Langsung ke konten utama
Back to Return of Mount Hua Sect Bahasa Indonesia

Chapter 006: Astaga-Gunung Hua Runtuh (2)

"Ah…"

Chung Myung menoleh cepat. Jantungnya berdegup girang. Ada manusia! Setelah sebulan penuh penderitaan merangkak bagai anjing buangan, ini adalah oase di tengah gurun. Gunung Hua ternyata belum sepenuhnya menjadi makam mati!

Suara derit kasar terdengar. Pintu kayu reyot yang setengah anjlok dari engselnya terbuka lambat. Sesosok pria paruh baya berseragam hitam melongokkan kepala dari balik celah.

"Apa ini? Seorang anak?"

Chung Myung mendadak tersadar. Pria ini bukan orang sembarangan. Ia pasti seorang petarung. Selama sebulan berkelana, semua orang yang melihatnya selalu memanggilnya gelandangan, pengemis, atau gembel. Tak peduli tua atau muda, bau busuk jalanan meratakan kasta mereka.

Namun pria ini? Pandangannya menembus lapisan kotoran, debu, dan pakaian compang-camping itu, lalu melihat identitas aslinya: seorang anak kecil.

"Tunggu, kau kemari... sendirian?" pria paruh baya itu bertanya, kebingungan jelas tergambar di wajahnya saat matanya memindai sekeliling. "Bagaimana mungkin anak sekecil dirimu mendaki tebing maut itu sendirian?"

"Uh... itu..." lidah Chung Myung kelu.

Apa ia harus bilang bahwa ia merangkak mengandalkan tekad baja? Dengan tubuh kerempeng kurang gizi ini, kejujuran malah akan mengundang kecurigaan. Ia tidak boleh terjebak dalam posisi tertuduh. Ia harus mengambil kendali percakapan.

"Itu tidak penting. Ada hal yang jauh lebih mendesak," potong Chung Myung cepat.

"Hah?" pria itu mengernyit. Sungguh lancang, seorang anak kecil memberi perintah pada tuan rumah.

"Apakah Anda murid beladiri dari Gunung Hua?"

"...Kau tahu soal Gunung Hua?"

"Saya benar, kan?"

"Bisa dibilang begitu... untuk saat ini."

Napas lega yang amat panjang menguar dari bibir Chung Myung. Belum terlambat! Meski tempat ini nyaris menjadi debu sejarah, denyut nadinya belum sepenuhnya berhenti. Sekte Agung ini masih hidup!

"Masuklah dulu."

"Eh?" Chung Myung mengerjap, kaget melihat senyum hangat yang tiba-tiba mengembang di wajah pria itu.

"Matahari hampir tenggelam. Malam di atas puncak ini sangat mematikan. Dengan kondisimu, turun gunung sekarang sama saja mengantar nyawa. Kami memang tidak sedang menerima tamu, tapi aku tidak mungkin membiarkan anak yang tahu nama Gunung Hua mati kedinginan di depan gerbalku."

Chung Myung tertegun. Mengapa mudah sekali?

Tapi... ah, sudahlah. Apa yang perlu ditakutkan dari tempat ini? Justru tempat inilah yang seharusnya waspada menerima gembel mencurigakan sepertinya.

"Jika kau memang tidak punya tujuan lain malam ini, berlindunglah. Kita bisa mengobrol nanti."

Rasa hangat asing tiba-tiba mengalir di dada Chung Myung.

Inilah Gunung Hua. Sekte yang selalu menjunjung tinggi kemanusiaan di atas pedang mereka. Meski kini tak lebih dari kerangka tua, jiwa agung itu ternyata masih menyala di dada penerusnya.

"Terima kasih atas kebaikan Anda," Chung Myung menunduk hormat.

"Ayo, masuk."

"Ah, maaf. Saya Chung Myung. Bolehkah saya tahu nama Anda, Tuan?"

"Chung Myung... nama yang indah. Panggil aku Un Am."

Marga Un! Mata Chung Myung berbinar.

Dalam silsilah Gunung Hua, marga *Chung* dan *Un* digunakan secara bergantian antargenerasi. Jika saat ini adalah era Un, berarti pria ini adalah generasi keempat setelahnya. Cicit dari cicit murid-muridnya dulu. Wajar jika Un Am sama sekali tidak mengenalinya.

Rasa haru campur malu menyergap dada Chung Myung. Sejenak, ia merasa marah atas kehancuran ini. Tapi... apa haknya? Anak-anak generasi ini hanyalah korban. Mereka diwarisi abu peperangan tanpa bimbingan para tetua. Tetap bertahan menjaga nama sekte di tengah kehancuran total adalah sebuah keajaiban yang patut dihormati.

"Fiuh." Chung Myung melangkahkan kaki melewati gerbang.

Kenangan indah mulai bermunculan. Ia bersiap melihat halaman depan yang luas, tempat ia dulu melatih pedang di atas hamparan batu biru muda yang mahal. Kakak seperguruan pertamanya, Jang Mun, sangat membanggakan lantai batu—

"Tunggu." Chung Myung menggosok matanya.

Lantai batu birunya... ke mana? Kenapa halamannya berubah jadi ladang lumpur?

Apakah pemimpin generasi ini mengidap kelainan hingga membongkar lantai termahal di sekte?

"Ukh..." Kepalanya mulai berdenyut.

Tenang, Chung Myung. Tenang. Itu hanya batu. Walaupun harganya selangit dan Jang Mun sering menghajarnya kalau ia membuat goresan di sana... itu tetaplah benda mati. Mungkin mereka menjualnya untuk bertahan hidup. Ya, itu sangat rasional. Masuk akal.

Mari kita lihat ke arah lain. Istana Emas Surgawi! Bangunan termegah di pusat Gunung Hua!

Chung Myung menoleh. Matanya mencari-cari.

"Eh..."

"Ada apa?" Un Am bertanya lembut.

"T-Tuan..." jari Chung Myung bergetar hebat menunjuk sebuah tanah kosong gersang. "Tanah di sebelah sana... bukankah seharusnya ada sesuatu?"

"Ah, matamu tajam sekali. Ya, dulu ada bangunan besar di sana."

Dulu ada?! Lalu sekarang menguap?!

"Hahaha, itu bukan kisah yang menyenangkan untuk anak sepertimu. Anggap saja itu luka bersejarah kebanggaan kami," Un Am tertawa getir.

Kebanggaan nenek moyangmu! Chung Myung mengumpat dalam hati. Bangunan sebesar itu hilang dicuri siluman?!

Keputusasaan mulai menggerogoti. Batu biru lenyap, papan nama hilang, istana utama rata dengan tanah. Kalau ada yang bilang ini markas ranting Sekte Iblis, Chung Myung pasti akan langsung percaya.

"Tempat ini... agak sepi ya," gumam Chung Myung getir.

Senyum Un Am meredup, menyisakan gurat kesedihan mendalam. Reaksi itu menampar batin Chung Myung. Tentu saja mereka menderita. Bertahan di kapal karam ini jauh lebih menyiksa daripada lari ke sekte lain yang lebih makmur.

"Mari," Un Am menepuk pundaknya lembut. "Tamu tetaplah tamu. Meski kau butuh istirahat, di Gunung Hua, kita harus memberi penghormatan terlebih dahulu di Kuil Okcheon."

Chung Myung mengangguk patuh. Bagus. Kuil Okcheon adalah jantung spiritual sekte. Pasti tempat itu setidaknya masih terjaga kehormatannya. Ia menarik napas dalam-dalam, menyiapkan mental.

Namun... saat kakinya melangkah masuk, napasnya langsung tercekat.

Kuil itu dipotong setengah! Hanya tersisa satu ruangan sempit berisi potret lusuh, mangkuk dupa retak, dan meja kayu biasa.

Sangat... menyedihkan.

Chung Myung mulai gemetar. Ke mana perginya lampu lilin emas pemberian Kaisar? Ke mana gulungan pusaka? Tapi semua itu bukan yang terburuk. Matanya terpaku pada altar utama.

"T-Tuan Un Am..."

"Ya?"

"Bukannya... bukannya di atas sana... seharusnya ada bunga?"

Un Am memiringkan kepalanya. "Bunga?"

"Ya! Bunga! Bunga prem dari logam putih murni!"

Mata Un Am membesar, terkejut seorang anak jalanan tahu rahasia itu. "Bagaimana kau bisa tahu? Ya, dulu benda aneh itu diletakkan di sana."

"Lalu ke mana perginya?!" suara Chung Myung meninggi panik.

"Kami menjualnya."

"...Hah?"

"Warnanya kusam, sama sekali tidak cocok dengan dekorasi kuil. Kebetulan ada pedagang barang antik yang berani bayar mahal. Jadi... kami lepas saja."

"DIJUAL?!"

Darah di kepala Chung Myung serasa mendidih. Bunga Prem Putih Wangi—benda itu adalah salah satu dari dua pusaka suci Gunung Hua yang selevel dengan Pedang Dewa Fajar! Barang yang menampung esensi mutlak aliran mereka!

Dan orang-orang idiot ini menjualnya pada pedagang loak demi uang makan?!

"Kalian gila! Kalau mau jual sesuatu, jual saja ginjal kalian, bukan pusaka sekte, dasar bodoh!"

Emosi yang meledak, ditambah rasa lapar akut dan kelelahan ekstrem, akhirnya menyerang bagai palu godam. Pandangan Chung Myung menghitam.

Bayangan Kakak Jang Mun yang menjerit histeris berkelebat di benaknya sebelum tubuh kecil itu jatuh berdebum ke lantai kayu yang dingin.

Hancur. Gunung Hua sudah hancur lebur sampai ke akar-akarnya!

*Kakak Jaaaang Muuun!* ratapnya dalam hati, tepat sebelum kesadarannya terenggut sepenuhnya.

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026