Langsung ke konten utama

Dokumen diletakkan di atas podium.

Tidak ada bunyi. Tangan kanannya menekan kertas tepat di sudut, merapikan tumpukan yang hampir tidak perlu dirapikan. Mantel rok hitamnya jatuh lurus mengikuti garis bahu. Topi disingkapkan—satu gerakan ringan—dan melayang ke gantungan di sudut ruangan. Gantungan itu bergetar sekejap, lalu diam.

Rambut hitam diikat di tengkuk. Rahang tajam. Mata yang tidak berpindah-pindah.

Kelas yang tadi berdengung sekarang menelan ludah serempak.

"Senang bertemu kalian."

Suara itu tidak keras. Tapi semua orang mendengarnya sampai ke tulang belikat.

"Nama saya Rudger Chelici. Guru baru kalian."

* * *

"Hari pertama. Saya tidak akan langsung mengajar."

Aku menggantung mantel rok di sandaran kursi podium. Jari-jariku menyentuh kayu, merasakan tekstur yang sudah aus di sudutnya.

Panggung. Mereka penonton. Naskahnya sudah ada di kepala. Aku hanya perlu mengikuti napas.

"Mata kuliah saya tercatat sebagai teori manifestasi. Tapi jangan harap kalian akan duduk mendengarkan definisi. Fokusnya di penerapan praktis. Di luar yang tertulis di buku teks."

Beberapa bahu bergerak. Dari baris ketiga, seorang siswa menggeser posisi duduknya. Dagu terangkat sedikit. Respons bagus.

"Kelas ini terbuka untuk tahun pertama juga."

Bahu-bahu itu berhenti bergerak.

"Kelas bersama. Tahun pertama dan kedua."

Riuh mulai menggelembung. Bisik-bisik pendek, saling lirik. Aku membiarkannya beberapa detik. Biar gelembungnya naik dulu.

"Berhenti."

Hening total.

"Aku paham kenapa kalian tidak suka. Tapi tenang. Saya tidak akan mengajarkan hal-hal dasar yang bahkan pemula sudah tahu."

Helaan napas lega bocor dari beberapa sudut. Yang lain masih mengatupkan bibir.

Aku memindai ruangan. Tiga puluh dua siswa. Beberapa memakai pin keluarga di kerah. Dua di antaranya memakai pin yang sama—marga Quelhen, kalau tidak salah. Mereka tidak duduk bersebelahan.

Pandanganku berhenti di rambut pirang bergelombang di baris depan. Gadis itu menatapku langsung. Tidak seperti yang lain, tatapannya tidak bergeser.

"Kenapa tahun pertama diizinkan ikut?" Suaranya tidak bergetar.

Aku mengenali wajah itu. Samar. Di suatu tempat sebelumnya.

"Karena mereka juga butuh kesempatan."

"Kesempatan?"

"Membatasi kelas pada jenjang tertentu bukan sikap pendidik." Aku mengistirahatkan satu tangan di tepi podium. "Pengajaran setara, tanpa memandang tingkat. Itu pendapat saya."

Gadis itu menyipitkan mata. Kerutan kecil di dahinya—tidak puas, tapi tidak cukup berani mendesak.

"Kenapa tidak sebut tahun ketiga?" tanyanya.

"Silakan datang. Tapi saya rasa mereka sudah terlalu sibuk dengan mata kuliah inti."

Aku membiarkan jeda sebelum melanjutkan.

"Tentu saja, ini berarti kelas saya tidak bergantung pada level."

"Sulit dimengerti kalau Tuan tidak menjelaskan isi kelasnya."

"Kalau penasaran, datang saja." Aku hampir tersenyum. "Tidak menyenangkan membocorkan lebih awal."

Kerutan di dahinya bertambah. Tapi dia tidak membalas. Aku sudah menduga itu. Tidak ada yang lebih mengganggu siswa akademi selain ketidakpastian.

Sekarang, peringatan.

"Satu hal."

Aku mengatur napas. Satu hitungan. Dua.

"Kalau ada yang mengambil kelas saya dengan pikiran bahwa saya guru baru dan kreditnya bisa didapat dengan mudah…"

Aku menatap lurus ke tengah ruangan. Bukan ke siapa-siapa. Ke semua orang.

"Pada saat itu, akan saya ukir di tulang mereka apa itu pendidikan yang sesungguhnya."

Keheningan yang berbeda kali ini. Bukan karena terpana—karena menghitung. Aku hampir bisa mendengar mereka berpikir: *Apa maksudnya? Seberapa sulit? Kenapa dia bicara seperti itu?*

Pintu keluar sudah kutanam. Ranjau darat yang dipasang terang-terangan. Kalau ada yang tetap masuk dan meledak, itu salah mereka sendiri.

"Ada pertanyaan?"

* * *

Tidak ada yang mengangkat tangan.

Bukan karena tidak ada pertanyaan. Aku bisa melihat pertanyaan-pertanyaan itu mengambang di atas kepala mereka: tugas seperti apa, kurikulumnya bagaimana, apa benar dia mantan militer, benarkah rumor peringkat empat.

Tapi tidak satu pun yang bersuara.

Para bangsawan yang tadi berbisik sekarang menghindari tatapanku. Bahkan gadis pirang di baris depan menutup mulutnya.

Aku mengulangi pertanyaannya. "Ada pertanyaan?"

Sunyi.

Udara di kelas terasa berlapis-lapis—ketegangan, penasaran, sedikit takut. Aku mengenali komposisi itu. Sama seperti ruang interogasi.

"Kalau begitu, orientasi selesai."

Mereka bangkit. Satu per satu, lalu berombongan. Sepatu berderit di lantai kayu. Aku tetap di podium, memperhatikan.

Tidak ada yang mendekat. Beberapa melirik dari sudut mata. Yang lain pura-pura membereskan tas terlalu lama. Tapi tidak ada yang bertanya soal umurku, atau apa aku punya pacar, atau hal klise lain yang kuduga akan muncul.

Anak-anak sekarang lebih waspada dari yang kukira.

Atau… terlalu waspada.

*Kalau begini, bisa repot.*

Aku sudah menyiapkan jawaban untuk berbagai pertanyaan semalam penuh. Tidak terpakai. Tapi keheningan ini bisa berarti dua hal: mereka menghormatiku, atau mereka mengabaikanku diam-diam.

Kalau yang kedua, kelas berikutnya akan jadi ajang pembangkangan senyap.

*Haruskah aku melunak?*

Tidak. Berubah sekarang malah mencurigakan. Aku sudah memerankan Rudger dengan nada ini sejak awal. Harus konsisten.

Lagipula, tiga minggu sudah cukup untuk menyebarkan reputasi.

* * *

Koridor siang.

Aku berjalan pelan. Sepatu kulitku tidak bersuara di lantai marmer. Matahari masuk dari jendela lengkung di sisi kiri, membentuk kotak-kotak cahaya di lantai.

Siswa yang berjalan dari arah berlawanan menyingkir.

Bukan minggir biasa. Mereka berhenti, menempel ke dinding atau jendela, menunggu sampai aku lewat. Laki-laki dan perempuan. Seragam mereka rapi, tapi ekspresi mereka sama: terkejut, lalu cepat-cepat memalingkan muka.

Ada yang membungkuk setengah.

*Ada apa ini?*

Mungkin kabar tentang guru baru yang "berbahaya" sudah tersebar. Theon pasti punya semacam forum internal. Atau rumor dari mulut ke mulut di asrama.

Hari pertama kerja, dan aku sudah punya reputasi.

"Tuan Rudger Chelici?"

Aku berhenti.

Wanita dengan rambut merah muda bergelombang di ujungnya berdiri dua langkah dariku. Tidak berseragam. Rok panjang warna krem, blus dengan kancing mutiara. Senyumnya seperti susu hangat.

"Saya Selina. Sama seperti Tuan Rudger—guru baru di Theon."

"Selina."

"Ya." Dia mengangguk, sedikit terlalu antusias. Jemarinya meremas ujung lengan blus. "Senang bertemu."

Aku mengangguk pendek. "Sama."

Hening beberapa detik. Dia menggeser berat badan dari satu kaki ke kaki yang lain.

"Itu…" Suaranya turun. "Apakah Tuan Rudger sudah makan?"

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026