Chapter 009: Astaga-Gunung Hua Runtuh (5)
"Seorang anak jalanan?"
Hyun Jong, dengan tenang, mengamati ekspresi bingung Un Am yang melaporkan tindakannya membawa Chung Myung ke asrama murid baru. "Sepertinya kau tidak setuju dengan keputusanku, Un Am."
"Bukannya saya tidak setuju, Pemimpin Sekte, tapi..." Un Am menghela napas panjang, merangkai kata agar tidak terkesan menentang terlalu keras. "Saya sungguh tidak paham arti dari keputusan Anda. Kenapa kita harus menerima anak itu? Sekte ini sedang sekarat. Mengurangi mulut yang harus diberi makan adalah langkah paling rasional saat ini."
Hyun Jong hanya mengangguk kecil.
"Dia bukan hanya sekadar anak tanpa latar belakang yang jelas, tapi dia juga tidak memiliki tanda-tanda bakat bela diri sekecil apa pun," sambung Un Am, suaranya sarat akan kekhawatiran. "Dan yang paling penting... tidak ada pancaran kemuliaan dari dirinya. Anak itu tidak sesuai dengan martabat Gunung Hua. Kenapa kita membawa masuk seseorang seperti itu?"
Sebuah senyum lembut tersungging di bibir Hyun Jong. "Kau benar-benar berpikir begitu?"
"Pemimpin Sekte..." Un Am membuang muka, frustrasi. Pria tua di hadapannya ini kadang terlalu membingungkan. Sudah lebih dari sepuluh tahun Un Am mengabdi sebagai tangan kanan, namun sering kali kedalaman pikiran Hyun Jong tak mampu ia selami.
"Un Am-ah," panggil Hyun Jong lembut. "Takdir dan hubungan sering kali terjalin di jalan yang tak pernah kita duga."
Hyun Jong menatap lurus ke depan, seolah menembus dinding ruangan. "Siapa tahu... mungkinkah anak yang tak kau harapkan itu akan menjelma menjadi cahaya terang bagi sekte kita yang sedang redup ini?"
"Dia terlalu muda untuk memikul beban sebesar itu."
"Tapi potensinya selalu ada," jawab Hyun Jong, suaranya melembut, menyiratkan beban yang sangat berat.
Un Am terdiam. Ia tahu betul kondisi Gunung Hua saat ini layaknya genta retak di ambang jurang. Sedikit saja embusan angin kencang, genta itu akan jatuh hancur tanpa ada yang peduli. Membawa Chung Myung masuk ke dalam kapal karam ini... bukankah itu sebuah kekejaman?
Berapa besar luka yang akan anak itu tanggung jika pada akhirnya sekte ini runtuh dan ia harus kembali dibuang ke jalanan?
"Aku tahu situasi kita sangat kritis," ucap Hyun Jong memecah keheningan. "Tapi ingatlah ini, Un Am. Bunga persik akan selalu menemukan jalannya untuk mekar, bahkan di tengah badai salju yang paling ganas."
Mata Un Am bergetar.
"Dan bunga persik yang mampu bertahan menembus cengkeraman musim dingin... akan menguar dengan aroma yang jauh lebih manis dan kuat daripada bunga yang tumbuh di musim semi yang hangat." Hyun Jong tersenyum sedih. "Jika kita menolak menanam benih hanya karena takut akan musim dingin, bukankah kita sendirilah yang memusnahkan harapan mekarnya bunga itu?"
"...Anda benar," bisik Un Am akhirnya.
"Bagus. Kembalilah dan awasi dia."
Begitu pintu tertutup, Un Am menggelengkan kepalanya pasrah. Berbicara dengan Pemimpin Sekte selalu menguras emosinya. Meski kata-kata lelaki tua itu indah, realita pahit tetap menancap di benaknya: Gunung Hua sedang sekarat, dan tak lama lagi mereka akan lenyap dari sejarah.
Sementara itu, di sebuah asrama yang reyot, Chung Myung menatap nanar pakaian di tubuhnya.
Sebuah jubah putih kusam dengan sulaman lima kelopak bunga persik di dada. Simbol kebanggaan sekte. Tapi... kainnya!
"Sialan, gatal sekali!" umpatnya sambil menggaruk-garuk punggung. Kain jubah ini sangat kasar, seolah ditenun dari jerami kering. Jika bukan karena ia sudah terbiasa memakai gombalan busuk selama sebulan terakhir, kulitnya pasti sudah melepuh.
"Berubah seratus delapan puluh derajat," keluhnya getir.
Dulu, meskipun Gunung Hua tidak sekaya Wudang atau Shaolin, mereka punya simpanan emas dan perak yang cukup membuat gunung bergoyang. Walau Kakak Jang Mun sangat pelit dan tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh brankas, setidaknya murid-murid selalu diberikan pakaian sutra terbaik dan makanan yang layak.
Tapi jubah rongsokan ini?
"Ke mana larinya semua kekayaan sekte, hah?!" dengusnya kesal.
Bahkan jika mereka menjual pusaka-pusaka penting, seharusnya ada cukup uang untuk mendandani anak-anak mereka dengan pantas!
Chung Myung memijat pelipisnya. Pusing. Makin ia memikirkan kondisi sektenya, makin kepalanya serasa mau pecah. Harapan yang membumbung tinggi di awal pendakiannya, kini hancur berkeping-keping.
"Tapi yah... setidaknya aku berhasil masuk."
Meski harus menelan pil pahit menjadi murid dengan kasta paling rendah, ini adalah pijakan awalnya. Memulihkan kejayaan sekte bukan perkara satu malam. Seribu mil harus dimulai dari satu langkah.
Namun... masalah lainnya adalah: di mana sebenarnya ia sekarang?
Chung Myung menatap sekeliling. Dinding-dinding usang ini terasa familier. Ah! Ini dulunya adalah aula tempat berlatih! Tapi kenapa sekarang disekat-sekat menjadi kamar asrama kumuh?
Seingatnya, Gunung Hua tidak pernah punya asrama semacam ini. Murid baru biasanya langsung dititipkan ke kediaman guru masing-masing.
"Sepertinya aku sendirian di bangunan ini."
Penasaran, Chung Myung melangkah keluar dari kamarnya dan menyusuri lorong remang-remang. Ia tiba di depan sebuah pintu kayu yang agak terbuka. Diintipnya sedikit. Ada barang-barang berserakan di dalam.
"Siapa yang sudi tinggal di kandang babi ini?" gumamnya.
"Siapa kau?!"
Suara bentakan tajam dari arah belakang membuat Chung Myung terkesiap. *Sial!* Ia bahkan tak merasakan ada orang mendekat. Hilangnya tenaga dalam ternyata membuat instingnya tumpul seperti orang buta.
Di belakangnya berdiri seorang anak seumurannya, menatap dengan mata menyalang.
"Kau siapa, keparat?! Berani-beraninya mengintip kamarku! Kau mau mencuri, hah?!"
*Keparat?* Chung Myung melongo. Sejak kapan murid Gunung Hua diajari bermulut sampah begini?!
Mendengar keributan, beberapa kepala anak laki-laki lain muncul dari kamar-kamar sebelah.
"Ada apa, Jo Gul?" tanya salah satu dari mereka.
Anak bernama Jo Gul itu menunjuk Chung Myung dengan kasar. "Bedebah ini mengintip kamarku!"
"Siapa dia? Murid baru?"
Chung Myung menengadah, memohon kesabaran dari langit. *Ya Dewa, kenapa aku harus bereinkarnasi untuk melihat sekte suciku diisi berandalan pasar seperti mereka?* Secara teknis, usianya cukup untuk menjadi kakek buyut dari bocah-bocah kurang ajar ini.
Saat ia baru saja membuka mulut untuk memberi 'pelajaran etika' pada mereka, sebuah suara berat dan menggelegar menyapu lorong.
"Apa yang terjadi di sini?!"
Anak-anak itu seketika pucat pasi. "G-Guru Yun Geom!"
Seorang pria bertubuh tegap dan berwajah kaku menuruni tangga. Matanya tajam menyapu sekeliling, membuat aura lorong itu mendadak dingin.
"Kenapa kalian membuat keributan di jam latihan? Siapa yang mengizinkan kalian keluyuran di asrama?!" bentaknya.
"M-maaf, Guru! Baju saya kotor, jadi saya mau ganti..." jawab Jo Gul gemetar.
"Alasan! Minta maaf sekarang!"
Anak-anak itu serempak menunduk ketakutan, lalu buru-buru menyelinap pergi, menyisakan Chung Myung yang masih berdiri tegak.
Yun Geom menoleh. Tatapannya menusuk. "Kau siapa?"
"Chung Myung."
"Oh, murid baru di Asrama Bunga Persik Putih."
"Asrama... apa?"
"Asrama Bunga Persik Putih," tegas Yun Geom, alisnya bertaut kesal. "Tempat tinggal murid-murid baru. Dan bicaralah dengan sopan padaku!"
Chung Myung menarik napas dalam. Sabar. Sabar. Ia harus ingat posisinya sekarang.
"Baik, Guru," jawabnya menunduk sedikit.
"Ikut aku," perintah Yun Geom.
"Ke mana?"
"Latihan. Tidak peduli kau murid baru atau bukan, kewajibanmu adalah berlatih. Jangan membuang waktu."
Chung Myung mengangguk setuju di dalam hati. Ia butuh tempat dan lingkungan latihan untuk memulihkan kekuatannya. Masalahnya, mereka pasti akan memaksanya melakukan latihan dasar konyol yang sama sekali tak berfaedah untuknya.
Ia berjalan mengekor Yun Geom. Di belakang, Jo Gul sengaja memperlambat langkahnya hingga sejajar dengan Chung Myung.
"Tunggu saja nanti malam," bisik bocah itu tajam. "Akan kuhajar isi kepalamu."
Chung Myung melirik datar. "Oh ya? Coba saja."
"Kau—!"
"Jo Gul! Kenapa lelet sekali?!" bentak Yun Geom dari depan.
"S-siap, Guru!" Jo Gul langsung berlari kencang menyusul gurunya, tak lupa memberikan tatapan membunuh pada Chung Myung.
Melihat tingkah bocah itu, seulas senyum miring terbit di bibir Chung Myung. Tangannya gatal.
*"Murid-murid ini sangat membutuhkan perhatian ekstra dariku,"* batinnya, senyumnya makin lebar dan... mengerikan. *"Dan percayalah, aku akan mendidik mereka dengan sangat... penuh kasih sayang."*