Chapter 011: Kelas Satu (1)
Selina muncul di ujung lorong dengan senyum setengah gugup, melambai kecil ke arahku.
"Tuan Rudger! Di sini!"
Musim semi, katanya. Mungkin ini memang musim semi untuk guru-guru baru. Aku mengikuti langkahnya menyusuri koridor batu yang dipoles mengkilap. Jubahnya berkibar ringan setiap kali ia menoleh untuk memastikan aku masih di belakang.
Aku masih di sini.
Ruang makan guru bukan sekadar kantin. Dinding kayu gelap dengan lampu kristal menggantung rendah. Meja panjang yang bisa memuat dua puluh orang. Tapi hari ini hanya tiga yang duduk di sana, menunggu.
Dua pria. Satu wanita.
"Akhirnya datang juga," suara berat tapi ramah menyambut. Pria pertama mengulurkan tangan. Telapaknya besar, hangat, mengguncang tanganku dengan antusiasme yang nyaris kekanakan. "Bryno. Saya yang mengajar pemanggilan golem."
"Rudger Chelici. Sistem manifestasi."
"Rudger..." Bryno mengulangi, seolah menimbang nama itu di lidah. Lalu terkekeh. "Nama yang kuat."
Wanita di sampingnya menatapku lewat rambut ungu panjang yang menutupi setengah wajah. Satu matanya berkilat. "Merylda," katanya, suaranya rendah tapi renyah. "Jimat dan halusinasi. Senang bertemu pria setampan ini."
Pujian yang terasa seperti pisau kecil. Atau mungkin aku saja yang terlalu curiga.
Aku mengangguk.
Lalu satu orang lagi. Pria dengan rambut biru tua, kacamata tanpa bingkai. Posturnya kaku seperti batang besi. Dia menatapku, lalu tanpa sepatah kata pun memalingkan muka.
Chris Benimore.
"Ningrat," bisik Merylda, bibirnya nyaris tidak bergerak. "Tidak suka bergaul dengan kami."
Ah.
Wajar. Seorang bangsawan, bahkan yang jatuh seperti identitasku ini, mungkin terlihat seperti kotoran di bawah sepatunya. Tapi aku bukan Rudger yang asli. Aku bukan bangsawan apa pun.
"Kau tidak akan mengabaikan kami karena kami rakyat jelata, kan?" Merylda menyelidik.
"Aku tidak peduli."
Matanya melebar sekejap, lalu menyusut dengan senyum tipis.
Chris mendengus. "Aku tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi. Guru-guru yang baru diangkat, selain aku, rakyat jelata dan bangsawan jatuh." Suaranya dingin, terukur.
Bryno tersenyum canggung. Selina menegang di sampingku. Merylda memutar bola matanya.
Aku?
Aku bahkan tidak menoleh.
"Kalau mau pergi, silakan."
Chris menatapku tajam. Bibirnya bergerak, menahan sesuatu—lalu ia berbalik dan melangkah keluar. Suara sepatunya bergema dan lenyap.
"Wah," Merylda bersiul pelan. "Kau benar-benar tidak takut, ya?"
Aku tidak menjawab.
Di kepalaku, pertanyaan lain berputar. Empat guru baru. Termasuk aku, lima. Siapa di antara mereka yang mungkin First Order lain? Atau setidaknya mata-mata yang ditanam organisasi itu?
Bryno? Terlalu ramah. Merylda? Terlalu santai. Selina? Terlalu gugup. Chris? Terlalu mencolok.
Atau justru sebaliknya.
Aku menyimpan semuanya di belakang tengkorak.
---
Selina menatap Rudger sepanjang jalan ke ruang makan.
Bukan menatap. Mengintip. Sekilas-sekilas, seperti burung kecil yang mengamati kucing dari dahan paling ujung. Dia tidak bisa menahan diri.
Ketika pertama kali melihat pria itu di koridor, kerumunan siswa terbelah seperti laut di hadapan tongkat Musa. Bukan karena takut. Tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat orang tanpa sadar memberi jalan.
Setelan abu-abu. Mantel rok hitam. Topi sutra. Dan langkah-langkah yang tidak tergesa-gesa.
Bangsawan jatuh? Tidak mungkin. Dibanding bangsawan mana pun yang pernah Selina temui, pria ini jauh lebih... megah. Bukan arogan. Megah. Setiap gerakannya seperti dikurasi oleh pelukis tak dikenal.
Jantungnya copot ketika Rudger berhenti dan berbalik.
"A-apa kau mau... makan siang bersama kami?"
Senyumnya pasti kacau. Suaranya bergetar.
Rudger mengangguk.
"Tentu."
Satu kata. Tapi cukup untuk membuat Selina hampir tersandung kakinya sendiri.
Saat makan, dia melihat Rudger memegang garpu dan pisau. Gerakannya presisi. Tidak ada suara logam bergesek piring. Tidak ada tetes saus yang jatuh. Siswa-siswa di meja lain melirik, berbisik, tapi pria itu seperti tidak mendengar apa pun.
Atau tidak peduli.
Chris melontarkan kata-kata pedas. Bryno tertawa canggung. Merylda mencemooh. Rudger? Ia hanya mengunyah makanannya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bukan dingin. Hanya... jauh.
Seperti berdiri di atas awan, melihat ke bawah tanpa menghakimi.
"Merylda," bisik Selina saat mereka berjalan pulang ke asrama guru. "Menurutmu... apa aku bisa seperti itu?"
Merylda menghentikan langkah. "Seperti apa?"
Selina menarik napas. Menegakkan bahu. Mengerutkan dahi. Menahan senyum. "Seperti... ini?"
Merylda menatapnya dua detik.
Lalu tertawa. Terbahak-bahak sampai bergema di koridor kosong.
"Kau meniru Tuan Rudger?!"
"A-aku tidak—"
"Sudah, sudah." Merylda menyeka sudut matanya. "Kau tahu, pria itu mantan perwira militer. Datang ke sini tanpa rekomendasi menara, tanpa dukungan keluarga, tanpa apa pun. Hanya dirinya sendiri." Ia menatap Selina. "Kita tidak perlu berpura-pura kuat. Kita juga guru di Theon. Dengan cara kita sendiri."
Selina mengangguk pelan. Tapi di kepalanya, bayangan Rudger masih berdiri di ujung koridor.
---
Tiga hari orientasi berlalu.
Siswa sibuk merevisi pilihan mata kuliah, membandingkan jadwal, bertukar rumor. Rumor tentangku, tepatnya.
Peringatan yang kuberikan tiga hari lalu seharusnya cukup. Aku menyebut kelas ini ladang ranjau. Sulit. Menantang. Tidak untuk yang lemah.
Pasti banyak yang mundur.
Aku berjalan menyusuri koridor dengan langkah ringan. Semakin sedikit siswa, semakin mudah tugasku. Minimal lima belas. Aku akan puas dengan tiga puluh. Cukup untuk mengajar tanpa menarik terlalu banyak perhatian.
Tangan mendorong pintu kelas.
Aku melangkah masuk.
Dan berhenti.
Kursi-kursi penuh. Dari baris depan sampai belakang. Bahkan di sudut-sudut, beberapa siswa berdiri karena kehabisan tempat duduk. Jumlahnya bukan tiga puluh. Bukan dua kali lipat. Ini kapasitas maksimum.
Delapan puluh.
Atau lebih.
Kepalaku kosong sepersekian detik.
Kenapa... sebanyak ini?