Langsung ke konten utama

Kunci kopernya kecil. Perak kusam.

Anak kunci itu berputar dengan bunyi klik yang nyaris tidak tertelan suara angin dari jendela. Aku membuka tutupnya pelan.

Baju ganti. Buku. Setumpuk dokumen yang diikat tali kulit.

“Hanya ini.”

Jemariku menyisir isinya. Buku teks dan tesis kupisahkan ke satu sisi, pakaian kulipat rapi di sisi lain. Di antara tumpukan kertas terselip novel populer, esai ilmuwan, surat-surat. Beberapa lembar dokumen identitas.

Jam saku. Pipa perunggu kecil—mungkin medium sihir. Dompet kulit yang agak lecet.

Satu per satu kuperiksa.

Rudger Chelici. Keturunan bangsawan Queoden. Kerajaan kecil di utara. Jatuh. Tanpa saudara. Orang tua sudah tiada.

Lumayan.

Gelar bangsawan nominal masih bisa jadi perisai. Tanpa keluarga, tidak ada yang akan mengenaliku dari dekat.

Riwayatnya membuat alisku terangkat. Dua belas makalah ke Mato. Penyihir peringkat empat termuda. Pernah jadi perwira militer. Tidak heran Theon menjemputnya langsung dengan kereta kuda golem.

Subjek yang akan dia ajar: manifestasi sihir, spesialisasi elemen. Fokus pada emisi mana dan elemen elemental. Praktik tempur.

Lalu surat-surat.

Aku menyebarkannya di atas selimut. Isinya dangkal. Percakapan formal: penugasan ke akademi, buku favorit, kejadian di suatu tempat. Tidak ada keluhan pribadi. Tidak ada candaan. Bahkan saat bertugas di militer, tak tampak tanda kedekatan.

Aku mengetuk-ngetuk kertas itu.

Tidak ada teman dekat. Atau… sengaja dijaga agar tetap seperti ini.

*Gugling.*

Perutku bergerak. Aku baru ingat belum makan apa pun sejak kereta. Hari ini kepalaku bekerja terlalu keras.

Koper kututup. Makan dulu.

* * *

Dua minggu berlalu dalam langkah-langkah kaki di atas batu.

Aku menyusuri setiap sudut Theon. Bangunan utama, taman, aula, jalan setapak di belakang perpustakaan. Peta di kepalaku bertambah detail setiap hari. Skala tempat ini gila—lebih besar dari kota kecil yang pernah kutinggali.

Sekarang aku duduk di bangku kafe terpencil. Cangkir kopi mengepul di tangan. Di seberang halaman, dua siswa terbang rendah dengan sapu. Boneka mekanik berjalan tertatih di belakang mereka. Tawa mereka nyaring.

Pemandangan yang diberkati. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya terbangun dengan nama palsu di lidah.

“Hmm.”

Dua mahasiswi melintas. Tatapan mereka singgah sebentar di wajahku, lalu saling berbisik.

Aku menyeruput kopi. Sisa hitam pahit di dasar cangkir. Orientasi dalam seminggu. Aku harus menyiapkan materi.

Cangkir hampir menyentuh meja ketika bayangan jatuh di sampingku.

Seorang wanita duduk di meja sebelah. Dia tidak menoleh. Suaranya hampir tak lebih keras dari desiran kain.

“Aku lega kau selamat.”

Jemariku berhenti di gagang cangkir.

“Dua minggu tanpa kabar. Kenapa kau tidak menghubungi?”

Dagu. Jangan menoleh langsung. Mataku bergerak ke samping tanpa menggerakkan kepala. Meja sekitar kosong. Hanya aku dan dia.

“……?”

“Anggota lain juga bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan First Order.”

*Anggota.*

*First Order.*

Kopi di mulutku mendadak lebih pahit.

Aku meletakkan cangkir. Posisinya sejajar dengan sendok. Satu gerakan kecil untuk mengulur waktu.

“Ada yang harus kuperiksa,” kataku. Suaraku rata.

“Serangan teroris itu? Cuma kecelakaan. Tidak ada yang tahu pemberontak akan menyerang kereta First Order.”

“Bukan itu. Informasi kasar tentang Theon.”

“Bukankah sebelumnya sudah dikirim?”

“Mendengar dan melihat berbeda.”

Dia mengangguk. Gerakan kecil, tapi aku bisa mencium aroma parfumnya—mawar dan sesuatu yang tajam di ujungnya, seperti besi.

“Kau sudah menyelesaikan tugasmu?”

Aku menunggu setengah detik. “Ya.”

“Pembunuhan anggota akademi sebelum masuk. Sebagian besar pengguna.”

Udara di paru-paruku membeku.

“Dan ada pengkhianat di organisasi. Sudah ditangani.”

“Caranya?”

“Tarik anggota badan. Giling. Masukkan ke mulutnya. Sisanya untuk anjing liar.” Suaranya tidak berubah. “Saya tidak melihat sendiri. Anggota lain yang cerita. Mati yang pantas.”

Cangkir kopi di tanganku dingin.

Pikiranku justru mendingin.

“Kenapa kau tiba-tiba datang sekarang.”

“First Order sudah di sini dua minggu, tapi—”

“Jadi kau memilih saat genting ini.”

*First Order.* Bukan Rudger. Gelar, bukan nama. Posisi tinggi.

Dia langsung menundukkan kepala. “Maafkan saya!”

“Diam.” Aku menurunkan suara. “Kau mau orang sekitar curiga?”

Wajahnya memucat. Bibirnya bergerak tanpa suara.

“Jangan bilang maaf lagi.”

“…….”

“Baik. Sudah waktunya cek. Berapa banyak anggota sekarang di sini?”

“Ah…?”

“Jumlah anggota.”

Dia mengedarkan pandangan. Cepat. Terlatih. “Tiga puluh satu dari Orde Ketiga. Tujuh dari Orde Kedua. First Order yang lain sudah lebih dulu masuk sesuai rencana.”

Tiga puluh delapan orang. Belum termasuk satu First Order lain. Cukup banyak untuk menanam akar di tempat seperti Theon.

Aku mengangguk pendek. “Tepat.”

Tatapan wanita itu padaku campuran: takut, kagum. Tidak ada kecurigaan. Bagus.

“Pemeriksaan selesai. Aku pergi.”

“Ah! Kalau perlu kontak, kau bisa datang ke tempat yang ditentukan….”

Tempat yang ditentukan.

Aku tidak tahu di mana itu. Dan bertanya langsung akan membukakan topengku.

Aku membiarkan hening satu detik. Lalu berbalik sedikit, cukup untuk membuatnya melihat sudut mataku.

“Kau menyuruhku datang?”

Kulitnya kehilangan warna. Tubuhnya bergetar.

“B-bukan itu maksudku…!”

“Aku tidak suka alasan.” Suaraku datar. Tidak perlu tinggi. “Kalau perlu pertemuan, aku yang tentukan tempatnya. Di sini. Begitu juga waktu. Mengerti?”

“Ya…”

“Aku hanya mengizinkan pergerakan jika First Order lain atau seseorang di atasku yang memanggil.”

“Di atas First Order?” Suaranya bergetar. “Zero Order?”

Jadi ada Orde Nol.

“Jangan ganggu aku dengan hal remeh selain perintahnya. Ini peringatan.”

Aku berdiri.

Satu langkah.

“Itu…” suaranya memanggil dari belakang.

Aku berhenti.

“Kalau kau panggil kami… apa yang harus kami lakukan?”

Aku tidak bisa menjawab. Karena aku tidak tahu.

“……Harus kukatakan dengan mulutku sendiri?”

“Oh, tidak!”

“Kali ini kulewatkan.”

Aku berjalan menjauh tanpa menoleh.

* * *

Pintu kamar kututup keras.

Langkahku langsung menuju lemari. Koper kusambar dari dalam. Tersebar di atas tempat tidur—surat-surat, dokumen, buku. Semua kuhamparkan lagi.

Dan kali ini aku melihatnya.

Karakter tertentu. Posisi kata. Pola di balik percakapan formal yang dulu hanya kusangka basa-basi.

Sandi.

Surat-surat itu berisi frasa kode. Bukan surat biasa.

Tanganku meraih dokumen identitas. Kubaca lagi.

Bangsawan jatuh. Tanpa keluarga. Dari kerajaan jauh.

Semua palsu.

Aku duduk di tepi tempat tidur. Kasur berderit pelan.

Rudger Chelici yang mati di kereta itu adalah anggota perkumpulan rahasia. Eksekutif berpangkat First Order. Tanaman di dalam Theon.

Dan sekarang topeng itu melekat di wajahku.

“Gila.”

Koper itu bukan lagi koper biasa.

Ia bom nuklir dengan sumbu yang sudah menyala.

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026