Langsung ke konten utama
Back to Return of Mount Hua Sect Bahasa Indonesia

Chapter 015: Gunung Hua menjadi seperti ini karena AKU? (1)

*"Fiuh..."* Un Geom menengadah menatap langit pagi, otaknya mendadak kebas.

*"Awalnya kupikir dia hanya anak normal. Ternyata... gila."*

Mata Un Geom kembali tertuju pada Chung Myung. Seragam bocah itu sudah tak terlihat seperti kain lagi; melainkan spons usang yang basah kuyup memeras keringat. Wajahnya merah padam, pembuluh darah menonjol di pelipisnya seolah kepalanya siap meledak kapan saja. Kaki kurus itu bergetar hebat menahan beban gila di pundaknya.

Melihat kondisi itu, pertahanan keras Un Geom sebagai instruktur runtuh seketika.

"K-kau... mau duduk dulu?" tawarnya pelan.

Ia tak tahan. Walau disiplin adalah napasnya, ia punya hati. Melihat Chung Myung saat ini sama seperti melihat anak anjing malang yang kedinginan di tengah badai salju. Terlalu menyedihkan.

"Ah, tidak perlu," jawab Chung Myung dengan suara serak. "Tapi kalau boleh... aku mau sedikit air."

"Cepat ambilkan air! Sekarang!" bentak Un Geom pada murid-murid yang terkapar di tanah.

"B-baik, Paman Guru!"

Satu anak buru-buru merangkak mengambil guk air.

Sementara itu, Un Geom mencoba menyusun kata-kata. Ia bingung harus mulai menginterogasi dari mana.

"Jadi... apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Un Geom akhirnya.

Chung Myung menatapnya dengan raut wajah santai yang kontras dengan fisiknya yang nyaris remuk.

"Tidak ada yang spesial, Paman."

"...Tidak ada?"

"Ya. Mulai hari ini, kami sepakat untuk berolahraga bersama setiap subuh. Tapi karena ini hari pertama, kami mungkin sedikit terlalu semangat. Maklum saja, kakak-kakak kelasku ini sangat termotivasi."

*Termotivasi?!* Un Geom melirik deretan murid senior di belakang Chung Myung. Mereka semua membelalakkan mata, melambai-lambaikan tangan dengan panik ke arah Un Geom, seolah mengirimkan kode SOS tanpa suara. Namun, ketika Chung Myung menoleh sedikit ke arah mereka, gerakan tangan itu langsung berhenti. Mereka membeku seperti patung es.

*"Sihir macam apa ini?"* batin Un Geom takjub campur ngeri.

Sebagai instruktur yang sudah sepuluh tahun menghadapi tingkah laku remaja, Un Geom tidak bodoh. Ia tahu persis kapan murid-murid ketakutan. Dan jelas sekali... para senior Gunung Hua ini sedang ketakutan setengah mati pada seorang anak gembel yang baru masuk asrama semalam!

Ini aneh. Seburuk-buruknya murid Gunung Hua, kemampuan bela diri mereka tidaklah lemah. Jika diadu dengan preman jalanan seumurannya, mereka pasti menang. Tapi kenapa mereka takluk pada satu bocah ingusan?

"Jadi... ini inisiatif olahraga pagi?" pancing Un Geom.

"Benar."

"Hei, Nak." Nada suara Un Geom berubah tegas. "Asrama Bunga Persik Putih punya jadwal pelatihannya sendiri. Siapa yang memberimu izin memotong waktu tidur murid-murid lain dan memaksa mereka berlatih di luar jadwal?"

Chung Myung berkedip polos.

"Oh... begitu. Ya sudah, kalau tidak boleh, tidak usah."

"..."

*Hah?!* Un Geom terbengong. Reaksi ini sangat di luar dugaannya.

"T-tunggu. Kau pikir memaksakan latihan gila ini akan membantu mereka?"

"Tentu saja."

"Kenapa kau begitu yakin?"

Chung Myung memiringkan kepalanya. "Justru saya yang bingung. Kenapa Paman Guru berpikir ini tidak akan membantu?"

"..."

Skakmat. Un Geom menelan ludah. Logika anak ini... masuk akal!

"Maksud saya begini, Paman," Chung Myung mulai berpidato. "Belajar teknik dari Paman Guru memang sangat cukup. Tapi sebagai murid, kami juga harus punya inisiatif. Fondasi bela diri adalah tubuh fisik. Menurut saya, latihan ketahanan otot seperti ini akan mendongkrak kemampuan bela diri kami nantinya."

Un Geom harus mengakuinya. Teorinya benar 100%.

"Aku setuju dengan logikamu," aku Un Geom. "Tapi... apakah bisa dibenarkan jika kau 'memaksa' kakak kelasmu berlatih di bawah ancaman?"

"Ancaman?" Chung Myung tertawa renyah, lalu menoleh ke belakang. "Paman ini bicara apa? Bagaimana mungkin saya, adik kelas yang paling lemah ini, mengancam Kakak-kakak Senior yang hebat? Saya cuma bilang mau latihan, lalu mereka menangis terharu dan memaksa ikut. Benar kan, Kakak-kakak?"

*OMONG KOSONG! DASAR KEPARAT TUKANG KIBUL!* jerit anak-anak itu dalam hati.

Namun, tidak ada satu pun yang berani membantah.

Un Geom mendesah panjang. Jika ia ingin membongkar kebohongan ini, ia harus bertanya, *"Hei, kalian ikut latihan karena takut dipukuli anak ini, kan?"* Tapi itu akan menghancurkan harga diri murid-muridnya. Dipukuli adik kelas di malam pertama? Itu aib yang terlalu besar! Belum lagi, itu akan menjadikan Chung Myung sebagai monster asrama yang kejam.

Tidak, Un Geom memutuskan untuk bermain cantik.

"Beri saya waktu satu bulan, Paman," ucap Chung Myung tiba-tiba, seolah membaca isi kepala Un Geom. "Sesi subuh ini tidak akan mengganggu latihan resmi Paman. Setelah sebulan, silakan Paman lihat sendiri hasilnya."

Mata Un Geom sedikit melebar.

*Satu bulan.* Anak ini bukan sekadar minta izin, ia menantangnya dengan janji hasil nyata! Kepercayaan diri macam apa ini?

"Sebulan... kurasa bisa dipertimbangkan. Tapi latihannya terlihat sangat brutal. Kau yakin kakak-kakak kelasmu ini sanggup bertahan?"

"Tentu saja! Mereka tidak pernah mengeluh karena ini kan murni kemauan mereka sendiri," Chung Myung tersenyum lebar.

Tidak ada yang membantah. Hening total.

*"Dari planet mana anak ini jatuh?"* batin Un Geom. Baru satu malam, bocah gembel ini sukses menundukkan seluruh asrama.

Namun di sisi lain, Un Geom merasa mendapat durian runtuh. Asrama ini kekurangan instruktur. Selama ini, waktunya habis hanya untuk mendisiplinkan anak-anak yang malas, sehingga ia tak punya waktu mengajarkan teknik lebih dalam.

Jika ada anak yang bersedia 'menyiksa'—maksudnya, memotivasi—teman-temannya untuk latihan fisik, bukankah bebannya akan jauh berkurang?

"Satu pertanyaan lagi," kata Un Geom, menatap lurus mata Chung Myung. "Latihan gila ini jelas menyiksamu. Kenapa kau memilih bangun subuh dan menderita?"

"Saya kurang paham maksud Paman," sahut Chung Myung. "Masuk Gunung Hua berarti belajar pedang. Masuk saja tidak otomatis bikin kuat. Untuk jadi kuat, murid harus rajin berlatih sampai muntah darah. Tentu Paman akan mengajari kami teknik, tapi kalau kami bisa mempercepat prosesnya dengan inisiatif sendiri, kenapa tidak? Mengorbankan sedikit waktu tidur adalah harga yang sangat murah untuk menjadi lebih kuat."

Dada Un Geom bergemuruh.

*Ya Tuhan.* Motivasi macam apa ini?! Di saat murid lain sibuk mencari celah untuk bolos, bocah ini malah sukarela menyiksa dirinya demi Gunung Hua! Pemimpin Sekte benar... bocah ini mungkin bukan sekadar anak jalanan. Ia adalah angin segar pembawa revolusi!

"Latihanmu terlihat sangat menyakitkan..."

"Itu karena ini baru hari pertama. Semakin disiksa, hasilnya semakin manis nanti."

Sudut bibir Un Geom berkedut, menahan senyum bangga yang nyaris meledak. Pemikiran anak ini sama persis dengan filosofinya!

"Bagaimana sikapmu pada para senior?"

"Tentu saja sopan santun. Hormat pada yang lebih tua, patuh pada kata-kata mereka," jawab Chung Myung mantap.

Sopan santun? Tentu, selama 'kata-kata mereka' sesuai dengan kemauan Chung Myung.

Un Geom mengangguk mantap. Ia memalingkan wajah, menatap kerumunan murid yang masih gemetar di tanah.

"Ehem!" Un Geom berdeham, memasang wajah serius.

"Paman sangat tersentuh melihat kalian semua 'secara sukarela' latihan sekeras ini dari subuh."

"Paman Guru?!"

"Instruktur?!"

Jeritan panik terdengar, namun Un Geom tak peduli.

"Jika kalian mempertahankan semangat ini, kalian pasti sukses. Karena anak baru ini sepertinya sangat paham soal latihan fisik, Paman izinkan sesi subuh ini dilanjutkan. Berjuanglah!"

*"TAMATLAH KITA!"*

*"DIA MENINGGALKAN KITA!"*

*"PAMAN, JANGAN BUANG MUKA!"*

Raut putus asa terlukis sempurna di wajah anak-anak itu.

"Oh ya, jangan lupa sarapan, dan pastikan kalian tidak telat di sesi latihan resmiku," tambah Un Geom. Ia berbalik pergi, tapi mendadak berhenti. "Ah, hampir lupa!"

Anak-anak menahan napas. *Ya, Paman! Tolong sadarlah! Selamatkan kami!*

"Karena olahraga kalian pasti menguras tenaga, mulai besok kalian tidak perlu lagi repot-repot membangunkanku di asrama guru. Simpan tenaga kalian untuk latihan subuh. Mengerti? Bagus!"

Un Geom tersenyum puas, melangkah pergi dengan ringan, lalu menghilang di balik tikungan.

"..."

*Krek. Krek.*

Bunyi patahan tulang sendi memecah keheningan yang mencekik.

Chung Myung menoleh ke arah para seniornya. Senyumnya secerah matahari pagi, tapi urat-urat kemarahan di dahinya menonjol mengerikan.

"'Paman Guru, tolong kami?'" ejek Chung Myung dengan suara lembut mematikan.

"..."

"Perasaan, aku tidak pernah mengancam mau membunuh kalian di depan Paman Guru kan? Nah, para Kakak Senior tersayang... bagaimana kalau kita masuk ke asrama dan mengobrol dari hati ke hati sebelum sarapan?"

"..."

"CEPAT MASUK, SIALAN!"

"S-SIAP!"

Pagi itu, seiring sinar mentari yang menghangatkan puncak Gunung Hua, serpihan mimpi dan masa muda belasan remaja resmi diremuk-redamkan tanpa sisa.

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026