Chapter 015: Source Code (2)
"Akan saya pilih beberapa siswa yang serius mengikuti kelas ini. Mereka akan saya ajar Source Code."
Setelah kalimat itu, tidak ada lagi bantahan.
Delapan puluh pasang mata mengikuti setiap gerakanku. Tapi kini bukan dengan keraguan. Melainkan sesuatu yang lebih tajam. Keingintahuan. Antisipasi. Mungkin sedikit ketakutan. Aku menjelaskan teori dasar, mencampurnya dengan tips-tips praktis yang kuselipkan di sela-sela halaman buku teks. Suara kapur sesekali berderit di papan. Suara kertas dibalik. Suara bulu yang mencatat.
Lalu bel menara berdentang.
Kelas selesai.
Aku mengembuskan napas pelan—hanya di dalam hati. Secara luar, wajahku tetap rata seperti permukaan danau. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang menjebak. Satu kelas berhasil kulewati.
"Omong-omong." Aku meraih mantel di sandaran kursi. "Tidak ada pekerjaan rumah untuk hari pertama. Cukup tinjau ulang pelajaran tadi."
Wajah-wajah itu berubah cerah. Bahkan para genius yang berkumpul di Theon tetaplah siswa. Mendengar kata 'tidak ada PR' di hari pertama, mereka tersenyum seperti anak-anak yang baru saja lolos dari hukuman.
Itu disengaja. Guru yang memberikan pekerjaan rumah sejak hari pertama biasanya jadi sasaran keluhan sepanjang semester. Semakin sedikit gesekan, semakin sedikit perhatian tertuju padaku. Sebuah kalkulasi sederhana.
Kutinggalkan kelas dengan daftar nama di tangan.
Beberapa siswa masih menatap. Aku mengabaikannya. Untuk melanjutkan ke pertemuan berikutnya, aku butuh profil dasar mereka. Delapan puluh nama. Latar belakang. Afiliasi keluarga. Dan yang lebih penting—masalah perkumpulan rahasia itu tidak akan menyelesaikan dirinya sendiri.
Aku harus bergerak. Cepat.
---
'Ini... benar-benar Theon.'
Aidan menatap kosong ke papan tulis yang kini sudah terhapus separuh. Pria itu—Rudger Chelici—sudah melangkah keluar, tapi bayangan sosoknya masih tertinggal di retina.
Dia datang dari pedesaan. Rakyat jelata. Satu-satunya bekal yang dia punya hanyalah hasrat membara terhadap sihir. Dan sedikit keberuntungan yang meloloskan ujian masuk. Pagi ini dia melangkah ke kelas dengan semangat yang hampir naif.
Lalu pria itu muncul.
Berdiri di mimbar. Sendirian menghadapi delapan puluh siswa. Posturnya seperti prajurit yang sudah menghitung setiap kemungkinan serangan sebelum pedang tercabut. Dan yang terjadi setelahnya—demonstrasi Source Code—membuat darah Aidan mendidih.
Bukan karena panas.
Tapi karena sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan. Rasa kagum yang sama seperti pertama kali melihat sihir di desanya dulu. Waktu itu seorang penyihir pengembara menunjukkan trik api peringkat satu. Tekniknya berantakan. Mantranya kasar. Tapi Aidan kecil berdiri terpaku, matanya memantulkan kobaran kecil itu, dan sejak saat itu dia tahu: ini jalannya.
Hari ini, di ruang kelas Theon, dia merasakan hal yang sama. Tapi lebih besar. Jauh lebih besar.
"Tuan Rudger Chelici... luar biasa."
"Hah."
Suara itu menusuk dari samping. Pendek. Penuh cemoohan.
Aidan menoleh. Seorang siswa pirang duduk bersandar dengan tangan terlipat. Wajahnya tampan, tapi cara dia membelah rambut ke atas untuk memamerkan dahi membuatnya terlihat berminyak. Matanya menatap Aidan seolah sedang memandang kotoran di sol sepatu.
"Ah—kau bicara padaku?"
Ekspresi si pirang berkerut.
"Kau... mengejekku?"
"Tidak, tidak! Aku cuma—"
Tapi sudah terlambat. Pria di depannya sudah berdiri. "Kau berani mengabaikan putra pertama Baron Pellio?"
Aidan menelan ludah.
Baron Pellio. Bahkan dia tahu keluarga itu. Bangsawan rendahan. Tapi bangsawan tetaplah bangsawan. Sedangkan dia—hanya rakyat jelata dari desa. Kesalahan kecil bisa jadi masalah besar.
"Apa? Baron Pellio?" Suara baru muncul. Ringan. Nyaris malas. "Bukankah itu keluarga yang terletak di ujung Kekaisaran?"
Seorang anak laki-laki berambut biru muda melangkah mendekat. Leo. Aidan tidak mengenalnya.
"Kau siapa?" Jevan Pellio menyipitkan mata.
"Akademi Theon sekarang menerima anak sekecil ini?"
"Masih lebih baik daripada putra keluarga baron yang bokek."
Wajah Jevan memerah. "Kau...!"
"Pakai sihirmu di sini?" Leo menyeringai. "Silakan."
Jevan mengepal. Mana mulai berkumpul di telapak tangannya—lalu berhenti. Leo tidak bergerak. Hanya menatap. Tapi tatapan itu cukup. Jevan melirik ke sekeliling. Masih ada siswa lain yang tersisa. Beberapa dari mereka adalah bangsawan tinggi. Kalau dia membuat keributan di sini...
Satu detik. Dua.
Jevan mendesis, lalu berbalik dan melangkah keluar tanpa sepatah kata pun. Langkahnya keras. Pintu dibanting.
Aidan mengembuskan napas yang sejak tadi ditahan. "Terima kasih. Aku Aidan."
"Leo." Anak laki-laki berambut biru itu sudah setengah berbalik. "Tidak perlu berterima kasih. Aku cuma muak lihat orang yang menyebut diri bangsawan tapi tidak bisa menjaga diri."
"Kau... baik hati, ya?"
Leo menatapnya. Seolah Aidan baru saja mengatakan sesuatu yang absurd. "Apa yang kau dengar dari ucapanku tadi?"
"Aku ikut."
"Apa kau tahu aku ke mana?"
"Kelas berikutnya, kan?" Aidan menunjuk buku di tangan Leo. "Aku lihat bukunya. Sama."
Leo menghela napas panjang. "Terserah."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor. Aidan sibuk memasukkan buku ke tas. Leo meliriknya.
"Jangan terlalu mencolok."
"Ha?"
"Jangan terlihat seperti penduduk desa yang baru pertama kali belajar sihir. Ini Theon. Penuh dengan orang-orang hebat."
"Oh. Maaf."
"Dan kau harus tahu siapa saja yang harus dihindari."
"Siapa?"
Leo merendahkan suaranya. "Flora Lumos. Tahun kedua. Kudengar kepribadiannya buruk. Guru sebelumnya yang mengajar manifestasi tiba-tiba mundur—katanya karena dia. Hari ini dia sudah mencoba menekan Tuan Rudger."
Aidan teringat gadis yang maju ke mimbar tadi. Rambutnya. Tatapannya. "Dia yang tadi..."
"Ya. Hati-hati. Dia tidak akan menyerah begitu saja hanya karena kalah sekali."
"Siapa lagi?"
"Putri Ketiga. Erendira von Exilion. Juga tahun kedua. Jauhilah. Tidak ada gunanya bagi rakyat jelata seperti kita mendekat."
Aidan mengangguk. Teringat sosok di sudut kelas. Rambut emas seperti benang cahaya.
"Dan terakhir—Freuden Ulburg."
"Ulburg? Tiga adipati besar itu?"
"Putra tertua keluarga Ulburg. Dia memimpin faksi terbesar di tahun kedua. Faksi kelas atas. Hanya bangsawan." Leo menatap Aidan tajam. "Orang-orang seperti kita? Serangga di pinggir jalan. Jangan terlibat. Untungnya dia tidak mengambil kelas ini."
Aidan membayangkan anak laki-laki pirang yang tadi—Jevan. "Yang tadi... bagian dari faksi itu?"
"Kemungkinan besar."
Mereka berjalan dalam diam beberapa langkah.
"Masih ada lagi," kata Leo akhirnya. "Tapi nanti saja. Terlalu banyak untuk sekali jalan."
Aidan mengangguk. Lalu tersenyum lebar. "Makan siang bareng?"
Leo menatapnya lagi—tatapan aneh yang sama seperti tadi. "Kenapa harus aku?"
Tapi dia tidak menolak.
Mereka menghilang di ujung koridor. Tidak menyadari bahwa dari dalam kelas yang mulai kosong, sepasang mata masih mengikuti mereka.
---
Pintu laboratorium tidak berat. Tapi suaranya pelan, nyaris berbisik saat didorong.
Papan nama di sampingnya sudah bertuliskan: Rudger Chelici. Ruang pribadi guru baru. Ukurannya cukup besar. Meja kayu solid. Rak-rak buku yang masih setengah kosong. Sebuah jendela tinggi yang membiarkan cahaya sore masuk miring.
Aku melangkah masuk.
Dan langsung berhenti.
Seseorang sudah ada di dalam.
"Oh. Tuan Rudger." Wanita itu tersenyum. Tangannya terlipat di pangkuan. "Silakan masuk."
Kepala Sekolah.
Dia duduk di kursi tamu seperti baru saja minum teh sore yang tenang. Tapi aku tahu—tidak ada yang kebetulan di akademi ini. Terutama bukan wanita itu.