dengan gerombolan tak berdisiplin!"

Chung Myung mengangguk.

"Benar. Murid tidak boleh begitu."

Yoon Jong merasakan harapan. Wajahnya mulai berseri.

"Be—benar kan—"

"TAPI SAHYUNG! DENGARKAN!"

"Hah?"

"Ada ajaran Buddhis! Kalau kau bertemu Buddha, bunuh dia! Kalau kau bertemu leluhur, bunuh dia!"

"...!"

"JADI! Menjadi murid sejati... kau harus paham ini!"

Chung Myung menutupi wajahnya dengan kain hitam. Tinggal mata. Berkilat.

"Kadang... kau harus tahu kapan melanggar aturan!"

Apa yang orang gila ini ucapkan?!

Chung Myung berseru.

"Aku pergi! Demi menjadi pendekar sejati!"

"..."

Dan di situlah Yoon Jong akhirnya sadar.

Menghentikan Chung Myung... sejak awal memang tidak mungkin.

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026