Chapter 004: The Great Train Attack (2)
"Bergerak!"
Pintu gerbong didorong kasar. Sepatu bot menginjak karpet, penumpang terseret ke samping. Para penyihir mengambil posisi. Jubah mereka berkibar kena angin yang lolos dari kaca retak.
Lima orang.
Aku menyandarkan punggung ke dinding gerbong nomor empat. Di kakiku, satu tubuh terbujur—rekan mereka yang masuk dari ekor kereta. Lehernya patah.
Pemimpin mereka menatapku. Mulutnya tertutup rapat, tapi alisnya bergerak. Menghitung.
Lima penyihir. Satu lawan. Masuk akal.
Jahitan emas di kerah mantelku memantulkan cahaya. Rambut hitam yang kuikat di tengkuk basah oleh salju yang meleleh. Mereka ragu.
“Peringkat empat,” gumam salah satu dari mereka, melirik ke arah pemimpinnya—Mayhem. “Paling tinggi peringkat empat, seperti Boss.”
Mayhem tidak menjawab. Tangannya sudah setengah terangkat, siap merapal.
Aku melangkah mundur. Tumitku menginjak tepi puing kayu.
“Lima lawan satu.” Suaraku datar. “Berat.”
Jeda sedetik.
Lalu aku melempar tubuh ke samping.
Bukan ke arah mereka—ke luar. Melewati sekat gerbong yang rusak, mencium udara beku. Teriakan kaget meletus dari belakang.
“Dia lompat?!”
“Bunuh diri?”
Satu kepala muncul di atas sekat, melongok ke bawah. Jurang. Rel. Angin menderu.
Aku bergelantungan di dinding luar. Jari-jari mencengkeram lis logam yang basah. Satu ayunan—naik.
Atap kereta bergetar di bawah kakiku. Angin langsung menghantam pipi.
Di bawah, langkah mereka berderap. Ribut.
“Hanson! Ada apa?”
“Hilang?”
Aku menjentikkan jari.
Kilatan putih menembus tempurung kepala si penyihir yang masih melongok. Tubuh itu terhuyung ke depan, lalu lenyap ditelan jurang.
Hening sesaat.
“Hanson!”
“Dari mana—?”
“Atap! Dia di atap!”
Aku sudah bergerak. Berlari membungkuk di atas gerbong, atap logam bergemuruh di bawah sol sepatu. Satu tangan terulur, sihir merambat di ujung jari. Aku menembak ke arah tangga palka.
Percikan biru. Jerit.
Mereka yang mencoba naik terpaksa turun lagi.
*Dua,* batinku. *Satu sudah turun.*
Suara langkah kakiku sengaja kuperkeras. Aku ingin mereka dengar arahku—ke belakang. Menuju gerbong-gerbong ekor.
“Dia ke belakang!”
“Kejar!”
*Bagus.*
Aku melompati celah antar gerbong. Hawa dingin menyambar, tapi kepalaku panas karena perhitungan. Lima tadi. Tinggal empat. Terlalu emosional. Kematian satu rekan membuat mereka lumpuh fokus.
*Silakan. Makin marah, makin mudah.*
* * *
Pintu gerbong terbuka.
Tiga teroris menerobos masuk. Langkah pertama sudah salah—mereka tidak memeriksa ambang.
Lingkaran sihir meledak. Merah. Menjilat.
Lima tubuh berubah jadi arang sebelum sempat menjerit.
Asap mengepul dari karpet yang gosong. Bau daging terbakar menguar. Aku sudah tidak di sana.
Dari ujung lorong, Mayhem menatap mayat anak buahnya. Otot rahangnya bergerak.
“Jebakan di depan pintu… dalam waktu sesingkat ini?”
Suaranya parau.
Tangannya membentuk isyarat. Lambat. Hati-hati. “Mulai sekarang, jangan ada yang mendahului. Periksa setiap dinding. Setiap celah.”
Langkah mereka berubah. Bukan lagi pengejaran, tapi penyisiran. Pelan. Menyebalkan.
Persis seperti yang kumau.
* * *
Gemuruh.
Rangkaian besi berderak, lalu sambungan antar gerbong putus. Gerbong nomor dua belas tertinggal di belakang, mengecil ditelan badai salju.
Salah satu teroris meninju dinding. “Dia memutus rangkaian!”
“Kita kehilangan dia!”
Mereka berlari sekarang. Menyerbu ke hidung gerbong terakhir yang tersisa. Pintu dibuka paksa. Pemandangan di baliknya hanya rel kosong dan tebing putih.
Mayhem mengatupkan gigi.
“Dia kabur…?”
“Sial!”
Aku mengangkat tangan.
Bukan dari depan mereka—dari belakang. Persis di mulut gerbong sebelas, tempat mereka berkumpul semua. Energi sihir sudah selesai kususun selama mereka mengamati gerbong dua belas yang hampa.
Satu tarikan napas.
Badai api putih menyapu interior gerbong.
Teriakan tertelan bunyi ledakan. Kursi-kursi terbang. Jendela pecah serempak, serpihan kaca berhamburan ke malam. Tubuh-tubuh terbanting ke dinding, ke lantai, ke langit-langit.
Kemudian hening.
Kepulan asap berputar pelan.
Aku menurunkan tangan. Ujung mantel masih mengepak pelan.
*Selesai.*
* * *
Puing bergerak.
Sesosok tubuh bangkit dari antara kayu-kayu yang menyala. Wajahnya setengah meleleh. Satu lengan hilang. Tangan yang tersisa mencengkeram sandaran kursi yang sudah jadi arang.
Mayhem.
“Kenapa…” Suaranya seperti logam tergores. “Kenapa kau bunuh mereka?”
Aku memandangnya. Tidak menjawab.
“Mereka bekerja keras untuk dunia. Apa kau tidak merasa—”
“Kau serang kereta ini,” potongku. “Kau bunuh penumpang yang bahkan tidak bisa melawan.”
“Itu berbeda! Mereka hanya—”
“Jika aku tidak membunuhmu,” aku melangkah mendekat, “aku yang mati. Atau apa? Kalian boleh membunuh, tapi saat dibunuh, itu kejam?”
Mulutnya terbuka. Tidak ada suara.
Lalu bayangan melintas.
Pintu belakang yang terbuka lebar membingkai langit hitam dan badai salju. Suara logam menghunus—satu, dua, selusin—mengiris udara.
Mayhem menoleh. Terlambat.
Kilau putih membelahnya dari kepala ke selangkangan.
Tubuh itu terbelah dan jatuh ke dua sisi. Tidak ada darah. Sayatan membeku, kristal es menutup daging.
Di belakangnya, seorang ksatria mendarat ringan. Jubah putih berkibar. Tali bahunya bersulam elang perak.
“Anda baik-baik saja?”
Aku mengangguk.
Ksatria itu menyarungkan pedangnya setengah. Suara logam masuk ke sarungnya—*klik*—lembut, tapi memantul di sepanjang gerbong yang remuk.
“Kami urus sisanya.”