Chapter 013: Runtuh tak terelakkan, dasar bajingan (4)
Fajar menyingsing di atas Puncak Gunung Hua.
*Woong!*
Chung Myung meregangkan tubuh kurusnya. Ia menarik napas dalam, memusatkan pikirannya pada Dantian di bawah perut.
Titik kecil yang tadinya tak lebih besar dari debu, kini mulai menunjukkan bentuk nyata. Seiring tarikan napasnya, energi murni alam semesta meresap masuk, membasuh tubuh ringkih itu seperti aliran sungai yang menyucikan batu kali.
Ia membuka mata perlahan. Sebuah decak kagum tanpa sadar lolos dari bibirnya.
Energi ini... luar biasa jernih. Bahkan di masa kejayaannya dulu, ia belum pernah merasakan kultivasi semurni ini. Meski volumenya masih kecil dan belum bisa dipakai untuk bertarung serius, potensinya tak terbatas. Jika terus dikumpulkan, kekuatan barunya ini pasti akan melampaui puncak tertingginya di kehidupan lalu.
"Tapi... butuh waktu berapa lama?" gumamnya. Wajahnya kembali muram.
Gunung Hua sedang berada di ujung tanduk. Sekte ini tidak akan bertahan cukup lama menunggu sang Legenda Bunga Persik kembali ke kekuatan penuhnya.
Chung Myung memijat pelipisnya, mencoba memetakan kekacauan epik ini.
Mari kita hitung dosa sekte ini. Pertama, mereka melarat. Kedua, teknik pedang terkuat mereka menguap begitu saja. Ketiga, dan ini yang paling krusial... mereka tidak punya penerus yang kompeten.
Uang bisa dicari. Ilmu pedang bisa ia ajarkan ulang dari ingatannya. Tapi bakat?
Ia tidak mungkin turun gunung dan menculik anak-anak jenius dari perguruan lain. Ia juga belum punya reputasi untuk menarik minat pemuda dari keluarga ternama. Pilihan satu-satunya adalah... mendaur ulang rongsokan yang ada.
Ia menatap ke arah asrama. Anak-anak yang tadi malam ia hajar habis-habisan.
"Ya, tak ada pilihan lain," Chung Myung mengepalkan tangan, senyum miring perlahan terukir di wajahnya. "Kalau mereka ampas, akan kujadikan emas. Kalau mereka rusak, akan kupaksa mereka berfungsi kembali!"
Sebuah ingatan lama melintas. Suatu hari, Kakak Jang Mun pernah bertanya padanya.
*"Chung Myung, bagaimana cara yang akan kau pakai jika nanti kau mengambil murid?"*
*"Sederhana, Kakak. Manjakan anak, maka kau merusaknya. Simpan tongkat, siapkan cambuk. Jangankan manusia, anjing saja bisa disuruh jalan pakai dua kaki kalau dilatih dengan keras, kan?"*
Setelah percakapan itu, Jang Mun tidak pernah lagi membahas soal murid dengannya.
"Yah... tak kusangka aku harus mendidik belasan anjing secara bersamaan," kekeh Chung Myung pelan. Tawa yang, jika didengar orang awam, pasti akan disangka sebagai bisikan iblis.
Udara fajar masih menusuk tulang.
"Ngantuk sekali..."
"Gila ya, jam segini disuruh kumpul di luar."
"Kakak Senior Yoon Jong, ini tidak kelewatan?"
Yoon Jong, yang paling tua di antara mereka, hanya memejamkan mata menahan kesal. *Tutup mulut kalian, dasar idiot!* batinnya.
Anak-anak ini sebagian besar berasal dari keluarga saudagar di kota bawah. Mereka dikirim ke Gunung Hua bukan untuk menjadi pendekar sejati, melainkan sekadar mendapat gelar. Tidak heran mental mereka selembek tahu.
Meski tadi malam sudah dihajar sampai setengah mati, mulut mereka masih berani menggerutu.
Yoon Jong melirik Jo Gul. Preman asrama itu berdiri mematung dalam diam, wajahnya pucat. Jelas, memori tentang rahangnya yang nyaris copot semalam masih membekas kuat.
Tatapan Yoon Jong beralih ke pintu asrama.
*Dari neraka mana monster itu berasal?* Membayangkan seorang bocah sekurus ranting menghabisi lebih dari tiga puluh remaja dengan satu patahan kaki kursi... tubuh Yoon Jong merinding hebat. Jangankan murid biasa, instruktur mereka pun belum tentu bisa melakukan hal segila itu.
"Apa dia bakal memukul kita lagi pagi ini?" bisik salah satu anak.
Kalimat itu sukses membungkam semua omelan. Keheningan yang tegang langsung menyergap.
Jo Gul, dengan suara bergetar yang ditahan-tahan, angkat bicara. "Kalau kalian masih sayang nyawa, tutup mulut dan ikuti saja maunya."
Itu Jo Gul. Orang yang paling sombong dengan kemampuan pedangnya di antara para pemula. Jika dia saja sampai ketakutan setengah mati, apalagi mereka?
Anak-anak itu mulai mengamati benda-benda aneh yang diperintahkan untuk mereka bawa. Ada karung-karung kosong, tumpukan batu kerikil, dan batang kayu tebal.
"Buat apa batu dan karung ini?"
Belum sempat ada yang menjawab, pintu asrama berderit terbuka.
Seluruh kepala serentak menunduk.
Chung Myung keluar. Wajahnya kusut masai, seolah ia baru saja dibangunkan paksa dari tidur yang sangat nyenyak. Padahal dialah yang menyuruh mereka kumpul.
Ia menyapu pandangan ke arah barisan murid yang pucat pasi itu.
"Semuanya sudah hadir?"
"SUDAH!" jawab mereka serempak, menggelegar.
"Sssht! Jangan teriak! Nanti Paman Guru bangun!" bentak Chung Myung kesal, membuat mereka semua langsung mengatupkan mulut rapat-rapat.
*Krek. Krek.* Chung Myung membunyikan lehernya.
"Baiklah, begini," mulainya santai. "Kita akan tinggal bersama entah sampai kapan. Tapi dari apa yang kulihat kemarin..." Ia menyeringai tipis. "...kalian ini terlalu lemah. Sangat menyedihkan."
Hening.
Bagi orang yang sedang menempuh jalan pedang, dikatai 'lemah' adalah penghinaan terbesar. Wajah beberapa anak dari keluarga saudagar itu memerah menahan marah. Tapi apa daya? Bukti dari kelemahan mereka adalah lebam biru di wajah masing-masing akibat ulah monster di depannya ini.
"Karena kalian sudah telanjur memakai seragam sekte ini, setidaknya kalian harus bisa berkelahi dengan benar, kan?" lanjut Chung Myung. "Jadi, mulai sekarang, setiap pagi sebelum matahari terbit, kalian akan ikut sesi latihanku. Menyenangkan, bukan?"
Menyenangkan kepalamu!
Tiba-tiba, seorang anak dari barisan belakang mengangkat tangan.
"Ya, apa?"
"A-apa kami wajib ikut ini? Kau kan juga murid baru, belum punya hak mengatur kami. Setidaknya jagalah sopan santun sedikit."
Chung Myung menatap anak itu sedih. Ia lalu melirik Yoon Jong seolah bertanya, *Kenapa ada orang sebodoh ini?*
Yoon Jong buru-buru menjawab dengan isyarat mata. *Orang itu kemarin kebetulan tidak ada di asrama waktu kau mengamuk.*
"Oh, masuk akal," gumam Chung Myung mengangguk-angguk. "Kau benar. Sopan santun itu penting. Jadi begini... siapa yang tidak mau ikut latihanku, dan merasa tidak perlu menjadi kuat, silakan angkat tangan."
Mendengar itu, sekitar selusin anak yang tidak hadir semalam ikut angkat tangan.
"Bagus. Yang angkat tangan, silakan masuk kembali ke asrama untuk tidur," ucap Chung Myung lembut.
"Boleh kami masuk sekarang?"
"Silakan."
Yoon Jong dan Jo Gul memejamkan mata rapat-rapat. *Dasar anak-anak tolol! Dia bilang silakan masuk asrama, BUKAN silakan pergi tidur!*
Selusin anak itu tersenyum riang dan berjalan masuk ke asrama. Chung Myung mengikuti mereka perlahan dari belakang, lalu menutup pintu dengan sangat... sangat rapat.
*TAK.*
Suasana di luar asrama membeku.
Tak ada teriakan yang terdengar. Namun, anak-anak di lapangan bisa melihat dengan jelas bangunan asrama itu bergoyang-goyang mengerikan dari luar.
Tidak butuh waktu lama.
*BRAK!*
Pintu asrama didobrak dari dalam. Selusin anak tadi berhamburan keluar dengan wajah memucat dan rambut acak-acakan, persis seperti orang yang baru melihat setan. Mereka langsung berbaris rapi di samping yang lain tanpa berani mengeluarkan suara napas sedikit pun.
Chung Myung keluar tak lama setelahnya, tersenyum cerah sambil menepuk-nepuk debu di tangannya.
"Nah, aku tanya sekali lagi. Siapa yang TIDAK MAU ikut latihanku?"
"TIDAK ADA!" jawab mereka tertahan tapi kompak.
"Bagus sekali!" Chung Myung bertepuk tangan riang. "Masa depan Gunung Hua sangatlah cerah! Bersamaku, kalian akan kumasukkan ke dalam tungku neraka agar kalian keluar menjadi pedang baja!"
Di bawah cahaya fajar yang perlahan merekah, Yoon Jong menatap nanar matahari terbit.
Masa depan Gunung Hua mungkin akan kembali cerah, tapi masa remaja mereka... dipastikan akan sangat, sangat gelap.