Langsung ke konten utama

Gerard membolak-balik halaman koran. Suara kertasnya berderak pelan, mengisi jeda sebelum ia menjawab.

Pria di depannya ini—Rudger—baru saja menyebut nama Machiavelli.

Bukan nama sembarangan. Bukan nama yang muncul dalam obrolan ringan antarpenumpang kereta.

“Maksud Tuan apa?”

Tatapan Rudger kosong sesaat, lalu menyipit. Bukan sorot seseorang yang memasang jebakan. Lebih mirip anak kecil yang menemukan serangga langka di bawah batu. Penasaran. Tidak berbahaya. Tapi tetap saja, kewaspadaan Gerard belum sepenuhnya padam.

“Tuan guru Theon, ya…”

Akademi Theon. Namanya cukup besar untuk terdengar sampai ke luar negeri. Dan orang semuda ini mengajar di sana. Bukan gelar yang jatuh dari langit. Gerard menghela napas pendek. Untuk sekarang, anggap saja kebetulan.

Tangannya membalik koran lagi. Halaman baru. Lipatan baru.

“Kalau orang seperti itu benar ada,” katanya, “pasti sudah masuk koran.”

Rudger terkekeh. “Banyak hal yang tidak semudah itu dipublikasikan.”

“Tuan baru bertemu saya hari ini.”

“Memangnya kenapa? Saya rasa kita cukup akrab, Gerard.”

Keakraban yang terlalu cepat. Tapi Gerard tidak menolaknya. Dalam perjalanan panjang, teman bicara—entah yang tulus atau sekadar pengisi waktu—tidak ada ruginya.

Ia memasang nada bicara yang lebih ringan. “Sungguh suatu kehormatan. Guru terkenal Theon peduli pada orang tua macam saya.”

Rudger tidak mundur. Minatnya belum padam. Gerard memutuskan untuk ikut dalam permainan kecil ini.

“Begitu sampai di Theon, Tuan langsung mengajar?”

“Tidak langsung. Masih harus menunggu.”

“Tahun pertama?”

“Tahun kedua.”

Gerard mengangguk. “Biasanya guru baru ditempatkan di tahun pertama. Tuan lebih istimewa dari dugaan saya.”

Theon. Gerard menyusun potongan informasi itu di kepala. Akademi itu seperti kota kecil. Ribuan orang. Bangunan menjulang. Asrama. Lapangan latihan. Laboratorium sihir. Lima tingkatan kelas—semakin tinggi, semakin berbahaya isinya. Masuk akal kalau guru berpengalaman mengisi kelas atas. Tapi Rudger? Umurnya tidak mencerminkan posisinya.

*Bukan sembarang orang.*

Dunia ini memang aneh. Revolusi industri sudah menyentuh rel-rel kereta dan mesin-mesin pabrik—tapi sihir masih jadi nadi utamanya.

Gerard hanya mengenalnya lewat novel fantasi.

Di masa lalu, sihir milik para bangsawan. Darah biru. Sekarang? Zaman bergerak. Rakyat jelata yang punya bakat bisa mengejar tongkat dan mantra. Theon berdiri di puncak sistem itu. Siapa saja boleh masuk, asal mampu.

‘Seperti apa tempat itu?’

Gambarannya masih kabur. Sapu terbang. Tongkat sihir. Anak-anak membaca buku di lorong batu sambil setengah berlari. Dunia yang dulu cuma mimpi anak kecil di Bumi.

*Kemudaan, ya…*

Ayahnya meninggal terlalu cepat. Gerard ingat betul meja belajarnya dulu—buku-buku menumpuk, mata perih, tangan gemetar karena kopi terlalu kental. Bukan karena ambisi. Karena tidak ada pilihan.

Kehidupan keduanya tidak lebih ramah. Lebih gelap, malah. Alasan ia bersembunyi di balik nama palsu sekarang bukanlah cerita yang enak diceritakan sambil minum teh.

Dua puluh tujuh tahun di dunia ini. Darah mudanya sudah lama mengering. Akademi sihir, seragam rapi, pertemanan di bangku kelas—semua itu cerita dari planet lain. Begitu pula dengan pria bernama Rudger ini. Muda, jenius, berdiri di panggung bernama Theon. Gerard? Topengnya terlalu tebal untuk bisa berdiri di tempat terang.

Tapi Rudger juga bukan bangsawan utuh. Bangsawan jatuh. Itu yang Gerard tangkap dari gelagat dan potongan informasi. Status yang lebih menyakitkan dari rakyat jelata. Dibenci oleh kalangan sendiri. Diusir dari puncak, jatuh ke jurang. Entah karena utang, pemberontakan, atau sekadar kemarahan orang yang lebih tinggi.

Jadi pria itu pasti sudah merangkak. Jauh.

Bunyi asing menyentak telinga Gerard.

Bukan dari dalam kereta.

Ia memutar kepala ke arah jendela. Gerakan refleks. Bulu lengannya menegang. Ada yang bergeser di udara. Atau di rel.

“Apa itu?” Rudger mengerutkan dahi.

Gerard tidak menjawab. Panca inderanya meregang, menyapu getaran di logam dan kayu. Sesuatu mendekat. Cepat. Terarah.

“Sekarang—”

Ledakan.

Kereta meraung. Kabin terguncang. Logam menjerit. Gerard mencengkeram sandaran kursi, tubuhnya terlempar ke samping bersamaan dengan kemiringan kabin yang ekstrem. Bagasi kecil di atas kepala berjatuhan. Kaca bergetar di bingkainya.

“Mesinnya meledak?” Suara Rudger tertelan derit kereta.

Gerard menggeleng. Tidak. Ledakan satu mesin tidak akan membuat seluruh rangkaian oleng seperti ini. Pikirannya melompat cepat, menyusun ulang data: arah goncangan, pola suara, waktu.

Bunyi gedebam dari atap kereta.

Sepatu. Banyak sepatu.

Sesuatu bergerak di atas kepala mereka, langkah-langkah cepat dan terlatih. Dari gerbong depan, suara benturan kayu dan logam patah. Teriakan. Bukan teriakan kaget. Teriakan—

Kesadaran itu datang seperti sengatan dingin di belakang leher.

“Serangan,” bisik Gerard.

Rudger menoleh tajam. “Serangan terhadap kereta ini?”

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026