Chapter 001: Menuju Ibukota Kekaisaran
Aku masih ingat kata-kata ibu waktu itu.
"Jadilah dukun."
Dua kata yang keluar begitu saja, seperti menyuruhku memilih baju untuk pesta. Padahal saat itu aku sedang serius menyusun masa depan. Dokter. Ilmuwan. Pengembang teknologi. Sesuatu yang punya jalur jelas, sesuatu yang bisa kuhitung dengan logika.
Tapi ibuku hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Para roh sudah mengelilingimu, Nak. Tidak ada jalan lain."
Aku ingin tertawa waktu itu.
Dukun? Jurusan Teologi? Setelah bertahun-tahun aku membangun fondasi sains di kepalaku?
Aku membanting pintu kamar. Menguncinya rapat-rapat. Di dalam sana, aku belajar lebih gila-gilaan. Setiap kali ibuku memaksaku menghafal puisi-puisi kuno, mantra-mantra aneh, atau ritual yang tidak masuk akal, aku membalasnya dengan buku fisika, kimia, kalkulus.
Semacam perlawanan diam-diam.
Sepuluh tahun berlalu.
Aku akhirnya menjadi anggota masyarakat yang berfungsi. Punya pekerjaan, punya rencana hidup. Dan kemudian—
Sebuah truk.
Aneh sekali rasanya. Tubuh yang remuk, lalu tiba-tiba... cahaya. Udara yang berbeda. Tangisan bayi. Tangan-tangan asing yang membungkus tubuh mungilku dengan kain lembut.
Aku hidup lagi.
Ibu di kehidupan sebelumnya ternyata tidak bohong. Sedikit pun tidak.
---
Stasiun itu diselimuti uap putih dari cerobong lokomotif. Suara besi berderit, katup melepaskan tekanan, dan penumpang mulai beringsut naik satu per satu. Aku menarik napas panjang. Udara musim dingin yang hampir habis mengisi paru-paru sampai ke dasarnya.
Langit pagi itu bersih. Tidak ada awan. Puncak-puncak gunung utara terlihat dari kejauhan, memutih diselimuti salju abadi.
Aku menyentuh wajahku sendiri.
Sarung tangan kulit bertemu permukaan yang bukan kulit.
Topengnya masih terpasang sempurna.
"Tiket, Tuan?"
Aku menyodorkan lembaran kecil dari saku dalam jasku.
"Terkonfirmasi. Tuan Gerard. Selamat menempuh perjalanan."
Anggukan singkat sudah cukup sebagai balasan.
Lorong kereta sempit, tapi tidak pengap. Dinding kayu gelap dengan nomor kamar berukir di setiap pintu. 401. 402. 403.
Di sinilah aku akan menghabiskan beberapa jam ke depan.
Aku membuka pintu. Aroma kayu tua menyambut, bercampur samar dengan minyak furnitur dan sesuatu yang metalik. Bukan bau yang tidak menyenangkan. Justru terasa kokoh. Kursi-kursinya empuk, dibagi berpasangan di kiri dan kanan ruangan. Rak bagasi di atas kepala. Bel pemanggil staf terpasang di dinding.
Aku duduk. Joknya menyerap berat badan dengan sempurna.
Di luar jendela, pegunungan utara membentang seperti raksasa bertopi putih.
Kereta mulai bergerak pelan.
---
Aku sendirian di kompartemen ini. Atau setidaknya itulah yang kuharapkan.
Pintu terbuka sebelum roda kereta sempat berputar sepuluh kali.
Seorang pria. Setelan rapi, mantel coklat panjang, postur tinggi. Usianya mungkin pertengahan dua puluhan. Bukan petugas kereta—bahannya terlalu mahal untuk seragam. Dia menatapku, lalu menyapa.
"Halo."
Aku mengangguk sekadarnya.
Sikap dingin. Biarkan dia mengira aku bukan tipe yang suka basa-basi.
Pria itu tidak tersinggung. Dia duduk di hadapanku, menyandarkan punggung, ikut menatap jendela.
Kereta melaju. Klakson panjang menggema di antara lembah.
---
Aku mengambil koran dari saku samping. Tidak ada ponsel. Tidak ada layar. Di dunia ini, hanya kertas dan tinta yang bisa membunuh waktu.
Halaman depan penuh dengan satu topik.
Perang Saudara Kerajaan Utah. Faksi Putri menang.
Aku membaca sekilas artikel itu. Foto hitam-putih para prajurit berdiri di depan istana yang separuh hancur. Beberapa bulan lalu, negara ini masih merekrut tentara bayaran dari seluruh penjuru benua. Sekarang semuanya sudah berakhir.
"Perang saudara di Utah ternyata selesai juga."
Suara dari seberang.
Aku menurunkan koran. Pria itu menatapku, kali ini sengaja memulai percakapan. Mengabaikannya dua kali akan terlalu mencurigakan.
"Cukup cepat," kataku. "Mengejutkan, mengingat Pangeran sudah mengumpulkan pasukan dari mana-mana."
"Tapi tetap ada korban."
"Oh, banyak." Dia mengangguk, lalu seperti baru sadar, menepuk dadanya sendiri. "Aku Rudger Chelici. Maaf, terlambat memperkenalkan diri."
"Aku Gerard."
Tanpa nama keluarga. Isyarat yang cukup jelas: aku rakyat biasa.
Tapi Rudger hanya mengangguk santai. "Tak perlu sungkan. Aku hanya bangsawan jatuh."
Aku mengangguk. Bangsawan tanpa kekuasaan, tanpa tanah. Status yang lebih mirip hiasan daripada senjata.
"Tujuan Tuan ke mana, kalau boleh tahu?"
"Lindebrugne. Ibu kota Kekaisaran. Ada urusan."
"Heh." Rudger menyunggingkan senyum tipis. "Kalau Tuan Gerard yang punya urusan di sana, pasti sesuatu yang besar."
Aku tertawa kecil. "Hanya kunjungan biasa."
"Itu juga menyenangkan. Kekaisaran Exilion terkenal dengan teknik sihirnya. Pasti banyak yang bisa dilihat."
"Kalau Tuan Rudger sendiri?"
"Leathervelk."
Kota pertama yang akan disinggahi kereta ini. Rumah bagi Akademi Sihir Sören.
"Kebetulan sekali," lanjutnya, sambil menggaruk pipi dengan agak canggung. "Aku baru saja ditunjuk sebagai guru di sana. Akademi Teologi."
Aku mengangkat alis.
"Guru?" Mataku menyapu penampilannya. "Di usia semuda ini?"
"Hanya keberuntungan." Rudger mengangkat kedua tangan, seolah menyerah pada pujian yang belum sempat kuucapkan. "Aku lolos dengan nilai pas-pasan. Sejujurnya, aku sendiri masih tidak percaya."
"Tapi tetap saja, lolos seleksi Akademi Sören itu bukan hal kecil."
"Terima kasih." Dia mengangguk, lalu beringsut maju sedikit. Suaranya menurun. "Oh iya. Soal perang saudara di Utah tadi. Tuan sudah dengar rumor yang beredar?"
"Apa?"
"Katanya, ada seseorang yang jadi penentu kemenangan Faksi Putri."
Aku meletakkan koran. "Siapa?"
"Ini yang aneh. Katanya dia bukan penyihir tingkat tinggi, bukan juga ksatria kerajaan." Rudger mencondongkan tubuhnya. "Cuma tentara bayaran pengembara."
"Hoo."
"Namanya Machiavelli."
Aku mengangguk perlahan. Tidak bereaksi lebih.
"Tuan tidak terkejut?"
"Hanya rumor," kataku, sambil melipat koran dan meletakkannya di pangkuan. "Rumor selalu melebih-lebihkan."
Rudger tersenyum tipis. Tidak membantah.
Aku membuang pandangan ke jendela. Bayanganku sendiri menatap balik dari kaca.
Tentu saja aku tidak terkejut.
Aku yang menciptakan rumor itu.