Langsung ke konten utama

Foto belum jadi barang umum di dunia ini. Yang beredar hanya cetakan hitam-putih, buram di bagian tepi, sering kali terlalu gelap di satu sisi. Membandingkan wajah lewat foto seperti itu sama saja menebak isi peti dari bayangannya. Pakaian, perawakan, perkiraan umur—itulah penanda yang dipakai orang.

Jadi, mereka salah. Wajar.

Maaf, Tuan Rudger.

Tapi aku tidak bisa ikut mati. Yang hidup harus terus bernapas. Dan status Rudger—guru muda Theon, penyihir peringkat empat, mantan perwira—adalah perisai yang terlalu kokoh untuk kusia-siakan.

"Sulit dipercaya," Veronica berkata, setengah pada dirinya sendiri. Suaranya melunak begitu kata *Theon* meluncur. "Tuan adalah guru di sana. Sihir yang kulihat tadi…"

Petugas yang tadi masih menatapku dengan alis setengah terangkat kini mengangguk penuh hormat.

"Maafkan kelancangan kami, Tuan. Situasinya memaksa."

"Aku mengerti."

Theon. Namanya saja sudah seperti kunci yang membuka semua palang. Akademi sihir terbaik di kekaisaran, bahkan di seluruh benua. Aku menyaksikan para penjaga dan polisi saling berbisik, menyebut nama itu dengan nada yang berbeda dari sebelumnya—lebih pelan, lebih hati-hati.

Aku memutuskan untuk lebih tebal muka. Mulai detik ini, aku adalah Rudger Chelici.

"Kami akan mengantar Tuan ke pintu keluar."

"Baik."

"Orang seperti Tuan akan mendidik masa depan kekaisaran. Kami tidak bisa membiarkan Tuan berjalan sendiri. Terlebih setelah membuang waktu Tuan."

*Justru bergerak dengan kalian itu yang merepotkan.*

Aku menelan kalimat itu bulat-bulat. Wajahku tetap rata. "Tidak masalah."

Veronica berdiri di antara kerumunan yang mulai terurai. Aku menoleh padanya.

"Nona Veronica. Singkat, tapi pertemuan yang menyenangkan."

Dia tersenyum dan mengangkat tangan. Rambutnya sedikit berantakan kena angin stasiun. "Sampai jumpa lagi, Tuan Rudger!"

"Ya."

Sayangnya, sepertinya tidak akan pernah.

* * *

Penjaga mengantarku menembus lautan mantel dan topi hingga ke mulut stasiun. Kerumunan masih gemuruh—orang berebut keluar, menyeret koper, memeluk sanak yang menunggu. Pintu keluarnya penuh.

Aku berhenti. "Sampai di sini saja. Saya bisa sendiri. Kalian sudah terlalu repot."

"Baik, Tuan!"

Si penjaga memberi hormat dan menghilang kembali ke dalam stasiun.

Aku membalas dengan anggukan kecil. Lalu menghela napas panjang. Serius, hampir saja kacau. Untung mereka salah sangka. Kalau tidak, identitas palsuku sudah terbongkar dan aku akan didakwa sebagai kaki tangan teroris.

Sekarang, yang penting menjauh dari sini.

"Tuan Rudger Chelici?"

Darahku mengental.

Aku menoleh. Pelan. Pria tua dengan postur kaku berdiri dua langkah di belakangku. Kapan dia muncul? Tidak ada langkah kaki. Tidak ada bayangan yang mendahului.

Aku mengendalikan tarikan napas. "Ya. Siapa?"

"Saya Wilford. Pengurus Akademi Theon. Saya datang menjemput Tuan."

"…Menjemput?"

"Kami mendengar kereta diserang. Saya bergegas untuk memastikan keadaan Tuan." Ia membuka pintu kereta di sampingnya. "Silakan masuk."

Mataku bergerak cepat. Hitung opsi. Kalau kubilang dia salah orang, pria ini sudah melihatku bersama petugas tadi. Menghilang juga bukan pilihan—kemunculannya saja tanpa jejak. Pengguna biasa tidak mungkin setenang itu.

Aku mengangguk.

* * *

Kereta itu meluncur tanpa suara.

Kursi beludru merah, pola benang emas di panel kayu. Tidak ada getaran. Laju kuda-kuda golem di depan—setengah mesin, setengah sihir—mulus seperti permukaan danau.

Aku menyender sebentar, tapi otakku tidak ikut beristirahat.

Identitas Gerard sudah hangus. Mati di atas rel, tertelan badai salju. Membangun identitas baru butuh waktu dan emas. Tanpa identitas, aku cuma imigran gelap. Bayangan. Bukan manusia.

Menghilang dari kereta ini? Wilford bukan pengawal biasa. Kalaupun berhasil lolos, laporan akan menyebar dalam hitungan jam. Jejakku akan ditarik dari stasiun, dari saksi, dari Veronica.

*Untuk sekarang, ikuti arus.*

Theon. Aku akan ke Theon. Memikirkan langkah selanjutnya di sana bukan ide yang buruk.

Kereta mulai melambat. Di balik jendela depan, Wilford bersuara.

"Tuan Rudger. Kita sampai."

Gerbang raksasa menjulang. Di luarnya, tanah membentang luas—jalan beraspal halus, pohon-pohon hijau berbaris rapi di kiri-kanan. Sinar matahari menyiram gedung-gedung batu putih yang berkilau seperti porselen.

Gerbang terbuka. Penjaga membungkuk.

Begitu melewati ambang, mataku menangkap ukiran-ukiran sihir yang bertumpuk di udara. Lingkaran demi lingkaran mantra saling tindih sampai bentuk aslinya tak terbaca. Satu sentuhan ke sistem itu dan penyusup akan jadi debu dalam dua detik.

Kendaraan berhenti di depan bangunan yang bukan gedung utama. Lebih menjulang. Siluetnya seperti mahkota.

"Ini tempatnya. Silakan turun."

Aku meraih tas.

Wilford menghentikanku. "Barang bawaan Tuan akan kami urus."

Aku meninggalkan tas itu. Mengikuti pria tua itu melewati air mancur dan deretan patung marmer. Begitu pintu samping terbuka, aku masuk ke dalam.

Cahaya dari jendela kaca patri membiaskan warna hangat ke lantai. Aroma samar—mungkin kayu tua, mungkin bunga kering—menggelitik hidung. Burung berkicau dari halaman dalam yang tak terlihat. Kalau Leathervelk adalah kota uap dan gemeretak mesin, tempat ini adalah halaman buku dongeng yang disobek langsung dari ilustrasinya.

– *Haha.*

– *Sayang, pelan-pelan.*

Siswa berseragam melintas di tangga. Beberapa melirik. Yang lain berbisik setelah aku lewat. Petani desa yang tersesat, mungkin itu kesan mereka.

Lift besar menunggu di ujung lorong.

Kami naik. Tiga puluh lantai. Pintu lift terbuka ke koridor berkarpet merah dengan satu pintu kayu di ujungnya.

"Presiden di dalam. Saya tunggu di sini."

"Terima kasih."

"Ini pekerjaan saya."

Aku menyeberangi koridor itu. Karpet menelan suara langkahku. Sampai di depan pintu, aku mengangkat tangan—

"Masuk."

Suara dari dalam. Lirih. Tapi menarik.

Aku membuka pintu.

Di balik meja, dengan jendela raksasa sebagai latar, seorang wanita duduk. Punggungnya sempat menghadap pintu, lalu kursinya berputar. Tangan kanannya menjatuhkan pulpen. Rambutnya tergerai—bagian luar putih bersih, bagian dalam merah muda lembut, menyala diterjang cahaya dari kaca patri di belakangnya.

Sepasang mata emas menatapku.

Aku merasakan sesuatu. Tidak bisa kunamai.

Kuhirup napas pendek.

"Saya Rudger Chelici. Presiden memanggil."

Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
Disclaimer: Konten di platform ini merupakan karya kreatif yang dikirimkan oleh kontributor. Seluruh hak atas materi asli tetap dimiliki oleh pemegang hak cipta masing-masing. Jika Anda yakin konten ini melanggar hak cipta Anda, lihat kebijakan DMCA kami.
DengeriNovel © 2026