Chapter 003: The Great Train Attack (1)
Debu belum sepenuhnya turun.
Serpihan kayu dan kaca berderak di bawah sol sepatuku saat aku mendorong diri bangkit. Mantel yang kupakai menangkap sebagian besar pecahan. Tidak ada luka. Bahkan serpihan tajam tadi tidak mampu menembus anyaman benang sihir yang tertenun di kain ini.
"Setidaknya satu keputusan bagus hari ini."
Angin melesat masuk lewat dinding yang kini tinggal separuh. Dinginnya menggigit, menyayat permukaan kulit yang terbuka. Koridor kereta yang sebelumnya rapi dan hangat kini hanya puing memanjang, terbuka langsung ke lembah bersalju di bawah.
Itu tadi bukan rampok.
Seorang perampok tidak akan melilitkan bom di tubuhnya sendiri. Tidak akan memicu ledakan saat sihir menjepitnya. Tindakan itu murni fanatik. Menyeret musuh ke liang kubur bersama diri sendiri.
Sisa Faksi Pangeran dari Kerajaan Utah? Tidak mungkin. Mereka sedang berlindung, menjilat luka setelah perang saudara. Orang-orang ini berasal dari organisasi berbeda.
Jemariku menyentuh wajah. Kulit terasa kendur, tidak lagi menempel sempurna.
Sial.
Topeng itu rusak.
Aku melepasnya perlahan. Lapisan lateks sintetis dengan kerutan buatan dan janggut palsu yang kususun sendiri—benda itu kini tidak lebih dari sampah. Mahal, butuh waktu berminggu-minggu untuk membuatnya. Aku meremasnya sebentar, lalu melemparkannya ke luar kereta.
Angin langsung menelannya.
Kosong.
Tidak ada jejak Rudger. Pria yang tadi duduk di hadapanku, yang baru saja ditunjuk sebagai guru di Akademi Theon, lenyap bersama separuh dinding yang runtuh.
Aku menjulurkan kepala sedikit. Tebing menganga di bawah. Badai salju masih mengamuk, menutupi dasar jurang dengan kabut putih pekat. Tidak mungkin ada yang selamat dari jatuh setinggi itu.
Meninggal di hari pertama penugasannya.
Aku memejamkan mata sesaat. Bukan doa. Hanya jeda kecil untuk seorang asing yang kebetulan duduk di kursi seberang.
Lalu jeda selesai.
Orang-orang ini tidak main-main. Kalau mereka semua membawa bom seperti yang pertama tadi, kereta ini tidak akan sampai ke tujuan. Perlindungan sihir yang melapisi gerbong mungkin kuat, tapi bukan tak terbatas. Satu ledakan di titik yang tepat, dan seluruh rangkaian bisa keluar rel.
Itu mungkin memang rencana mereka.
Pintu di ujung lorong terbuka. Gerbong 5. Seorang kondektur muncul dengan wajah pucat, matanya membelalak melihat dinding yang menganga.
"Pe-pelanggan! Anda baik-baik saja? Apa yang—"
Dia tergagap.
Aku berdiri sendirian di tengah puing. Mungkin pemandangan itu cukup mengganggu.
"Perampok," kataku. "Bom. Hampir membuatku ikut terbang keluar."
"Saya... saya mengerti."
"Mereka menyasar Gerbong 1. Sebaiknya kita mundur ke belakang."
"Penumpang lain sudah dievakuasi ke gerbong belakang."
"Bagus."
Dia masih gemetar. Wajar. Tapi ada yang tidak beres.
Aku berjalan mendekat. Perlahan. Langkah-langkah kecil sampai jarak kami cukup untuk sebuah sapuan tangan.
Lalu kucengkeram kerah bajunya.
"Pe-pelanggan?!"
"Kau pikir akting segampang itu bisa menipuku?"
Matanya bergetar. Mulutnya terbuka setengah. Kebingungan yang dimainkan dengan cukup baik. Tapi bukan untuk seseorang yang menghabiskan tahun-tahun terakhirnya membaca gerakan mikro musuh.
"Satu hal yang menggangguku," lanjutku. "Kereta ini dilengkapi kristal sihir kelas tinggi. Mantra pertahanannya seharusnya mencegah siapa pun masuk tanpa izin. Terlebih di tengah Pegunungan Arete, dengan kecepatan penuh. Bagaimana mereka tahu persis kapan menyerang?"
"Aku—"
"Tidak mungkin tanpa orang dalam yang mematikan sistemnya."
Wajahnya berubah.
Tangannya meraih sesuatu di balik jaket. Cepat. Tapi aku lebih cepat. Ujung pisau sudah menempel di bawah dagunya sebelum jarinya sempat menyentuh apa pun.
"Diam."
Dia menegang. Napasnya pendek-pendek.
"Refleksmu bagus. Jadi kau bukan perampok amatir." Aku memiringkan pisau sedikit. "Organisasi mana?"
Bibirnya terkatup rapat.
Menarik.
"Tidak mau bicara? Baik."
Jujur saja, aku tidak terlalu penasaran. Yang lebih penting adalah Gerbong 5—tempat dia berasal. Kalau dia sudah di sini, mungkin sesuatu sudah terjadi di sana.
Kupelintir lengannya ke belakang. Dia meringis.
"Jalan."
Dua langkah. Tiga.
Suara itu muncul.
Samar. Hampir tertutup deru angin dan gemuruh roda. Tapi telingaku menangkapnya. Logam bertemu logam. Bunyi yang sangat kukenal.
Aku mendorong kondektur itu ke depan—
Dan menjatuhkan diri ke kursi.
Rentetan peluru menembus pintu. Serpihan kayu beterbangan. Kondektur yang tadi berdiri kini terhuyung, tubuhnya berlubang di tujuh titik, lalu roboh.
Aku menutupi kepala dengan tangan. Peluru masih berdesing di atas. Satu detik. Dua detik. Tiga.
Hening.
Mereka berhenti.
Senapan mesin ringan. Mereka mempersiapkan diri dengan sangat matang. Dan mereka tidak peduli soal membunuh rekan sendiri. Begitu sinyal tidak diterima dalam interval tertentu, tembakan dilepaskan. Tanpa peringatan.
Bom bunuh diri. Tim penembak tanpa ampun. Orang-orang ini benar-benar gila.
Apa salahku sampai harus naik kereta ini?
Aku menghela napas. Bangkit. Menepis serbuk kayu dari bahu.
Pintu yang sudah hancur itu kini didobrak. Tiga pria bertubuh besar menyerbu masuk ke lorong.
"Masih ada yang hidup?"
"Katanya tadi sudah dibereskan."
"Kau kenapa tidak bunuh diri saja biar aku tidak perlu dengar suaramu?"
Aku menatap mereka datar. "Percakapan kalian membosankan."
Mereka saling pandang.
Lalu melangkah mendekat.
Lorong ini hanya cukup untuk satu orang. Keuntungan? Aku hanya perlu menghadapi satu lawan dalam satu waktu. Kerugian? Mereka jauh lebih besar. Dan tidak ada ruang untuk bermanuver.
Menyerah sekarang juga bukan pilihan. Tatapan mereka sudah cukup memberitahu.
"Satu hal," kataku.
"Apa? Mau minta ampun?"
"Apakah misi kalian benar-benar sepadan dengan nyawa sendiri?" Aku menatap lekat pria paling depan. "Tim penyelamat akan tiba. Tidak lama."
Dia mendengus.
Pedangnya terhunus.
"Satu tebasan. Cukup."
Aku mundur perlahan. Punggungku hampir menyentuh ujung gerbong. Satu langkah lagi dan aku akan mengikuti Rudger ke dasar jurang.
"Tidak ada tempat lagi."
"Benar."
"Heh." Dia mengangkat pedang. "Aku sedang sibuk. Mari selesaikan cep—"
Aku melepas sihir yang sudah kusiapkan sejak tadi.
Ledakan udara menghantam tubuhnya. Pria itu terpental seperti karung pasir, menabrak dua rekannya di belakang. Mereka jatuh bertumpuk.
"Aduh— apa—"
"Penyihir?!"
Mereka masih bergerak. Mungkin mengenakan semacam pelindung di balik pakaian.
Aku menggambar rune di udara. Jari-jariku menari membentuk figur tiga dimensi, mengubah energi sihir menjadi hembusan angin raksasa. Satu. Dua. Angin itu mencengkeram mereka seperti tangan tak terlihat.
"Hei!"
"Lepaskan!"
"Sesuai permintaan."
Kugerakkan tangan. Angin mengangkat mereka melewati dinding yang terbuka.
Satu per satu.
Jeritan mereka memudar ditelan badai.
Aku mengeluarkan tali dari saku, mengikat rambutku yang kusut. Rambut panjang memang merepotkan di saat seperti ini. Seharusnya kupotong sebelum berangkat.
"Lebih baik."
Kupikir keributan sudah selesai.
Tapi pintu Gerbong 3 terbuka. Kali ini lebih banyak. Gerombolan baru muncul, menatap pemandangan di hadapan mereka—gerbong yang setengah hancur dan satu orang berdiri di antaranya.
Wajah mereka mengeras.
"Bunuh dia!"
Seseorang yang tampak seperti komandan memberi aba-aba. Senapan-senapan terarah padaku.
Aku nyaris menghela napas lagi. Tapi sudahlah. Kalau sudah begini, aku harus menyelesaikan semuanya.
"Tembak!"
Pelatuk ditarik.
Klik. Klik.
Tidak ada yang keluar.
"Apa?"
"Kenapa—"
"Senapannya macet!"
"Macet semua?"
Kebingungan melanda mereka. Aku sudah menyiapkan sihir berikutnya. Tapi kali ini aku melewatkan satu hal.
Penyihir.
Dia mengacungkan tongkatnya. Mantraku luruh di udara sebelum sempat terbentuk.
"Dia penyihir," katanya.
Aku diam.
"Tidak masalah. Dia tetap harus mati."
Omong kosong. Kalian memang dari awal ingin membunuhku.
Aku melirik arloji saku. Belum genap sepuluh menit sejak bom pertama meledak. Di luar jendela yang tersisa, puncak-puncak putih masih berlalu. Cantik, tadinya.
Sekarang hanya terlihat dingin dan mengancam.
Lima menit lagi. Mungkin itu waktu yang dibutuhkan bala bantuan untuk mencapai titik ini.
Lima menit.
Aku memasukkan arloji kembali ke saku.
"Aku tidak bisa menahan ini lebih cepat."