Chapter 004: Situasi Seperti Apa Ini? (4)
Langit, Bumi, dan empat penjuru mata angin.
Penyatuan agung itu dikenal sebagai Keseimbangan Enam. Sebuah nama yang terdengar begitu sakral, namun di dunia persilatan, nilainya tak lebih dari sekadar rongsokan. Buku panduannya bisa kau temukan tergeletak di lapak loak, dijual dengan harga receh.
Sangat murah. Begitulah anggapan semua orang.
Di Sekte Gunung Hua, teknik pernapasan ini adalah pelajaran pertama yang wajib ditempuh. Sayangnya, tak ada satu pun murid yang menyukainya. Kenapa? Karena ajaran ini sama sekali tidak memberikan lonjakan tenaga dalam. Ia hanya bertugas membersihkan tubuh. Sebuah proses lambat yang sering kali dianggap membuang waktu oleh mereka yang mabuk akan kekuatan instan.
Dulu, Chung Myung juga membencinya.
Sebuah kebodohan masa muda yang menjelma menjadi penyesalan terbesarnya. Jika saja di masa lalu ia menyempurnakan fondasi dasar ini, menara kekuatannya pasti akan berdiri jauh lebih kokoh. Ia bisa menjadi dua kali lipat lebih mematikan.
Kini, takdir memberinya kesempatan untuk mengulang semuanya dari awal.
Chung Myung memejamkan mata. Ia menarik napas panjang, membiarkan keheningan hutan mengambil alih inderanya. Paru-parunya meraup udara bebas, mengalirkan oksigen murni ke seluruh aliran darah yang lelah.
Bagi seorang pemula, merasakan kehadiran energi alam butuh waktu berbulan-bulan. Namun bagi sang mantan grandmaster, ritme ini semudah membalikkan telapak tangan.
Fokusnya menajam ke titik ekstrem.
Ia memilah setiap partikel udara. Menyaring kotoran dari energi bumi bagai memisahkan sehelai benang dari gulungan sutra kusut. Kualitas adalah segalanya. Kuantitas tidak lagi ada artinya sekarang.
Waktu merangkak lambat. Matahari bergeser sejauh setengah hari.
"Haaa..."
Helaan napas panjang akhirnya meluncur dari bibir Chung Myung. Kelopak matanya terbuka. Pakaian compang-camping itu kini basah kuyup oleh keringat bercampur kotoran pekat yang didorong keluar dari pori-porinya. Sangat menjijikkan, namun terasa begitu menyegarkan.
Sebuah senyum puas terukir.
Di pusat perut bagian bawahnya, sebuah Dantian baru telah lahir. Ukurannya... luar biasa menyedihkan. Sebutir debu pun mungkin terlihat lebih besar dibandingkan titik energi tersebut.
Pendekar awam pasti akan menangis darah jika menyadari wadah energinya sekecil itu. Tapi tidak dengan Chung Myung. Ini adalah benih *qi* paling murni di bawah kolong langit. Sebuah titik mula yang tanpa cacat. Bola salju mikroskopis ini kelak akan memicu longsoran tenaga yang tak bisa dihentikan oleh siapa pun.
Kekuatan yang mungkin, hanya mungkin... bisa menandingi monster itu.
Sang Iblis Surgawi.
Bayangan sosok entitas yang pernah meratakan seluruh elit dunia persilatan seorang diri itu berkelebat di benaknya. Bulu kuduk Chung Myung mendadak meremang dingin.
"Baiklah... saatnya bergerak."
Ia memompa semangat. Bersiap bangkit untuk memulai perjalanan panjangnya.
Satu detik berlalu.
*Bruk!*
Tubuh kurus itu langsung mencium tanah telak. Chung Myung mengerjap bingung. Ia mencoba menopang bobotnya dengan tangan, namun lengan ringkih tersebut bergetar hebat layaknya ranting layu yang tersapu badai.
Tunggu sebentar.
Ia menunduk, menatap perutnya sendiri dengan horor perlahan merambat naik. Energi super murni sebesar biji sawi itu berdiam tenang di sana. Sempurna. Jernih. Namun... karena ukurannya yang nyaris gaib, energi itu sama sekali tidak bisa digunakan untuk menggerakkan otot fisiknya saat ini!
"Sialan!"
Chung Myung menjambak rambutnya sendiri yang kusut masai, bergulingan tak karuan di atas tanah berdebu.
Teguran tajam dari kakak seperguruannya di masa lalu tiba-tiba terngiang jelas di telinga. *"Gunakan kepalamu, Chung Myung! Otak itu bukan sekadar pajangan! Pikirkan akibatnya sebelum bertindak!"*
Benar. Ia baru saja melakukan blunder fatal. Dengan tubuh gembel yang rapuh tanpa tenaga ini, bagaimana caranya ia menempuh perjalanan menuju Shaanxi? Jaraknya dua ribu mil! Jangankan manusia biasa, kuda perang pun akan mati kelelahan menempuh rute sejauh itu.
"Ukh... nasib sial macam apa ini?!" keluhnya merana, merutuki takdir.
Namun, ratapan tak akan membawanya ke mana-mana. Dengan sisa-sisa harga diri yang ada, ia menyeret tubuhnya. Memaksa sepasang kaki kurus itu melangkah terpincang-pincang keluar dari rimbunnya pohon, menuju batas kota.
Ketekunan memang bisa menaklukkan rasa sakit. Sayangnya, batas wajar selalu ada.
Ada satu musuh yang tak bisa dikalahkan hanya dengan tekad baja.
Perutnya menjerit.
Rasa lapar yang buas menerkam lambungnya tanpa ampun. Ini bukan sekadar ujian menahan nafsu makan layaknya pertapa di puncak gunung salju. Ini adalah kelaparan nyata yang merobek kewarasan dari dalam. Raga rentan ini sudah berada di ambang kematian sejak awal, dan kini ia menuntut haknya dengan paksa.
Langkah Chung Myung terhenti. Visinya mengabur hebat. Ia kembali ambruk, kali ini tubuhnya menolak untuk diajak kompromi.
Sang legenda pedang dari generasi ketiga, meregang nyawa karena kelaparan di pinggir jalan? Sungguh sebuah komedi gelap yang tak lucu sama sekali.
Di tengah kesadarannya yang perlahan memudar, samar-samar... sebuah suara gemerisik pelan terdengar mendekat.