Langsung ke konten utama

Kapur sihir berhenti berderit.

Ruangan 80 siswa itu membeku dalam diam yang berbeda dari sebelumnya. Bukan diam karena takut. Diam karena otak mereka baru saja diseret ke tempat yang tidak pernah mereka datangi.

"Kode sumber," kataku lagi. Kali ini lebih pelan.

Beberapa siswa menarik napas. Yang lain belum. Terlalu sibuk mencerna.

*Ini kejutan buat mereka.* Pikiranku melompat mundur sejenak. Dunia ini belum punya komputer. Belum ada konsep perangkat keras, perangkat lunak, input, output. Abad ke-19 dengan sihir sebagai tulang punggung. Sains diremehkan. Penyihir terlalu bangga pada seleksi alam dan warisan darah.

Tapi aku punya ingatan dari Bumi.

Kode sumber adalah cetak biru. Masukkan nilai, hasil keluar seketika. Aku mencangkokkan logika itu ke dalam sihir. Bukan ciptaanku sepenuhnya—guruku yang membantu merampungkan komposisinya. Tapi idenya milikku. Cukup untuk kuajarkan tanpa rasa bersalah.

Di atas panggung, aku menggerakkan tangan. Papan sihir di belakangku mulai menyala. Garis-garis formula [Fluttering Flame] masih berpendar samar. Aku menunjuk satu simbol.

"Kode sumber bekerja seperti stempel. Kalian biasanya menulis mantra setahap demi setahap, seperti menyalin dokumen dengan tangan. Ini?" Jemariku mengetuk papan. "Ini cetakan. Satu kali tekan, jadi."

Mata para siswa semakin lebar.

Aku melanjutkan. "Perangkat kerasnya bisa tongkat, bisa tubuh kalian sendiri. Programnya adalah mantra. Datanya adalah mana. Dengan kode sumber, mantra kompleks bisa dicor hanya dengan menyuntikkan sedikit tenaga. Tingkat tiga ke bawah."

Seorang siswa tahun pertama di baris kedua mengangkat tangan setengah, lalu menurunkannya lagi. Terlalu takjub untuk bertanya.

Aku menyapu ruangan. "Kelemahannya: hanya bekerja untuk mantra tingkat tiga ke bawah. Di atas itu, overload. Dan menyusun kode sumbernya sendiri… rumit. Saya hampir botak membuatnya."

Tawa kecil pecah. Canggung. Terputus.

Tapi di mata mereka, sesuatu menyala.

* * *

Flora Lumos tidak ikut tertawa.

Dari podium—tempat dia berdiri beberapa menit lalu, sebelum kena tegur—dia menatap papan sihir. Kode sumber. Dia belum pernah mendengar istilah itu. Tidak dalam buku perpustakaan keluarganya yang seluas tiga lantai. Tidak dalam kuliah profesor tua yang sudah pensiun karena dia setahun lalu.

*Bagaimana mungkin?*

Dia melirik ke sekeliling. Para siswa tahun pertama mencondongkan tubuh ke depan. Beberapa seniornya menggigit ujung pulpen. Ekspresi mereka bukan sekadar kagum. Lapar.

*Mereka lapar.* Dan untuk pertama kalinya, Flora merasa lapar yang sama.

"Flora Lumos."

Suara itu menusuk.

Dia mendongak. Rudger menatapnya dari podium. Tatapannya bukan tatapan guru yang kesal karena diganggu. Lebih dingin. Lebih tenang. Seperti pisau bedah yang baru dikeluarkan dari laci.

"Metode untuk mempersingkat waktu casting. Pertanyaanmu sudah terjawab?"

"…Sudah."

Flora menjaga postur. Punggung lurus. Dagu sejajar lantai. Tidak ada yang boleh melihat guncangannya.

"Kau tidak bisa menahan diri sendiri, dan kau mengajukan pertanyaan tanpa izin." Rudger tidak berkedip. "Kau mengakuinya?"

Bibir Flora mengering. "Ya. Saya akui."

"Sepuluh poin penalti."

Ruang kelas berdesir. Seseorang menahan napas. Flora Lumos—jenius yang menjatuhkan dua guru—kena penalti. Angka yang kecil. Tapi di dahinya, angka itu terasa seperti cap besi.

"Ada keberatan?"

"Tidak." Suaranya nyaris putus di ujung. "Saya pikir itu masuk akal."

Kaki Flora melangkah turun dari podium. Ringan. Terkontrol. Tapi di dalam dadanya ada ruang yang baru saja retak. Bukan karena hukuman. Bukan karena dipermalukan di depan umum.

Tapi karena sesuatu dalam nada Rudger mengingatkannya pada ayahnya. Dingin. Lurus. Tidak membenci, tidak memuji. Hanya menilai.

* * *

"Flora Lumos."

Dia berhenti.

Belum sampai ke kursi. Satu tangan masih memegang ujung rok.

"Kau menerima sepuluh poin bonus."

Kepalanya menoleh. Rudger masih di podium. Tangannya menyentuh papan sihir, menghapus satu simbol dengan sapuan jari. Tidak melihat ke arahnya.

"Saya tidak membenci siswa berkemampuan. Sepuluh poin bonus."

Poin penalti dan bonus dalam satu tarikan napas. Beberapa siswa menghela lega. Beberapa yang lain berbisik. Flora tidak mendengar keduanya.

Dia mendengar kata *bonus* tapi yang terngiang adalah *penalti*. Bonus itu seperti salep yang dioleskan setelah luka dijahit. Lukanya tetap ada. Bekasnya tidak akan hilang.

"Terima kasih."

Dia duduk.

Cheryl mencondongkan tubuh. "Flora, kau—"

"Aku baik-baik saja."

Flora tersenyum. Sempurna. Tidak retak. Cheryl menghela napas dan kembali menghadap depan.

Tapi mata Flora tidak mengikuti. Di balik pupilnya, api kecil menyala. Bukan api amarah. Bukan dendam.

Kompetisi.

Untuk pertama kalinya, ada guru yang tidak bisa dia taklukkan dengan trik yang sama.

* * *

Aku memandang Flora dari sudut mata. Punggungnya lurus. Ekspresinya tenang. Terlalu tenang.

*Dia pintar,* pikirku. *Pasti sudah menyadari maksudku.*

Bonus itu kubuat sebagai jembatan. Isyarat rekonsiliasi agar dia tidak lari ke ayahnya dan mempersulit hidupku. Duke Lumos bukan nama yang ingin kudengar di meja administrasi.

Tapi reaksinya… Tidak seperti yang kuduga. Dia menerima bonus itu tanpa senyum kemenangan. Tanpa seringai puas.

Seperti seseorang yang baru saja diberi peta dan menyadari ada gunung yang belum didaki.

*Ah.*

Aku mengenali sorot itu.

*Dia bukan tipe yang mengadu ke ayahnya.*

Aku menyingkirkan pikiran itu. Tidak relevan sekarang. Di depanku ada 80 siswa. Enam puluh persen tahun pertama. Sisa tahun kedua. Semuanya menatapku seperti kucing yang baru sadar ada ikan di atas meja.

"Kalian lihat papan ini?" Aku mengetuk formula yang masih menyala. "[Fluttering Flame]. Tingkat tiga. Enam elemen. Pemanasan, pembakaran, kompresi, akselerasi, ekspansi, difusi. Saling melengkapi."

Beberapa siswa mulai mencatat. Yang lain masih terpaku.

"Dengan kode sumber, kalian bisa mencetak mantra ini dalam waktu sepertiga metode biasa. Tapi itu baru permulaan."

Aku mengeluarkan arloji saku dari mantel. Bukan untuk melihat jam. Hanya butuh sesuatu di tangan.

"Pertanyaan?"

Kali ini, 80 tangan terangkat serempak.

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026