Langsung ke konten utama
Back to Return of Mount Hua Sect Bahasa Indonesia

Chapter 014: Runtuh tak terelakkan, dasar bajingan (5)

Fajar baru saja menyingsing, cahayanya yang pucat mulai menerobos celah jendela asrama.

*Hm?*

Un Geom mengerang pelan, memaksa kelopak matanya yang berat untuk terbuka. Ia menatap cahaya redup itu dengan kening berkerut.

*"Dasar bocah-bocah nakal,"* batinnya kesal.

Di masa keemasan Gunung Hua, kedisiplinan adalah harga mati. Seorang murid wajib bangun sebelum matahari terbit, menyiapkan air hangat, dan berdiri di depan pintu gurunya untuk mengucapkan salam pagi.

Meski tradisi kuno itu kini mulai terkikis seiring kemunduran sekte, kebiasaan membangunkan guru asrama dan menyapanya tetaplah rutinitas wajib bagi para murid.

Namun pagi ini... sunyi senyap. Tidak ada satu pun ketukan di pintunya.

"Haaa... dasar bocah. Dibiarkan sedikit saja, langsung malas."

Un Geom bangkit dari ranjangnya. Fakta bahwa tidak ada yang datang membangunkannya berarti seluruh penghuni Asrama Bunga Persik Putih masih terlelap. Atau... mungkin ada alasan lain.

Langkah Un Geom mendadak terhenti. Ia teringat pada anak baru berpakaian compang-camping yang masuk kemarin.

*"Jangan-jangan... mereka berulah lagi?"*

Un Geom memijat pelipisnya. Ia tahu betul tabiat buruk anak-anak asuhan asramanya. Perpeloncoan sudah menjadi rahasia umum. Sebagai guru, instingnya mengatakan ia harus menghentikan tradisi konyol itu. Namun di sisi lain, ia diam-diam membiarkannya karena percaya bahwa tekanan fisik akan memperkuat ikatan persaudaraan mereka.

Jo Gul memang suka bertindak kelewatan, tapi ada Yoon Jong di sana. Pemuda itu biasanya bisa mengontrol keadaan agar tidak fatal.

Namun, absennya mereka pagi ini adalah pertanda buruk. Pasti terjadi sesuatu yang luar biasa kacau semalam.

Tanpa membuang waktu, Un Geom bergegas mengenakan jubahnya, mengikat pedang di pinggang, dan melangkah keluar menuju Asrama Bunga Persik Putih.

*"Aku harus menghukum mereka semua agar mereka jera,"* tekad Un Geom sambil mengambil langkah lebar.

Ia berbelok di tikungan terakhir menuju halaman asrama. Kata-kata teguran sudah berada di ujung lidahnya.

"Kalian semu—!"

Suara Un Geom tercekat di tenggorokan. Napasnya tertahan. Matanya terbelalak lebar menatap pemandangan di depannya.

*"A-apa-apaan ini?!"*

Ia mengucek matanya dengan kasar, tak percaya dengan apa yang ia lihat.

*"Apakah aku sedang bermimpi buruk? Apakah ini di neraka?"*

Pikiran absurd itu melintas cepat, namun udara pegunungan yang dingin menamparnya kembali ke realita. Ini bukan neraka. Ini halaman Asrama Bunga Persik Putih di Gunung Hua.

Tapi... pemandangan ini sungguh tak masuk akal!

"Ukh..."

"Ah... tolong aku... aku mau mati..."

"Ibu... aku mau pulang..."

Suara erangan penuh penderitaan dan rintihan putus asa menggema bagai paduan suara orang sekarat. Un Geom berdiri mematung, kehilangan kata-kata.

*"Apakah... apakah mereka benar-benar murid asuhanku?"*

Anak-anak yang ia kenal memang bodoh, sering membuatnya marah, dan jauh dari kata disiplin. Tapi mereka adalah remaja-remaja sehat dari keluarga berkecukupan. Mereka punya rona kehidupan di wajah mereka.

Tapi anak-anak di depannya ini?

Mereka tak ubahnya kumpulan mayat hidup! Wajah mereka pucat pasi, tubuh mereka berlumur tanah basah dan keringat busuk. Pedang kayu dan kantong pasir berserakan di mana-mana, mengelilingi tubuh mereka yang tergeletak lemah di tanah.

Ada batas logis yang bisa dicerna otak manusia. Menghadapi situasi ini, Un Geom menyerah. Ia butuh penjelasan langsung.

"APA YANG TERJADI DI SINI?!" bentak Un Geom, suaranya menggelegar memecah pagi.

Seketika, puluhan pasang mata sayu yang tadinya tampak seperti akan menjemput ajal itu... mendadak bersinar terang!

"PAMAN GURU!"

"PAMAN GURU UN GEOM!"

"OH, DEWA TELAH TURUN!"

Anak-anak itu menjerit histeris. Mereka menangis tersedu-sedu, merangkak mendekati Un Geom seolah pria itu adalah malaikat penyelamat dari surga.

Seumur hidupnya mengabdi sebagai instruktur yang keras, baru kali ini Un Geom disambut dengan antusiasme sebegitu gila.

"Paman Guru! Uhuk! Kenapa baru datang sekarang?!"

"Tolong kami, Paman! Aku rindu sekali padamu!"

Hati Un Geom berdesir aneh. Ada rasa bangga menyusup, melihat anak-anak yang biasanya bandel kini memujanya setengah mati.

Tapi ia cepat-cepat menepis perasaan itu.

*"Fokus, Un Geom! Ini bukan waktunya terharu!"*

Ia menatap iba pada murid-muridnya yang gemetar hebat, baju seragam mereka basah kuyup memeras keringat.

"Sekali lagi kutanya... APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!"

Anak-anak itu tiba-tiba bungkam. Wajah mereka yang tadinya penuh harap kembali dipenuhi teror. Mereka ragu-ragu menatap Un Geom, lalu perlahan... memutar kepala mereka ke arah belakang.

Un Geom mengikuti arah pandangan mereka.

Jo Gul? Bukan. Yoon Jong? Juga bukan.

Mata Un Geom memicing, mencoba mengenali sosok yang berdiri jauh di ujung lapangan.

*"Anak baru itu?!"* Un Geom terperanjat. Apa yang sedang dilakukan bocah bernama Chung Myung itu?!

Anak kurus kering itu sedang memanggul sebuah balok kayu tebal di pundaknya. Di kedua ujung balok itu, tergantung kantong-kantong besar yang terlihat sangat padat.

"Apa isi kantong itu?!" tanya Un Geom tanpa sadar.

"Itu... kantong batu dan kerikil, Guru," cicit salah satu murid dengan suara bergetar.

Meski sudah menduga, jawaban itu tetap membuat Un Geom merinding.

Itu sangat, sangat berat! Hanya para master veteran di puncak kejayaan mereka yang berlatih menggunakan beban sekeras itu!

*Ngek... Ngek...*

Tubuh kecil Chung Myung bergetar hebat. Kakinya gemetar tak karuan, nyaris patah menahan beban di pundaknya. Namun dengan keras kepala, ia berdiri tegak, mencari keseimbangan sejenak, lalu kembali melakukan gerakan *squat* perlahan ke bawah.

*Tes. Tes.* Keringat bercucuran deras dari dagu hingga ujung kakinya, membentuk genangan air di tanah.

Wajah bocah itu memerah seperti besi panas. Pembuluh darah di dahi dan lehernya menonjol mengerikan. Ekspresinya bukan lagi ekspresi manusia, melainkan iblis yang menolak tunduk pada kematian!

*"Bocah gila! Kau bisa mati, Nak!"* jerit Un Geom dalam hati.

Un Geom adalah instruktur bertangan besi. Ia percaya bahwa berlian hanya bisa tercipta dari batu bara yang ditempa tekanan ekstrem. Latihan keras adalah menu utamanya. Tapi melihat apa yang dilakukan Chung Myung... bahkan untuk ukuran standar gilanya Un Geom, itu sudah melampaui batas kewarasan!

Tunggu dulu.

Pikiran Un Geom kembali ke anak-anak yang terkapar di tanah.

*"Jangan bilang... anak-anak ini hancur lebur karena... mengikuti latihan anak baru itu?!"*

"Paman Guru! Tolong kami! Kami bisa mati kalau begini terus!" rengek Jo Gul, si jagoan asrama yang kini tak lebih dari kucing basah.

Baju mereka benar-benar basah kuyup.

"Sejak... sejak jam berapa kalian melakukan ini?" tanya Un Geom tak percaya.

"Sejak jam lima pagi..."

Itu artinya mereka sudah disiksa lebih dari satu jam tanpa henti!

"Kenapa kalian mau-maunya melakukan ini?!"

Keheningan kembali menyelimuti. Tak ada satu pun yang berani menjawab.

*"Kami akan dibunuh kalau berani bilang,"* begitulah raut wajah putus asa yang terpancar dari seluruh murid.

Pikiran Un Geom berputar liar. Mustahil! Ini sungguh tidak masuk akal! Bagaimana mungkin puluhan murid senior Gunung Hua—yang beberapa di antaranya sudah berlatih selama lima tahun—tunduk dan disiksa habis-habisan oleh seorang anak gembel kurang gizi yang baru datang kemarin sore?!

Un Geom mengedarkan pandangan mencari murid tertuanya.

*"Yoon Jong! Di mana Yoon Jong?!"*

Ia menemukan Yoon Jong tersungkur tak berdaya di sudut lapangan. Kondisi pemuda itu adalah yang paling menyedihkan. Yoon Jong tergeletak dengan wajah menempel penuh ke tanah, pinggulnya sedikit terangkat ke atas karena kram, dan air mata buaya mengalir deras dari sudut matanya. Jiwanya seakan sudah terbang meninggalkan raga.

Un Geom membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang keluar.

Sebagai instruktur, ia tentu mengajarkan latihan fisik. Tubuh adalah fondasi dari segala teknik pedang. Tapi latihan fisik seperti apa yang bisa menghancurkan puluhan murid senior hanya dalam waktu satu jam?!

Un Geom menyeka keringat dingin yang tiba-tiba mengalir di pelipisnya.

Anak-anak di tanah kembali menatapnya penuh harap. Mata mereka memohon keajaiban.

*"Tolong... jangan tatap aku seperti itu. Ini membuatku sangat malu,"* rintih Un Geom dalam hati. Ia sendiri tak tahu harus berbuat apa!

*Ehem!* Un Geom berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang hancur. Ia menatap lekat pada sosok iblis kecil yang masih terus mengangkat beban di ujung lapangan sana.

Satu hal yang pasti. Ia harus memahami situasinya sebelum bertindak gegabah.

"Bawa anak itu kemari!" perintah Un Geom tegas.

Nama Chung Myung kini terukir kuat di dalam otaknya. Sebuah nama yang tanpa Un Geom sadari... kelak akan menjadi nama paling krusial dalam sejarah hidupnya, dan sejarah seluruh dunia persilatan.

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026